Home / Warta Utama / Pawai Obor, Warisan Tahunan yang Terus Hidup di Pontianak

Pawai Obor, Warisan Tahunan yang Terus Hidup di Pontianak

Ratusan obor menyinari sepanjang jalan Ahmad Yani dimulai sejak setelah isya tepatnya pada pukul 20.00 WIB, Pontianak 16 Februari 2026 malam itu. Dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua turut berjalan bersama, membawa obor bambu yang menyala hangat seakan menyatukan langkah serta harapan untuk mengawali bulan Ramadhan kali ini. Pada malam itu, seakan-akan tidak ada bagian kosong di sisi jalan yang disusuri para rombongan pawai. Suasana dipenuhi dengan sukacita, canda tawa, dan kebersamaan yang begitu hangat. Orang-orang yang awalnya tidak mengenal satu sama lain pun tampak sedekat saudara di malam yang penuh kegembiraan ini.

Di tengah-tengah rombongan, terselip beberapa anggota dan kelompok-kelompok spesial, seperti kelompok Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibra), kelompok Drumband, kelompok Pencak Silat, bahkan grup ibu–ibu sosialita yang begitu kompak dengan pakaiannya yang berwarna cerah, menghiasi dan meramaikan suasana pawai obor yang megah dan meriah yang bertitik kumpul di Masjid Raya Mujahidin. Terdengar juga suara sholawat yang bergema di sepanjang jalan saat pawai obor berlangsung. Obor yang mereka pegang seakan memberi makna semangat, kebersamaan, dan antusias untuk menyambut bulan suci Ramadhan.

Diberi amanah untuk menjadi penanggung jawab pawai kali ini, Agus Setiyadi megatakan,“Dulu tidak pernah seramai ini, tahun ini adalah pawai paling ramai dari tahun-tahun sebelumnya,” sembari mengagumi jalan yang dihiasi oleh ribuan sinar obor.

Hal serupa dengan yang disampaikan oleh beberapa peserta pawai obor. Salah satunya adalah Asep Wira Yudha, pemuda yang turut meramaikan kegiatan pawai obor dalam 2 tahun inipun turut memberi kesan positif, “Hari ini sih rasanya lebih ramai. Lebih seru juga gitu,” dengan ekspresi senang setelah kembali dari rute pawai bersama dengan rombongan lainnya.

“Pawai obor tahun ini meriah banget, teratur dan lebih tertib juga,” ujar Santi, seorang mahasiswi yang antusias dalam mengikuti pawai obor tahun ini, yang dinilainya lebih meriah dan terkoordinir daripada pawai yang diselenggarakan di tahun sebelumnya.

Menurut Agus Setiyadi, selaku penanggung jawab kegiatan, pawai obor merupakan tradisi tahunan yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang dahulu setidaknya sudah ada sekitar setidaknya ratusan tahun yang lalu dan tetap dilaksanakan hingga sekarang. Penggunaan obor ini sebenarnya diawali oleh kebudayaan masyarakat terdahulu yang menggunakan obor sebagai sumber penerangan sebelum ditemukannya lampu pada zamannya. Namun, seiring berkembangnya waktu, orang-orang mulai menggunakan lampu dalam kegiatan sehari-hari mereka. Dan agar kebudayaan penggunaan obor tidak padam, pemerintah dan pihak terkait memutuskan untuk mengadakan pawai obor setiap setahun sekali dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dengan kearifan lokal khas nenek moyang ini.

Para peserta membawa obor masing-masing dengan variasi kayu dan bambu. Namun, bagi peserta yang tidak memiliki obor bisa menukar voucher untuk mendapatkan obor dari tenant yang telah ditentukan. Para peserta sudah berdatangan mulai sore hari setidaknya sekitar pukul 16.00 WIB di halaman Masjid Raya Mujahidin Kota Pontianak. Pawai obor mulai dilakukan pada pukul 20.00 WIB setelah sholat isya dengan rute awal Masjid Raya Mujahidin hingga ke Tugu Bambu Runcing diakhiri dengan kembali lagi ke Masjid Raya Mujahidin. Peserta yang mengikuti pawai ini berasal dari berbagai kalangan mulai dari anak kecil sampai orang tua, menandakan antusias yang sangat besar dari warga Pontianak. Pelaksanaannya juga bervariasi untuk setiap tahunnya.

Untuk tahun sebelumnya, pawai obor digelar selama 2 malam sementara untuk tahun ini pawai obor digelar selama 3 malam yaitu dimulai dengan lomba hadrah dan lomba karnaval kreasi obor pada tanggal 14 – 15 Februari 2026, lomba kendaraan hias pada tanggal 15 Februari 2026, dan pawai obor pada tanggal 16 Februari 2026. Persiapan kegiatan ini juga terbilang cepat karena hanya memiliki waktu 3 minggu sampai berjalannya kegiatan ini. Para panitia juga mengikutsertakan setidaknya 50 UMKM lokal untuk meramaikan bazar yang diadakan di Masjid Raya Mujahidin ini.

Dalam akhir wawancaranya, Agus Setiyadi juga berharap untuk menambahkan lomba yang lebih variatif. Beliau berencana untuk menambahkan lomba membuat miniatur masjid dan membuat video seputar pawai obor dan bulan suci Ramadhan. Hal ini direncanakan guna menarik perhatian masyarakat kalangan muda dan membantu mereka dalam mencurahkan kreativitas ke dalam bentuk karya seni dan komunikasi. Para peserta juga diharapkan bertambah antusiasnya dan terus meramaikan acara pawai seperti ini hingga tahun berikutnya dengan semangat yang lebih membara bersama dengan terangnya obor yang menghiasi jalanan.

Penulis : Sheila, Shelma

Loading

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *