Home / Warta Utama / Pemirama IAIN Pontianak Berlangsung Kondusif, Partisipasi Mahasiswa Masih Rendah

Pemirama IAIN Pontianak Berlangsung Kondusif, Partisipasi Mahasiswa Masih Rendah

Pesta demokrasi mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak kembali digelar pada 25 Mei 2026 melalui Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemirama). Tahun ini, persaingan dua pasangan calon presiden mahasiswa menjadi sorotan karena menghadirkan dinamika politik kampus yang dinilai lebih hidup, namun di sisi lain angka partisipasi mahasiswa justru menjadi perhatian serius.

Sejak masa kampanye hingga hari pencoblosan, atmosfer politik mahasiswa terasa cukup panas. Masing-masing pasangan calon dinilai memiliki strategi tersendiri untuk merebut suara mahasiswa. Hal itu disampaikan  oleh Abdullah, salah satu panitia Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS)  yang bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK).

“Pemirama tahun ini cukup seru. Dari awal memang sudah terasa dinamika antara paslon 01 dan 02. Mereka sama-sama memakai strategi masing-masing sampai akhirnya tiba di titik akhir pencoblosan hari ini,” ujarnya.

Meski suasana pemungutan suara berjalan aman dan lancar tanpa kendala berarti, rendahnya angka partisipasi mahasiswa menjadi sorotan utama. Berdasarkan data yang diterima panitia di TPS FTIK, jumlah mahasiswa yang memiliki hak pilih mencapai sekitar 2.000 orang. Namun, hingga proses berlangsung, jumlah mahasiswa yang datang mencoblos hanya berkisar ±300 orang.

“Kalau dibandingkan dengan jumlah keseluruhan mahasiswa, itu jauh sekali. Bahkan belum sampai setengahnya. Mahasiswa yang tidak memilih seakan-akan menyia-nyiakan hak pilih mereka sendiri,” tambahnya.

Fenomena Golongan Putih (Golput) ini juga mendapat tanggapan dari mahasiswa pemilih, yakni Muhammad Sulton. Menurutnya, Pemirama tahun ini justru termasuk salah satu yang paling kondusif dibanding tahun-tahun sebelumnya yang kerap dipenuhi konflik dan persoalan internal.

“Menurut saya Pemirama tahun ini lancar-lancar saja, tidak seperti tahun sebelumnya yang banyak chaos dan masalah. Tahun ini cukup baik,” katanya.

Namun, ia menilai rendahnya partisipasi mahasiswa kemungkinan dipengaruhi oleh waktu pelaksanaan yang kurang tepat. Menjelang Hari Raya Iduladha, banyak mahasiswa memilih pulang kampung lebih awal setelah aktivitas perkuliahan mulai diliburkan.

“Mungkin waktunya kurang tepat karena sudah dekat qurban. Banyak mahasiswa ambil libur lebih cepat dan pulang kampung. Harusnya mungkin dari minggu lalu dilaksanakan, bukan sekarang,” jelasnya.

Di tengah minimnya antusiasme sebagian mahasiswa, harapan tetap disampaikan agar siapapun yang terpilih nantinya mampu membawa perubahan nyata bagi kampus.

“Jangan hanya mendengar satu pihak saja. Mahasiswa harus bisa menyaring informasi, melihat mana yang benar dan mana yang salah sebelum memilih,” pesan panitia KPPS.

Sementara itu, Muhammad Sulton berharap presiden mahasiswa terpilih nantinya benar-benar mampu memberikan dampak positif bagi kampus.

“Siapapun yang terpilih, baik 01 ataupun 02, semoga bisa membawa perubahan yang bagus untuk IAIN,” tutupnya.

Pemirama bukan sekadar soal menang atau kalah. Lebih dari itu, pesta demokrasi mahasiswa menjadi cerminan sejauh mana mahasiswa peduli terhadap arah dan masa depan kampusnya sendiri.

Penulis : Yeni

Penyunting : Tim Penerbitan

Loading

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *