Selasa, Juni 25, 2024
BerandaBeritaMengembalikan Peradaban Sungai

Mengembalikan Peradaban Sungai

Sumber Foto : Gemawan

 

wartaiainpontianak.com – Kota Pontianak sebagai salah satu kota yang memiliki sungai terpanjang, namanya Sungai Kapuas. Jumat kemarin, Gemawan menghadirkan diskusi mengenai konsep pembaharu di Kota Pontianak bersama komunitas yang membuka ruang temu bagi siapapun untuk membicarakan isu utama di Kota Pontianak. (15/09).

Nani, sebagai Regional Director Ashoka Southeast Asia yang berawal dari Kalimamtan Barat ini mengalami cerita masa kecil di Kota Pontianak. Nani sempat merasakan air pasang dan masih merasakan situasi kota Pontianak yang rindang pohon.

“Dulu kalau air pasang selalu kita tunggu-tunggu buat berenang karena airnya bersih dulu tuh. Karena kan Pontianak ini sama dengan permukaan laut, jadi air pasang naik maka dia akan naik ke daratan. Dulu pun masih banyak pohon-pohon dan air pasang tidak terlalu tinggi. Pas masih saya kecil dulu tuh suka minum air embun sebelum pergi ke sekolah, ternayata kan air embun bagus untuk kesehatan tapi sekarang Pontianak bukan embun melainkan asap,” tambah Nani.

Teman-teman komunitas diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya mengenai sungai atau hal apapun untuk didiskusikan.
Daeng, dari komunitas Kolase.id menyampaikan bahwa ada hal yang garis bawahi dari diskusi.

“Sungai Kapuas tidak pernah membelah kota, sungai kapuas itu parit sungai jawi. Sepanjang peradaban sungai kapuas menyatukan peradaban sungai. Peradaban sungai sudah hilang. Sungai itu dinamis terus bergerak, ini kesalahan bersama yang harus kita antisipasi. Ayo kita lakukan gerakan untuk sungai” tegas Daeng.

Mahud dari komunitas preman urban menambahkan bahwa terkadang selesai merespon, daya kritis, keresapan isu, kurangnya respon akhirnya disikapi dengan hanya sebatas bansos dan lain-lain.

“Padahal sesungguhnya masyarakat tidak terkena dampak banjir lagi, asap, karena point pentingnya kita memperkuat kolaborasi sedangkan alat untuk menganalisis tidak ada, itu yang aku rasakan di komunitas.” tambah Mahud.

Zaka dari Kolektif emehdeyeh menuturkan bahwa bicara ruang gerak, seniman berada di tengah-tengah karena ini sebuah gerakan yang menyampaikan sebuah pemikiran yang kemudian berdampak pada lingkungan.

“Saya sendiri mengangkat persoalan ekologi seperti sampah, makanan. Saya bingung, bagaimana sih karena gerakan saya masih kecil karena masih hanya bicara lewat karya sebagai bentuk protes.” tutur Zaka.

Siti Rohimah dari Rumah Perempuan dan Anak (RPA) kalimantan Barat bercerira mengenai aplikasi lapor. Tahun 2019-2020 yang pada saat itu berkolaborasi dengn YAPPIKA, USAID, namaanya SPAN lapor. Dengan adanya aplikasi itu bisa di anonim untuk identitas lapor sehingga tidak ada keterbatasan atau ketakutan masyarakat yang melapor.

“Tahun itu masalah sampah lumayan teratasi, yang mengakses bisa langsung foto kemudian bisa dilihat oleh pemerintah setempat. Kita bisa membuat aplikasi jangka panjang,” tegas Siti.

Laili merespon bahwa kolaborasi membutuhkan banyak strategi. Semakin banyak strategi, keyakinan dan itu yang akan menjadi kekuatan. Pluralitas harus dijadikan karena belum tentu semua kebijakan akan sama dan cocok untuk satu wilayah.

“Menurut saya semua hal bisa dikaitkan, saya setuju bahwa kita harus memulai bahwa semua orang punya bakat dan kepedulian untuk diberikan,” ujar Laili.

“Gemawan sendiri, karena saya sudah lama brgerak di gerakan sosial ini saya melihat satu kesalahan kita bahwa semua masalah hanya kita yang bisa menyelesaikan. Kita seolah-olah menjadi sosok, sehingga kolaborasi dirasa tidak perlu, nyatanya kolaborasi perlu.”tegas Laili.

Nani membayangkan sungai sebagai sumber peradaban atau peradaban kota sungai, kepala saya membayangkan itu adalah fokus perubahan sistem yang dahsyat menjadi gerakan di Pontianak. Sebetulnya budaya berputar di sekitr sungai.

“Saya orang Ketapang, basis hidupnya di sungai yang membentuk karakter masyarakat. Fokusnya adalah mengembalikan sungai sebagai jantung kehidupan, pertama soal pendidikan yang memaknai apa sih sungai buat kita, “kata Nani.

“Pengelolaan sampah menjadi nilai ekonomi kemudian menjadi sebuah ekosistem yang menjadiklan sebuah gerakan. Ini membutuhkan manusia yang bergerak untuk membuka ruang kolaborasi, ini yang bisa menjadi satu pilihan karena nyatanya Indoneia mebutuhkan kampanye.”tutup Nani.

Akhir diskusi, teman-teman menuliskan diatas metaplane yang berisikan satu harapan untuk Kota Pontianak kemudian di tempel di papan tulis. Fasilitator kembali mengingatkan bahwa akan ada diskusi lanjutan sebagai komitmen bersama.

Penulis : Feby Kartikasari

Editor : Tim Redaksi Warta

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular

Recent Comments