Selasa, Mei 28, 2024
Beranda blog

Tolak RUU Penyiaran Koalisi Jurnalis Kalimantan Barat Bergerak Dan Bersuara

Sumber Foto : Jurnalis LPM Warta

 

wartaiainpontianak.com- Senin, 27 Mei 2024 Seruan Aksi yang dilakukan oleh para Masyarakat Sipil dan Aliansi Jurnalis Kalimantan Barat turun ke jalan dengan aksi penolakan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran Tahun 2024.

Taman Digulis, Universitas Tanjung Pura (UNTAN) Pontianak, menjadi lokasi para Masyarakat Sipil dan Aliansi Jurnalis Kalbar menyampaikan penolakan RUU.

Pada seruan aksi kali ini, Salah satunya Hamdan selaku Ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Pontianak menyatakan bahwa hari ini DPR begitu maraton membahas dan kabarnya ini dibulan September, RUU ini akan disahkan. Sekarang proses RUU ini sudah dalam proses amunisi pada legislasi dengan begitu cepat sementara banyak hal hak urgent luput dari konsentrasi perwakilan dari di DPR RI.

“Setidaknya ini momentum gerakan pasif antara teman teman mahasiswa Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dikampus terhadap jurnalis yang ada di Kalimantan Barat turut serta menyuarakan penolakan terhadap pengesahan RUU Penyiaran yang ada dibahas di DPR RI. Nah, momentum hari ini bagian dari gerakan – gerakan kecil yang akan kami lakukan terus menerus sebagai upaya untuk menegakkan demokrasi tetap berdiri di Indonesia khususnya di Kalimantan Barat,” Ungkap Hamdan.

Herman Hofi selaku pegiat hukum menegaskan bahwa untuk menghentikannya, masyarakat harus bekerja sama. Sebagai wakil rakyat, anggota DPR harus menghormati suara rakyat. Ia juga berharap anggota legislatif dari Kalimantan Barat, yang tidak memiliki anggota DPR RI, juga memberikan suara mereka untuk menolak rencana revisi ini di Senayan. Revisi ini sangat berbahaya dan merupakan jenis regresi demokrasi. Jika Undang-Undang Pers dibungkam oleh pihak tertentu, berbagai masalah di republik ini akan semakin parah.

“Republik ini harus bergerak bersama sama untuk bisa supaya rencana revisi undang-undang penyiaran ini dihentikan distopkan. Nah kita berat juga beranggota DPR sebagai wakik rakyat, sebagai corong rakyat. Suara rakyat harus bisa didengar oleh mereka. Di Kalimantan Barat tidak punya anggota DPR RI kita, kita berharap mereka juga bersuara di Senayan sana untuk menolak rencana revisi udang undang Pers ini. Ini sangat berbahaya sekali saya katakan sekali lagi bahwa ini suatu bentuk kemunduran demokrasi kita,” Ujar Herman.

Beliau juga menambahkan bahwa masalah – masalah di Indonesia akan makin parah dengan pengesahan RUU. Ia kecewa dengan bungkamnya Dewan Pers dan berharap dengan seluruh stakeholder yang ikut andil selain para wartawan, mahasiswa dan masyarakat harus ikut. Menganggap terlaksananya demokrasi hanya omong kosong belaka dengan pengesahan Undang – Undang tersebut, isu ini dianggap sebagai kecelakaan sejarah terbesar di Indonesia.

“Bisa saya pastikan berbagai macam persoalan Republik ini akan semakin parah ketika Undang – Undang Pers ini terbungkam seperti yang sedang direncanakan oleh pihak – pihak tertentu. Dan sekali lagi kita berharap seluruh stakeholder yang ada bukan hanya para wartawan tapi masyarakat mahasiswa. Ayo bersama – sama bergerak untuk menolak adanya rencana revisi terhadap Undang-undang Pers ini. Dan sangat menyedihkan sekali kenapa Dewan Pers sendiri diam, Dewan Pers sendiri bungkam. Kita khawatir bahwa ini justru akan digunakan untung kepentingan – kepentingan tertentu oleh pihak – pihak tertentu mencari keuntungan dalam rancangan untuk merevisi undang undang Pers ini. Jika begitu, saya berharap para kawan -kawan wartawan dan terus kita bergerak terus supaya undang undang pers ini dibatalkan ini merupakan bentuk kecelakaan sejarah di republik ini. Jadi omong kosong demokrasi bisa terlaksana kalau undang undang pers ini seperti yang kita saksikan sekarang ini. Omong kosong demokrasi kita bisa terlaksana dengan baik kalau revisi undang undang pers ini dilaksanakan jadi ini merupakan sebuah kecelakaan sejarah yang luar biasa di Republik kita,” Tutup Herman.

Penulis : Eka dan Adley

Penyunting : Aal

GEBYAR UKM Olahraga 2024 Resmi dibuka

Sumber Foto : Jurnalis LPM Warta

 

wartaiainpontianakcom- Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olahraga membuka kegiatan GEBYAR di Gedung Aula Abdul Rani Institut Agama Islam Negri (IAIN) Pontianak, Jum’at (17/05/2024).

Gebyar Olahraga merupakan agenda tahunan yang cukup bergengsi. Dalam kegiatan Gebyar Olahraga kali ini UKM Olahraga memperlombakan 3 cabang olahraga yaitu cabang futsal, voli, dan e-sport.

Fikri Indrayana, selaku Ketua panitia acara, menjelaskan bahwa persiapan yang dilakukan satu bulan sebelum acara adalah untuk menyiapkan proposal dan hal-hal yang diperlukan.

“Jadi untuk persiapan pelaksanaannya ini H-1 bulan sebelumnya untuk menyiapkan proposal dan semacamnya,” Ungkap Fikri.

Fikri Indrayana juga mencatat adanya kendala dalam pembukaan acara Gebyar Olahraga, khususnya terkait kurangnya SDM yang tersedia.

“Setiap kegiatan pasti ada masalah, masalah kami ini minimnya SDM itu yang sangat menonjol masalah nya dan masalah kegiatan lapangan juga lapangan voli itu yang menjadi masalah yang di tuntut sama peserta karna undur waktu untuk perenovasian lapangan,” Ujar Fikri.

Fikri juga menambahkan, bahwa jumlah peserta tahun ini melebihi target yang ditetapkan, yang menjadi kebanggaan bagi semua panitia. Selain itu, antusiasme peserta dalam lomba sangat tinggi, bahkan melebihi jumlah peserta tahun sebelumnya.

“Pada tahun ini, jumlah peserta melebihi target yang ditetapkan, dan hal ini menjadi kebanggaan bagi semua panitia, selain itu antusiasme peserta dalam lomba sangat tinggi bahkan melampaui jumlah peserta tahun sebelumnya,” Tambah Fikri.

Tujuan di adakannya Gebyar Olahraga ini sebagai bentuk promosi kampus IAIN Pontianak dan juga untuk mempromosikan UKM olahraga juga menjadi suatu kebanggaan untuk UKM Olahraga karena telah 9 tahun konsisten mengadakan Gebyar Olahraga ini.

Sarijal Padilah, selaku Ketua Umum UKM Olahraga mengatakan, Tujuan kegiatan gebyar olahraga adalah sebagai promosi untuk Kampus IAIN Pontianak dan UKM olahraga Kalimantan Barat serta sebagai ajang silaturahmi bagi atlet dari berbagai tingkatan sekolah dan mahasiswa. Selain itu, acara ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan bakat mereka.

“Tujuan dari kegiatan gebyar olahraga sebagai promosi kampus IAIN Pontianak dan juga UKM olahraga Se-Kalimantan Barat, serta sebagai ajang silaturahmi atlit baik tingkat SMP, SMA dan Mahasiswa, dan juga seluruh peserta dapat menunjukan bakat nya di kegiatan Gebyar Olahraga ini. Suatu kebanggaan untuk UKM Olahraga yang sudah konsisten selama 9 tahun melaksanakan Gebyar Olahraga dan selalu berinovasi setiap tahun nya,” Tutup Sarijal.

 

penulis: Alya
penyunting: tim redaksi

Ini Arti Lagu Lampu Merah” dari The Lantis Mengandung Metafora

Sumber Foto : heartcorner.net

 

wartaiainpontianak.com- Setelah penantian yang panjang, band indie lokal, The Lantis, merilis lagu terbaru mereka yang berjudul “Lampu Merah”. Lagu ini telah mendapat banyak perhatian dari para penggemar musik sejak perilisannya beberapa hari yang lalu.

Menyajikan paduan suara yang menawan dan melodi yang menghanyutkan, “Lampu Merah” berhasil menyentuh hati pendengarnya dengan lirik yang penuh makna. Dikombinasikan dengan aransemen musik yang ciamik, lagu ini telah mendapat apresiasi tinggi dari berbagai kalangan.

“Lampu Merah” adalah lagu yang menghadirkan makna mendalam tentang perasaan terjebak dan keputusasaan dalam menghadapi hambatan-hambatan dalam kehidupan. Lirik-liriknya mencerminkan perasaan seseorang yang merasa terjebak di tengah jalan hidup, dihadapkan pada keputusan sulit dan ketidakpastian. Lampu merah dalam lagu ini menjadi metafora bagi situasi-situasi di mana seseorang merasa terhenti atau terhambat dalam mencapai tujuannya.

Meskipun lirik-liriknya memperlihatkan ketegangan dan ketidakpastian, lagu ini juga membawa pesan tentang harapan dan keteguhan hati. Dengan melodi yang menghanyutkan, lagu ini mengajak pendengarnya untuk tetap bertahan dan melewati masa-masa sulit dengan keyakinan bahwa akan ada cahaya di ujung jalan.

Secara keseluruhan, “Lampu Merah” adalah lagu yang menggambarkan perjalanan emosional seseorang dalam menghadapi tantangan kehidupan, dan menginspirasi pendengarnya untuk tetap berjuang meskipun dihadapkan pada rintangan.

Para penggemar musik merasa terkesan dengan kedalaman emosional yang ditampilkan oleh The Lantis dalam lagu ini. Mereka memuji keberanian band ini dalam mengeksplorasi tema-tema yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, sambil tetap mempertahankan identitas musik mereka sendiri.

Dengan antusiasme yang tinggi dari para pendengar, “Lampu Merah” diprediksi akan menjadi salah satu lagu yang sangat diminati dalam waktu dekat ini. Para penggemar setia The Lantis juga menantikan karya-karya mendatang dari band yang penuh bakat ini.

 

Penulis : Zikri

Penyunting : Lutfi 

Sempat dikecam BEM SI dan FKBK Tetap Adakan Demonstrasi

0

Sumber Foto : Jurnalis LPM Warta

 

wartaiainpontianak.com- Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) dan Forum Koordinasi BEM Se-Kalimantan Barat (FKBK) menggelar aksi demonstrasi May Day dan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) yang diselenggarakan di Kantor Gubernur dan Bundaran Bambu Runcing, Selasa 7 Mei 2024.

Bulan Mei merupakan salah satu bulan yang penuh momentum, khususnya pada tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional dan 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Dua momentum besar itu dirayakan dengan mengingat jasa buruh dan pendidik terdahulu serta tak lupa diadakannya aksi demonstrasi untuk menyuarakan hak-hak buruh dan pendidikan yang tertindas.

BEM SI dan FKBK menggelar aksi May Day dan Hardiknas sebagai bentuk konkrit kepedulian mereka terhadap buruh dan Pendidikan di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat.

Agim Nastiar, selaku koordinator lapangan aksi mengungkap tidak ada kata terlambat untuk untuk melakukan aksi ini.

“Mengingat momentum hari buruh 1 mei kemarin dan hardiknas pada 2 mei kemarin ya memang pada prinsipnya kami melakukan aksi sudah terlambat, namun tetap melakukan aksi karena keterlambatan bukan sebuah halangan,” Ungkap Agim.

Tentunya, tuntutan-tuntutan tak lupa mereka sampaikan kepada Pemerintah Provinsi (PemProv) Kalimantan Barat (KalBar) dengan harapan Pemerintah mendengar dan memberikan solusi atas keresahan rakyat. Adapun tuntutan-tuntutannya, yakni:

1. Menuntut Pemda Kalbar untuk Meningkatkan dan memperhatikan hak dan kesejahteraan tenaga pendidik (honorer)
2. Tolak komersialisasi pendidikan di provinsi Kalimantan
3. Menuntut Pemda Kalbar untuk Wujudkan Pendidikan gratis, bermutu, demokratis dan berintegritas untuk masyarakat provinsi Kalimantan Barart sesuai UU Nomor 34 Nomor 2 Tahun 2003
4. Menuntut Pemda Kalbar untuk Pemerataan sarana dan prasarana belajar dan mengajar di Provinsi Kalimantan Barat
5. Menuntut Pemda Kalbar untuk mengHentikan kriminalisasi terhadap buruh
6. Bebaskan Mulyanto
7. Pengawalan Pemerintah Daerah provinsi Kalimantan Barat terhadap kesejahteraan buruh
8. Berantas kasus tindak pidana perdagangan manusia

BEM SI dan FKBK melakukan setting aksi di Kantor Gubernur sekitar 40 menit dan melakukan dialog terbuka dengan dinas Pendidikan dan kebudayaan. Dilanjutkan dengan aksi pembakaran ban di bundaran Bambu Runcing.

Agim juga menambahkan, bahwa ia sempat dikecam oleh pihak aparat kepolisian atas dilakukannya aksi tersebut.

“Pada akhirnya kita dibubarkan secara paksa bahkan saya diancam nanti kamu saya siksa, agim kamu akan saya jemput nanti, sempat dikecam saya sebagai koordinator lapangan aksi, ketika dibubarkan udah yang penting kami sudah melakukan aksi Long March dulu ke kantor gubernur, melakukan pembakaran ban dan memberikan kartu merah kepada Pemprov Kalbar , itusi goals dari kami , ketika kami sudah selesai rangkaian aksi kami dan dibubarkan kami harus selesaikanlah karena kami juga akan evaluasi lagi,” tutupnya.

Penulis : Aulia
Penyunting : Aal

KOMSAN Sukses Menyelenggarakan Pentas Seni dengan tema “Abis Raye Setan Nak Kemane”

KOMSAN Sukses menyelenggarakan pentas seni dengan tema “ Abis Raye Setan Nak Kemane”

wartaiainpontianak.com- Komunitas Santri (KOMSAN) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak kembali sukses menyelenggarakan pentas seni ilmiah dengan judul ” Abis Raye Setan Nak Kemane?” yang di laksanakan di gedung Aula Abdul Rani Mahmud IAIN Pontianak, Minggu (05/05/2024).

Pentas ini tidak hanya menampilkan drama theater akan tetapi juga menampilkan tarian- tarian sebagai pembuka acara guna memeriahkan panggung.

Pementasan kali ini dinilai sukses besar melihat antusiasme dari para penonton yang tidak hanya dari kalangan mahasiswa saja, akan tetapi juga dihadiri oleh anak-anak dan orang dewasa.

Ameisha Nadilah selaku ketua panitia mengaku cukup terkejut melihat partisipasi dan antusiasme dari masyarakat cukup besar.

“Itu tidak menyangka juga sih kak sampai seramai ini karena satu hari sampai 200 lebih penonton itu luar biasa untuk kita benar-benar melihat antusiasme penonton juga membuat kita senang juga,” Ungkap Ameisha.

Pentas seni yang merupakan sequel dari pentas seni ilmiah sebelumnya pada tahun 2023 yang di angkat dengan judul “4 Minggu Tak Dapat Raye” ini , diambil dari ide-ide kecil yang muncul spontan dari para tim produksi saat melaksanakan kegiatan halal bihalal bulan puasa lalu.

Selain itu kekompakan dari pemeran dan tim produksi terlihat sangat tinggi mengingat pembuatan naskah yang ternyata juga melibatkan para pemain dalam kepenulisannya.

“Jadi ada satu sunior nama nya bang santo dia cuman ngasi cerita nya saja , kami-kami para aktor yang mengembang kan nya lagi dan memberi dialog nya juga, ” Ucap yeye selaku salah satu pemeran.

Yeye berharap para penonton tidak bosan untuk selalu menyaksikan penampilan dari Komsan.

“Saya harap kawan-kawan bisa lebih semangat lagi untuk berkarya baik itu di seni apapun khusus nya di theater dan juga para penonton tidak bosan untuk menyaksikan komsan terus,” Tutup Yeye.

 

Penulis: oliv
Penyunting: Tim Redaksi

 

HUT KOMSAN IAIN Pontianak, adakan teater “Abis Raye Setan Nak Kemane”

 

 

Komunitas Santri (KOMSAN) IAIN Pontianak adakan Pementasan “Abis Raye Setan Nak Kemane” di Gedung Auditorium Abdur Rani Mahmud IAIN Pontianak, Minggu (05/05/2024).

Ketua panitia acara Ameisha nadilah mengatakan adanya acara tersebut dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Komunitas Santri (KOMSAN) yang ke-28.

“jadi untuk merayakan HUT KOMSAN kami membuat pementasan teater yang berjudul “Abis Raye Setan Nak Kemane” teater ini adalah lanjutan teater tahun lalu yang berjudul “Empat Minggu Tak Dapat Raye” jadi ini lanjutannya,” ujarnya.

Ameisha Nadilah juga menambahkan bahwa tema yang diambil berhubungan dengan momentum hari lebaran.

“karena habis lebarankan, jadi HUT nya KOMSAN juga berdekatan dengan hari lebaran habis puasa, nah karena setan ni kan di bulan puase Nye di kurong jadi lebaran Nye setan ni maok Kemane ni setan Nye, jadilah sebuah ide teater,” ujarnya.

Dwi sebagai salah satu penonton teater tersebut mengatakan bahwa pementasan yang di adakan KOMSAN tersebut sangatlah seru.

“untuk pementasan komsan tadi benar² seru, lucu, dan ndak ngebosanin penontonnya, Ndak monoton dan berjalan benar² kek tanpa skrip, segala properti same aksen figur yg mereka perankan juga beneran lucu. awalnya ngira itu tu bakalan horor eh ternyata ngelawak lucu sih,” ujarnya.

 

penulis: Asti
penyunting: Alfarizie

HALAL BIHALAL MEMPERKUAT PERSAUDARAAN LPM WARTA IAIN PONTIANAK

 

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak mengadakan Halal Bihalal antar jenjang pengurus, anggota, serta Pembina di Sekretariat LPM Warta, Sabtu 4 Mei 2024.

Pertemuan antar jajaran pengurus, anggota, serta Pembina LPM Warta dilaksanakan secara romantisasi kekeluargaan, Saling berbagi cerita dan pengalaman sesekali dibutuhkan dalam suatu Lembaga untuk mempererat hubungan kekeluaragaan antara satu dengan yang lain.

Pembina LPM Warta IAIN Pontianak, Muhammad Habibi, S.Sos.I., M.IKom membagi ceritanya asal muasal LPM itu hadir dan menaungi bakat-bakat seluruh mahasiswa terkait jurnalistik.

“Dulu memang aktif dalam membuat wajah tarbiyah, warta itu ya, tapi itu generasi awal terbentuknya warta IAIN lalu kemudian sekaraang udah tidak berjalan lagi, lalu kemudian setelah sekian lama muncul buletin syiar ini dulu dimunculkan di prodi KPI, pertama sebagai tempat untuk menaungi anak-anak yang konsentrasinya jurnalistik sebetulnya ini buletin syiar, karena dulu memang belum ada tempat untuk mengaplikasikan pengetahuan kejurnalistikan dibuatlah dulu bulletin syiar, hadir setelah warta itu sudah sama sekali tidak ada kabarnya begitu, nah ketika buletin syiar itu hadir kemudian secara organisasi itu ada tim redaksi ada sekretariat kemudian ada yang mengatur dana, selayaknya perusahaan pers gitu ya, itu pure waktu itu untuk praktek mata kuliah saja, nah setelah itu terbentuk kemudian tidak hanya teman-teman di KPI tetapi yang lain yang punya minat bergabung di buletin syiar, saya kira setelah itu ada muncul bagaimana jika ini tidak hanya memfasilitasi anak KPI, tetapi bisa memfasilitasi teman-teman yang ada di prodi lain yang punya minat, kemudian dari situ muncul wacana untuk bagaimana supaya ini dijadikan LPM gitu yang bisa menaungi minat seluruh teman yang ada di prodi yang punya minat kesitu” jelasnya.

Muhammad Habibi, S.Sos.I., M.IKom juga menambahkan bahwasanya jurnalistik akan senantiasa hidup di kalangan profesi dan Pendidikan.

” Jurnalistik itu tidak akan pernah mati termasuk di KPI, tidak akan pernah mati, hanya saja yang perlu ditingkatkan adalah pengembangan dari sector-sektor profesi yang itu dibutuhkan tenaga jurnalis” tambahnya.

Ketua Umum LPM Warta IAIN Pontianak, Hilma Adilla Putri turut membagikan harapan dan doanya untuk keberlangsungan hubungan persaudaraan dalam lembaga ini.

“Momentum ini untuk bersilaturahim, saling mendoakan, dan memperkuat persaudaraan kita sebagai sesama Anggota LPM Warta IAIN Pontianak, ingat kita disini keluarga, kita saudara udah jadi satu kewajiban untuk kita saling merangkul, mendoakan, memaafkan. Persatuan dan kesatuan kita adalah kekuatan untuk saling memberi dukungan demi tercapainya Organisasi yang baik di Lembaga kita sendiri” tutupnya.

 

penulis: Aulia
penyunting: Alfarizie

PERPPU Cipta Kerja Dari Kacamata Mahasiswa Sebagai Calon Pekerja

0
  • Ilustrasi Foto : Jurnalis LPM Warta

 

Hari Buruh Internasional yang diperingati setiap tanggal 1 May kembali mengingatkan pada kontroversial yang lahir beberapa tahun belakangan. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 tahun 2022 tentang Cipta Kerja yang dinyatakan inkonstusional bersyarat oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Setelah direvisi Undang-Undang (UU) Cipta Kerja kemudian ditetapkan menjadi UU No.6 Tahun 2023.

Kontroversi yang dituai dari UU Cipta Kerja (Ciptaker) No. 6 Tahun 2023 terbaru dinilai masih merugikan pihak buruh atau pekerja. Mulai dari perjanjian kerja waktu tertentu, pengupahan, perlindungan dari pemutusan hubungan kerja, kompensasi pesangon, dan Outsourching atau alih daya antar perusahaan yang memudahkan Tenaga Kerja Asing (TKA) untuk bekerja di Indonesia.

Ancha Makkawali, seorang Dosen Hukum Pidana di IAIN Pontianak menjelaskan bahwa memang benar adanya kecenderungan kebijakan Perppu Ciptaker yang merugikan buruh, namun disisi lain juga memberikan keuntungan.

”Undang undang Cipta Kerja memang ada beberapa pasal yang bisa kita lihat merugikan para buruh atau pekerja ketika melakukan hubungan kerja dengan pengusaha. Tetapi di satu sisi, di dalam ketentuan UU Cipta Kerja juga ada pasal yang memberikan keuntungan kepada pekerja. Jadi inilah dinamika sebenarnya yang memang terjadi di dalam ruang publik kita, yang harus memang juga menjadi atensi pemerintah untuk memperbaiki apa saja sebenarnya kembali untuk direvisi, ya diajukan kembali ke DPR untuk dilakukan revisi apa saja pesalnya ya ‘kan. yang memang masih tabu harusnya diperbaiki juga.” Ujar Ancha.

Sejumlah serikat buruh yang resah kembali memperjuangkan Pencabutan Perppu Cipta Kerja (Ciptaker) dalam aksi unjuk rasa di gedung DPRD Pontianak pada tanggal 2 Mei 2024. Tak hanya buruh, Polemik omnibuslow ternyata menimbulkan kekhwatiran pada Mahasiswa sebagai calon Pekerja yang akan terjun kedunia kerja.

Muhammad Syarif, Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Syariah (Dema Fasya) IAIN Pontianak menilai bahwa substansi dari PERPPU Cipta kerja belum layak disahkan kerena cenderung memberatkan Masyarakat Sipil. (Sabtu,04/05/2024)

“Kalau dari kacamata saya sebagai Mahasiswa, UU Perppu Cipta Kerja itu seharusnya belum disahkan. Kenapa saya berbicara demikian? Karena menurut saya, beberapa Pasal itu sangat merugikan pihak buruh. Pada dasarnya UU diciptakan itu untuk kesejahteraan rakyat. Jangan sampai UU itu diciptakan hanya untuk kepentingan dan keuntungan sebagian orang di Republik ini,” Ungkap Syarif.

Ia juga menilai salah satu pasal yang mengatur tentang Tenaga Kerja Asing (TKA) yang dikhawatirkan berpotensi mempersempit lapangan kerja yang ada di Indonesia.

“Salah satu pasal yang saya amati, ada beberapa poin yang memudahkan tenaga kerja asing masuk di Indonesia. Padahal lulusan di Indonesia per tahun itu banyak. Baik itu sarjana, diploma, ataupun SMA yang masih perlu untuk lapangan kerja. Tapi di satu sisi UU tersebut malah membebaskan atau memudahkan TKA untuk masuk di Indonesia. Itu salah satu di antaranya,” Ujar Syarif.

Syarif juga menyoroti kasus Mulyanto buruh PT Duta Palma Group di Kabupaten Bengkayang. Mulyanto ditangkap dan ditahan Polda Kalbar pasca aksi mogok kerja karyawan PT Duta Palma Group yang berakhir ricuh pada 23 Agustus 2023 lalu. Para buruh melakukan aksi demo dan mogok kerja lantaran perusahaan belum memenuhi tuntutan hak-hak mereka.

“Karena kebetulan saya juga sedang PKKHP, yang merupakan program dari Fakultas Syariah, beberapa kali saya melakukan pengamatan dan peninjauan terhadap kasus yang sedang bergulir sekarang, kalau penilaian saya kasus ini tuh kriminalisasi terhadap buruh. Pada dasarnya Mulyanto memperjuangkan hak-hak buruh. Yang sampai hari ini dikesampingkan oleh pihak pemerintah dan juga perusahaan. Maka dari itu, Mulyanto bersama teman-teman mereka, bersama aliansi buruh, Sambas dan Bengkayang, kemarin melakukan unjuk rasa, itu terkait mereka menuntut hak-hak mereka itu terpenuhi. Tetapi ada kriminalisasi yang terjadi kepada saudara Mulyanto,” Tambahnya.

Ia menghimbau agar mahasiswa memiliki kesadaran untuk lebih peduli dengan isu-isu HAM seperti kasus Mulyanto yang sedang diperjuangkan di Pengadilan Negeri Pontianak.

“Kasus ini harus kita kawal bersama, kita sebagai mahasiswa, karena kebetulan saya mahasiswa, kita harus peduli dengan kasus seperti ini. Kasus-kasus seperti ini, apalagi kita baru melewati May Day atau Hari Buruh Internasional, yang sampai mahasiswa itu apatis dengan isu-isu yang ada. Karena kita tidak menutup kemungkinan ketika kita ketika lulus, sudah menjadi bagian dari pekerja, tidak lagi menjadi mahasiswa, dan sudah selesai di perguruan tinggi, kita bakal menjadi pekerja ataupun buruh, dan mana-mana, kita harus perjuangkan hal ini,” Sambungnya.

Syarif menekankan perlu adanya pengkajian ulang terhadap substansi daripada PERPPU Ciptaker itu sendiri. Ia juga berharap Pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib buruh

“Saya sebagai Mahasiswa, karena kebetulan juga mahasiswa Fakultas Syariah yang dibidang hukum, saya harap UU ini dikaji kembali. Ya walaupun sudah disahkan, tapi saya harap UU ini dikaji kembali oleh pemerintah terutama DPR, karena DPR lah yang berhak mengesahkan undang-undang itu sendiri. Undang-undang ini tidak boleh merugikan pihak-pihak buruh dan juga tidak boleh merugikan pihak-pihak pekerja, dan UU harusnya hadir untuk membantu kemaslahatan rakyat dan juga kemaslahatan semua warga negara Indonesia. Jangan sampai UU itu sendiri lahir untuk kepentingan orang-orang birokrat atau orang-orang tertentu, oknum tertentu dan juga dari afiliasi tertentu, tapi UU itu sendiri lahir atas kepentingan rakyat dan juga khususnya kepentingan buruh, karena ini berkaitan dengan buruh.” Tutup Syarif

Penulis : Rolliny
Editor : Cici

WALHI Tegaskan Tolak PLTN Di Kalbar

WALHI bersama Mahasiswa IAIN Pontianak, Sumber foto: Andini / Jurnalis LPM Warta

Wartaiainpontianak- WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) mengadakan serangkaian diskusi mengenai penolakan terhadap adanya PLTN (Pembakit Listrik Tenaga Nuklir) di Kalbar (Kalimantan Barat) dengan tema “jika Indonesia (Kalbar) bukan Chenobyl, kita bisa buat apa? ” tepatnya di Jurung Institut Dayakologi, Jalan Budi Utomo, Kota Pontianak. Jum’at, (03/05/2024).

Manajer kampanye tata ruang dan insfrastruktur WALHI nasional Dwi Sawung mengungkapkan, bahaya nuklir sama sekali tidak terlihat, detektor zat radioaktif yang dapat menyebabkan penyakit kronis sperti kanker menurutnya sangat urgent untuk dihadirkan.

“Kalo kita bayangin bahaya, bahaya ledakannya itu gak kelihatan, Ketika terjadinya cat mobil yang pertama kali terdeteksi itu bukan arah sekitar kayak ledakan bom tapi mereka ada detektor, Mereka menetap ada zat radioaktif masuk, Ini ada atmosfer, Mereka tahu bukan ada ledakan mereka tahu ada alat detektor yang tidak kelihatan sebenarnya, Memang dia tidak kelihatan tapi secara radiasi mereka kemana-mana,” Jelas Dwi.

Dwi Sawung juga menambahkan bahwa bahwa alat detektor tersebut tidak dapat digunakan secara bebas sebab, alat tersebut tidak bisa di beli di pasar, sehingga akses untuk mendapatkan alat tersebut cukup sulit khususnya di Indonesia.

“Mereka bilang aman-aman karena kita tidak ada detektornya tidak bisa dideteksi kecuali kita punya alat untuk deteksi dan alat deteksinya itu sulit untuk dibeli dipasar gitu ya, Jadi tidak bisa beli dengan mudahnya apalagi di Indonesia,” Ucap Dwi.

 

Penulis: Andini
Penyunting: Alfarizie

Kolaborasi Kepemudaan Indonesia-Malaysia : Penyelenggaraan Gebyar Pelajar Islam

0

Sumber Foto : Jurnalis LPM Warta

 

wartaiainpontianak.com- PW PII (Pengurus Wilayah Pelajar Islam Internasional) menyelenggarakan Serasehan dengan tema “Menyoal Isu Pembangunan Sumber Daya Manusia Kawasan Asia Tenggara” yang diadakan di Aula Abdul Rani IAIN Pontianak pada Jum’at, 3 Mei 2024.

Kegiatan Gebyar Pelajar Islam Kalimantan Barat dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars PW PII, sambutan Ketua Umum PW PII dan, penyerahan bingkisan, pembacaan doa, sesi foto bersama.

Rezki Legianto A.Md. selaku Ketua Umum PW PII Kalimantan Barat menjelaskan bahwa seminar kolaborasi ini diselenggarakan sebagai salah satu momentum hari kebangkitan.

“Ini salah satu momentum kita untuk memeriahkan PII ke-77 jadi kami semua dari teman – teman PW dan Pengurus Daerah se-Kalimantan Barat sepakat untuk hari bangkit ini secara internasional dengan mengundang teman – teman pelajar di Malaysia,” Ujar Rezki.

Selain itu, dia menambahkan bahwa tenaga kerja berkualitas tinggi di Asia Tenggara memiliki bukti, kinerja, dan kontrol media.

“Berbicara tentang kualitas, kita punya validasi, prestasi, dan yang mempunyai media berkuasa,” Tambahnya.

Rezki juga berharap dengan adanya kegiatan ini, para hadirin dapat menginspirasi pelajar – pelajar yang ada di Kalimantan Barat agar bisa berpartisipasi dalam memotivasi diri dalam berprestasi.

“Harapan saya pribadi adalah semoga dengan adanya agenda ini, teman – teman bisa menginspirasi para pelajar di Kalimantan Barat khususnya agar bisa ikut dan mendorong teman – teman agar lebih berprestasi,” Ungkap Rezki.

Muhammad Zharif Azhar selaku perwakilan dari Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) berpendapat tentang SDM para pemuda di Asia Tenggara. Beliau memandang kepemudaan di kawasan tersebut sebagai pembangunan yang harus dibawa ke arah yang lebih baik baik.

“Jadi, saya melihat kepemudaan di Asia Tenggara seperti pembangunan yang harus ditingkatkan ke arah yang lebih baik,” Ucap Zharif.

Zharif menambahkan Indonesia maupun Malaysia dapat bekerja sama dengan negara seperti Thailand, Brunei, dan Filipina melalui organisasi Persatuan Pelajar Islam Asia Tenggara (PEPIAT). Pada 20 tahun ke depan, pelajar– pelajar Islam yang mewakili tiap negara pada tingkat kawasan akan diberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin di masa mendatang.

“Kita melihat bahwa baik di Malaysia maupun Indonesia dapat berkolaborasi dengan negara – negara seperti Thailand, Filipina, Brunei karena kita ada perwakilan Belia Islam lainnya untuk mewakili tiap negara pada tingkat kawasan. Saat ini mereka adalah pelajar, mungkin 20 tahun ke depan mereka – mereka ini lah uang akan diberikan kepercayaan untuk menjadi pengemudi pada arus ke depan,” Tambah Zharif.

Tyas sebagai peserta tertarik mengikuti agenda ini karena ada kerja sama tentang pembangunan SDM Asia Tenggara. Menurutnya, pemindahan ibukota yang semakin dekat dengan Malaysia untuk memudahkan kerja sama adalah topik yang menarik untuk dibahas.

“Saya tertarik mengikuti kegiatan ini karena adanya kolaborasi tentang pembangunan SDM yang ada di Asia tenggara dan topik yang paling menarik dalam pembahasan pemindahan ibukota Indonesia yang semakin dekat dengan Malaysia sehingga memudahkannya kerja sama antar negara,” Tutup Tyas.

 

Penulis : Adley dan Dede

Penyunting : Tim Redaksi