Home / Warta Pontianak / Isu Multikulturalisme : Gemawan Hadirkan Hildi Hamid Dalam Kegiatan Silaturahmi dan Halal Bi Halal

Isu Multikulturalisme : Gemawan Hadirkan Hildi Hamid Dalam Kegiatan Silaturahmi dan Halal Bi Halal

wartaiainpontianak.com Dalam rangka menjalin silaturahmi serta membuka berbagai pengetahuan multikulturalisme baik lokal sampai internasional, Gemawan mengadakan kegiatan diskusi dan halal bi halal BUMI (Bincang untuk masyarakat Indonesia).

Kegiatan yang di adakan di rumah gerakan perkumpulan Gemawan yang beralamatkan di jalan ujung pandang nomor 89, Kota Pontianak ini di hadiri salah satu tokoh besar Kalimantan Barat yaitu Hildi Hamid. Beliau yang dikenal dekat oleh warga Kayong Utara karena pernah menjabat sebagai Bupati dua periode tersebut saat ini telah di percayai oleh Menteri Dalam Negari (Mendagri) Republik Indonesia sebagai duta besar Indonesia untuk Ajerbaijan.

Selaras dengan harapan perkumpulan gemawan dengan mengangkat tema multikulturalisme ini, hadirnya Hildi Hamid yang berkisah serta menggambarkan bagaiman pola keberagaman yang terjadi di masyarakat Ajerbaizan, sebuah negara yang tepat berada di persimpangan eropa dan asia barat.

Hildi Hamid menjelaskan dalam sesi diskusi yang dimulai tepat pada pukul 14:00 wib tersebut bahwa faktor dari terciptanya keberagaman di tengah – tengah masyarakat dari negara yang menganut konsep sekulerisme tersebut ialah karena masyarakatnya sudah capek dengan pola jajahan yang selalu mengadu domba masalah keberagaman yang ada.

“Mereka capek dengan jajahan, mereka juga tidak terlalu ingin berlarut dengan hal-hal yang bersifat mengelompokan atau perbedaan yang terus-terus dipermasalahkan, dan justru itu bisa berdampak sangat serius terhadap persatuan sebuah negara sekelas Ajerbaizan” jelas beliau

Gemawan sendiri juga menyoroti secara serius isu yang berkaitan tentang keberagaman ini. ketika melihat keberagaman yang ada di Azerbaijan ternyata masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman dan persatuan itu sebagai sebuah identitas diri mereka.
Laili Khairnur Direktur Gemawan mengatakan kecintaan terhadap identitas diri yang tinggi adalah suatu hal yang menarik bagi negara yang dulu pernah menjadi bagian daripada sejarah uni soviet ini

“yang menarik bahwa aset based thinking, merupakan modal sosial yang mereka punya sebagian masyarakat Ajerbaizan yang berusaha merawat keberagaman tersebut, mereka juga memiliki tingkat kecintaan yang tinggi terhadap identitas diri mereka sendiri” ujar laili

Aktivis perempuan kelahiran sambas ini juga menambahkan bahwa sebenarnya Gemawan sendiri telah mengangkat isu-isu lama yang ada di dunia terutama isu terkait multikulturalisme ini sendiri, dan ini isu yang sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan Indonesia dalam merawat keberagaman yang ada.

“Kenapa bisa multikulturalisme yang kita angkat, karena bebesar hati dalam menerima perbedaan itu sangatlah suatu hal yang harus di hargai mahal, dan itulah Indonesia sejatinya, gemawan sebenarnya membawa isu-isu lama di dunia. saya pernah, ke Jerman, Belanda, Amerika, Ukraina, Nepal, dalam membawa gemawan ini, ini harus menjadi motivasi bagi anak-anak muda yang hadir dikegiatan hari ini” tambahnya

Riza Fahmi, M.S.I (Dosen IAIN Pontianak, pengamat multikulturalisme di Ajerbaizan) yang pada kesempatan ini juga menjadi pemateri daripada silatruhmi tersebut menjelaskan bahwa beliau sangat tertarik dengan isu multikulturalisme ini, hal itu karena berangkat dari kegelisahan beliau sebagai seorang muslim

“Berangkat dari kegelisahan saya sebagai seorang muslim, maka dari itu saya melakukan ide gila untuk coba meneliti tentang multikulturalisme di Ajerbaizan, Saya menemukan hal yang berbeda di Ajerbaizan dari 49 negara dengan mayoritas muslim,, mereka terlihat lebih ramah dan majemuk persis seperti orang Indonesia, walaupun kita melihat ada persimpangan budaya antar Eropa dan Asia di Ajerbaizan” jelasnya

Partisipasi dari anak-anak muda pada kegiatan ini cukup luar biasa, mulai dari tokoh pemuda yang berproses di OKP, organisasi pers kampus, dan organisasi-organisasi pergerakan lainnya yang ada di Kota Pontianak.
Bambang mengatakan bahwa ia cukup puas dan senang bisa mengikuti kegiatan seperti ini sebab banyak hal bisa kita pelajari terkait multikulturalisme yang ada di lingkungan sekitar.

“saya merasa sangat senang dengan adanya kegiatan seperti ini, selaku anak muda yang masih hangat-hangatnya berproses, pengetahuan seperti ini merupakan sebuah hal yang penting. Apalagi di beberapa tahun yang akan datang, nasib indonesia akan berada di tangan kami sebagai generasi penerus” jelas mahasiswa umur 23 tahun ini
Gemawan menutup kegiatan ini dengan foto bersama narasumber yang hadir di kegiatan yang berakhir sampai jam 17:00 wib tersebut.

Penulis: Agus Rianto
Editor: Tim Redaksi

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *