Wartaiainpontianak.com Berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 1 Tahun 2025 terkait efisiensi, Ma’had Al-Jamiah Institus Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menerapkan sistem penjadwalan dalam penggunaan listrik dan air.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan efisiensi dapat berjalan dengan lancar. Para mahasantri hanya diperbolehkan menggunakan listrik dan air pada pagi dan sore hari.
Selain itu, penggunaan lampu juga dijadwalkan dengan ketat. Lampu sebagai penerangan hanya dinyalakan mulai pukul 17.00 – 07.00, sementara pada siang hari, dari pukul 07.00 hingga 17.00 dimatikan.
Penggunaan Air Conditioner (AC),kipas angin dan fasilitas elektronik juga dibatasi. Sehingga untuk mengisi baterai handphone atau laptop, mahasantri harus melakukannya di kelas, pelataran Ma’had atau pada malam hari.
Muh. Gito Saroso selaku Mudir Ma’had Al-Jamiah menyebutkan bahwa, kebijakan efisiensi ini menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak pengelola Ma’had Al-Jamiah terutama mahasantri. Ia sempat mengusulkan kepada pimpinan agar mahasantri yang rumahnya disekitar kampus atau berdomisili di Pontianak diperbolehkan pulang.
“Memang pernah kita wacanakan kalau bagaimana jika mahasantri yang tinggal di sekitar kampus atau di kota pontianak atau yang mereka bisa pulang pergi,”pungkasnya.
Namun, Rektor menegaskan bahwa mahasantri tetap harus tinggal di Ma’had dengan kontrol ketat terhadap penggunaan listrik dan air. Mengingat banyaknya keterlambatan datang sangat tinggi terutama saat musim hujan dan bulan ramadhan seperti sekarang.
“Ternyata kalau mereka tidak tinggal di ma’had, keterlambatan semakin tinggi. Apalagi ketika habis sahur dan datang ke taklim banyak yang terlambat. Makanya intruksi Pak Rektor itu tetap di Ma’had yaitu tetap dengan pengetatan penggunaan listrik,” ujarnya
Dampak dari efisiensi tersebut membuat Ma’had Al-jami’ah mengubah sistem pembelajaran menjadi daring setelah libur kuliah.
“Jadi awalnya kegiatan taklim mau online tapi mengingat masih banyak mahasiswa yang offline , jadi kalau mau di online kan percuma dan malah menggunakan fasilitas yang ada , akhirnya tetap offline kecuali nanti setelah libur mungkin online,’’ Ucapnya.
Selain itu, untuk mengurangi penggunaan listrik, beberapa kegiatan rutin Ma’had juga mengalami perubahan jadwal. Kegiatan Baca Tulis Qur’an (BTQ) kini dilakukan secara online atau offline pada pada jam-jam kuliah. Sedangkan kajian Taklimul Afkar , yang sebelumnya dilaksanakan pada malam hari, dipindah ke pagi hari setelah salat subuh, yakni pukul 05.30–06.30 agar tidak memerlukan penerangan tambahan
Gito berharap kebijakan efisiensi ini dapat berjalan dengan baik. Bulan ini dijadikan sebagai tolak ukur untuk menilai efektivitas penghematan listrik dan air. Jika hasilnya signifikan, kebijakan ini kemungkinan akan berlanjut. Namun, jika tidak, akan ada evaluasi lebih lanjut yang disesuaikan dengan keputusan pimpinan.
Di sisi lain, mahasantri merasakan dampak besar dari kebijakan efisiensi ini. Eliza, salah satu mudabiroh Ma’had Al-Jamiah, mengungkapkan harapannya agar kebijakan efisiensi segera bisa segera berakhir.
“Kalau bisa, efisiensi ini segera diakhiri. Karena saat siang hari terasa sangat panas, kami terpaksa pakai kipas kardus. Selain itu, banyak tugas yang memerlukan Zoom atau penggunaan laptop, tapi baterai cepat habis dan sulit untuk mengisi baterai handphone ataupun laptop yang baterainya sangat cepat habis,” ungkapnya.
Meskipun kebijakan ini bertujuan baik, penerapannya tetap menjadi tantangan bagi mahasantri yang sangat bergantung pada listrik dan air dalam aktivitas sehari-hari. Keputusan lebih lanjut mengenai efisiensi ini masih menunggu evaluasi dari pihak Ma’had dan pimpinan.
Penulis: dede
Editor: Tim penerbitan
![]()






