Home / Uncategorized / Film Fight Girl Ajarkan Pengaruh Suporter System

Film Fight Girl Ajarkan Pengaruh Suporter System

Sumber Foto : Panitia Nobar

Gemawan kembali adakan nobar. Kali ini film yang diputar berjudul “Fight Girl” mengisahkan seorang anak bernama Bo, seorang petinju berusia 12 tahun, ia berbakat tapi emosinya tidak stabil karena rumah tangga orang tuanya diambang perceraian. Ketidakstabilan itu membuatnya tidak bisa bertanding dengan baik. (15/08)

Tantangan dan upaya-upaya yang dikisahkan pada film ini sepertinya akan menarik untuk menjadi refleksi serta bahan diskusi, sehingga dapat melahirkan strategi dalam upaya mendukung anak dan generasi muda dalam menggapai cita-citanya.

Laili Khainur, Direktur Gemawan berikan ulasan mengenai film yang diputar bahwa realitanya, support system bisa ditemukan secara tidak sengaja dalam lingkungan.

“Mencari teman itu penting, saya yakin bisa keliar dari situasi tertentu yang bisa memahami san kemudian, ada saatnya kita mengacaukan segala sesuatu untuk berpikir bagaimana yang terbaik menurut saya itu sering terjadi dal diri kita,” tambahnya.

Lely juga membahas mengenai perbedaan pendidikan yang terjadi hingga membentuk karakter anak. Pendidikan di Belanda yang mengedepankan open minded sehingga anak mampu berpikir maju. Berbeda memang dengan pendidikan di Indonesia terutama di kampung dengan akses yang tidak luas dan pada umumnya hanya menerima saja, tidak pernah tersedia tempat untuk mengembangkan kreativitas anak muda.

“Saya tuh pernah nonton film school of rock. Itu tu menceritakan tentang seorang pemain band yang menyamar menjadi guru matematika. Justru mengajar musik di dalamnya. Yang diajarkan bagaimana menemukan tujuan dalam hidup kita,” tambahnya.

“Berteman harus ada tujuan, berorganisasi harus ada tujuan, persoalan menempatkan diawal atau diakhir itu sebuah proses. Misalnya teman-teman berkumpul, minimal tujuanya untuk suka-suka atau sekedar berbagi yang akan berdampak terhadap diri atau masa depan. Yang penting harus punya tujuan, tujuan menjadi penting.”

Bo, menemukan tempat untuk menyalurkan emosinya. Biasanya anak-anak diberi ruang untuk menyalurkan emosi misalnya suka pindah-pindah dari badminton, bermain bola. Bo, menemukan tujuan hidupnya karena Bo tidak memusingkan urusan perkelahian orang tuanya. Biasanya orang tua menganggap kita aset, hak milik. Padahal anak punya otak, punya perasaan, anak seolah-olah ingin menjadi kemauan mereka. Jangan-jangan yang difikirkan orang tua tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginan anak.

“Nah, situasi ini yang menurut saya begini kawan-kawan beruntung bahwa kita beda beberapa lapis generasi. Teman-teman beruntung karena bisa akses internet, zaman dulu belum bisa memilih tontonan yang menarik. Harus memilih harus yang kita pilih, jika belum dapat relakan. Mungkin kedepan kita akan menemukan rezeki lain,” tegasnya.

“Support power juga penting untuk berada dalam diri kita. Bisa jadi bekelai, bisa jadi bemusik. Bisa juga yang tidak terlihat, ketika kita diterpa banyak hal tuh kita bisa menghadapinya. Tahan banting juga support power. Jangan takut menangis, kalau Bo berhitung atau teriakan. Kalau kita bisa bermusik, main bola, atau ada yang suka membaca. Jadi ketika berbaring di tempat tidur begitulah dunianya,” imbuhnya.

“Kenapa kita harus ikut standar orang yang buat kite gile, mending kite ikot standar kite biar jak orang bilang kite gile. Saye udah dititik yang mane saye nih ndak merugikan orang lain atau aman. Biar jak orang tu, kita akan bermasalah jika menghadapi orang lain. Kita butuh teman untuk saran-saran. Itu sih menurut saya.” tambahnya.

Pesan Lely tentang kualitas udara saat inu bahwa PBB, telah menyarakan bahwa sekarang bukan lagi global warming, bumi udah mendidih.

“Yang bakar tu karena memang terbakar. Saling mengingatkan bersama-sama, gunakan masker yang bagus kayak N9, mari jaga kesehatan bersama,” tegas Lely.

Arniyanti menambahkan bahwa sekarang kita sudah ada 3 musim, ini ada musim asap. Kita terbuka bagi teman-teman bisa mention atau dm ig gemawan yang punya ide untuk bicara mengenai kolaborasi yang menjadi komitmen gemawan.

Rini, dari Rumah Perempuan dan Anak (RPA) menambahkan ulasan mengenai film bahwa Bo ini sangat beruntung karena setiap masalah yang dia alami mempunyai solusi.

“Itu tidak mudah menemukan support system, untuk kita bercerita saja mengeluarkan uang 50k. Saya bertanya dalam diri apakah saya bisa seperti ini,” tambah Rini.

Manda, dari orang muda pilihan menyampaikan bahwa peran Bo dalam film digambarkan sebagai seorang anak yang melawan diri nya sendiri. Banyak sekali problematik dalam dirinya. Dengan Bo yang berusia muda, dia mampu melawan diri sendiri dengan menjaga emosinya.

“Banyak sekali anak yang menjadi korban atas keegoisan anak. Kita melihat anak pasti memiliki perasaan sedih harus pindah-pindah harus pisah-pisah. Kalau Bo mampu, bagaimana dengan anak-anak disekitar kita, apakah bisa lari ke hal yang positif.  Jika teman kita tidak menemukan support di keluarganya, kita bisa menjadi support system,” tambah Manda.

Terakhir, Dedi dari Mapala Untan menceritakan tentang perjalanan emosional Bo yang mengejar mimpinya yang berhadapan dengan konflik internal. Film ini mengangkat tema persahabatan, keluarga, dia banyak mendapat dukungan dari sekitar.

“Bo, mengejar mimpinya tanpa memperdulikan tanggapan negatif sekitarnya, kekuatan perempuan yang mengajarkan kita untuk tidak takut menggapai mimpi,” tutup Dedi.

 

Penulis : Feby

Editor : Zik

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *