Home / Warta Utama / Puasa di Rantau, Rindu yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Puasa di Rantau, Rindu yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Ada yang berbeda dari puasa tahun ini. Dua perempuan yang tinggal berkilometer jauh dari kampung halaman masing-masing merasakannya. Bukan pada lapar yang lebih berat, bukan pula pada terik Pontianak yang memang tidak pernah berbaik hati. Yang berbeda adalah hal-hal kecil yang dulu tidak pernah mereka sadari nilainya, seperti meja makan yang ramai, suara ibu dari dapur, dan kehangatan yang tidak bisa dibeli di kota orang.

Dua Perantau, Dua Kampung Halaman

Ica, ia adalah mahasiswi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak angkatan 2025. Ia merantau dari Sanggau, Kalimantan Barat, sejak September tahun lalu. Bukan dengan bus, bukan dengan travel, ia menempuh perjalanan panjang itu dengan motornya sendiri, menembus jalan lintas Kalimantan yang tidak selalu berbaik hati, membawa satu tas dan harapan yang lebih besar dari kapasitas bagasinya.

“Kadang di perjalanan aku merasa agak bingung sama rutenya, karena baru kali ini juga aku merantau sejauh ini,” ujarnya saat ditemui pada 4 Maret 2026 lalu.

Kini ia tinggal di sebuah kontrakan kecil bersama dua orang temannya, tiga perempuan perantau yang berbagi atap, berbagi suka, dan di bulan Ramadan ini, berbagi sepi yang masing-masing tetap terasa milik sendiri.

Nurhafiza datang dari arah yang berbeda. Ia merantau dari Sambas, yang jaraknya dari Pontianak tidak bisa dibilang dekat. Ia merantau ke kota ini untuk pertama kalinya, mencoba peruntungan di tempat kakaknya yang lebih dulu menetap, membantu berjualan es teh dan es jeruk dari balik kontainer yang setiap hari ia jaga. Setiap pagi, sebelum matahari sempat menerik, motornya sudah melaju menuju tempat kerja meninggalkan rumah keluarga dari pihak ibunya, tempat ia menumpang selama di Pontianak.

“Waktu pertama kali aku ke sini, emang rasanya beda banget sama pas di Sambas, ga ada orang tuaku, jadi aku nyesuaiin diri juga di sini,” ungkapnya.

Dua perempuan. Dua kampung halaman yang berbeda. Tapi satu hal yang sama: Ramadan ini, mereka menjalaninya jauh dari rumah.

Puasa Tanpa Penanda Waktu yang Biasa

Di Sanggau, Ramadan punya wajahnya sendiri bagi Ica. Ada suara ibu yang memanggil dari dapur sebelum imsak, aroma masakan yang menguar sejak pukul tiga pagi, dan adzan subuh dari masjid dekat rumah yang nadanya sudah ia hafal sejak kecil. Semuanya adalah jangkar tanda bahwa ada yang menemani, bahwa malam itu ia tidak sendirian.

“Dulu pas kecil pasti merengek kalau dibangunin sahur sama mama, dan sekarang pas jauh sama mama, aku rindu,” katanya.

Di Pontianak, semua jangkar itu digantikan alarm ponsel yang berbunyi tiga kali berjeda dan suara langkah kaki dua temannya yang bergerak di kontrakan yang sama.

Setidaknya ia tidak sendiri sepenuhnya. Ada dua teman yang berbagi ruang dengannya, tapi berbagi atap tidak selalu berarti berbagi perasaan. Masing-masing membawa rindunya sendiri, dan sahur di kontrakan kecil itu tetap terasa sunyi dengan caranya sendiri.

Yang ia masak untuk sahur, lebih sering dari yang ia akui kepada siapapun, adalah mi instan. Kadang ditambah telur, jika kulkas kecil mereka tidak sedang kosong. Bukan soal menunya yang ia persoalkan. Yang berat adalah makan tanpa ada yang bertanya apakah nasinya sudah cukup, tanpa suara sendok beradu di atas panci bersama orang-orang yang ia cintai.

“Yang paling kerasa itu waktu aku mau sahur, walau aku sahur bersama teman-temanku, sesekali aku menatap piring yang berisi lauk-paukku dengan tatapan rindu, rindu sahur bareng keluarga, ga cuma aku, teman-temanku juga, tapi karena itu kami saling mengayomi karena kami sesama perantau,” ucapnya pelan, matanya sebentar menerawang.

Di Sambas, Ramadan Nurhafiza juga punya teksturnya sendiri. Suasana kampung yang kental, tetangga yang saling berbagi takjil, keluarga yang berkumpul dalam ritme yang sudah bertahun-tahun sama. Di Pontianak, semua itu berganti dengan lingkungan yang lebih beragam, tidak semua orang berpuasa, tidak semua orang peduli bahwa hari ini Ramadhan sudah memasuki pekan ketiga. Suasana individualis lebih terasa, dan Ramadhan yang ia kenal sejak kecil terasa seperti sesuatu yang harus ia jaga sendiri, dalam diam.

“Di kampung, Ramadhan rasanya seperti ada di mana-mana, tetangga yang biasanya saling berbagi takjil, karena aku juga besarnya di sana, jadi pas di sini, aku ngerasain hal yang baru,” tuturnya, senyum tipis muncul dari balik wajahnya yang sudah terpapar sinar matahari seharian.

Tiga Peran, Satu Badan yang Sama

Ica tidak punya kemewahan untuk berpuasa dengan santai. Ia bekerja paruh waktu di laundry kiloan, letaknya tepat di belakang kontrakannya, cukup berjalan kaki beberapa langkah dari pintu belakang. Jaraknya dekat, tapi bebannya tidak ikut berkurang. Shift siang, pulang larut. Upahnya membantu meringankan hidup di perantauan, dan ia tidak ingin membebani keluarga lebih dari yang sudah mereka berikan. Di sela waktu kerja itu, ia masih aktif di organisasi kemahasiswaan.

“Setiap hari aku pergi kerja jam 1 siang, pulang jam 9 malam. Meskipun jarak tempat kerja dan kontrakan tempatku tinggal tidak jauh, namun rasa letih itu benar-benar terasa, karena cuaca di Pontianak ini juga panasnya kek panas banget,” ujarnya pada 5 Maret 2026 lalu.

Berdiri di belakang meja setrika berjam-jam dengan perut kosong adalah pengalaman yang tidak ada bandingannya dengan berpuasa sambil rebahan di rumah. Kepala berdenyut pelan. Kaki pegal. Tubuh meminta jeda yang tidak bisa ia penuhi, karena tumpukan pakaian pelanggan tidak pernah menunggu.

Pola harinya berputar seperti roda yang lupa cara berhenti. Sahur dini hari bersama teman kontrakan, istirahat sejenak, lalu berangkat ke laundry belakang rumah dari jam satu siang hingga larut malam. Rapat organisasi disisipkan di celah-celah waktu yang ada, lewat layar ponsel, kadang dari sudut ruang laundry yang sepi setelah pelanggan terakhir pergi.

Nurhafiza menghadapi bebannya yang lain. Tantangan terberatnya bukan pada lapar, lapar bisa ditahan dengan niat. Yang lebih berat adalah berdiri di depan es yang ia buat dengan tangannya sendiri, mengaduk, menuang, menyerahkan ke tangan pembeli, sementara tenggorokannya sendiri kering sejak pukul tiga pagi. Cuaca Pontianak yang belakangan ini seperti tidak punya ampun membuat setiap jam terasa lebih panjang dari biasanya.

“Tahu sendiri lah, ngeliatin es yang kita buat sendiri tapi nggak bisa minum, itu beda rasanya. Hausnya lebih berasa, entah karena memang haus, atau karena kepala kita yang bikin makin haus, kadang pas aku mesan es batu untuk restock, aku pegang bentar buat ngilangin panas yang udah benar-benar menghantui badanku,” ia berucap, tertawa kecil setelahnya, seolah menertawakan dirinya sendiri.

Siang hari adalah puncaknya. Ketika matahari benar-benar tidak mau kompromi, itulah waktu paling berat. Tubuh meminta sesuatu yang tidak bisa ia berikan sampai adzan maghrib berkumandang.

“Waktu jarum jam udah nunjukin pukul 12 keatas, aku kadang pasrah aja sih sama cuaca, dominan yang aku rasain selama puasa di sini si ya cuaca panas, di situlah kadang puncaknya aku ngerasa haus,” ujar Ica.

“Panasnya sampai nembus ke kontainer,” ujar Nurhafiza.

Buka Puasa di Tempat yang Tidak Direncanakan

Di kampung, buka puasa adalah puncak hari. Meja makan penuh. Ibu sibuk menyendok sayur. Ayah menuangkan teh manis. Suara dan kehangatan menyatu dalam satu momen yang berbicara sendiri tanpa perlu kata-kata.

Bagi Ica, momen itu justru paling sering ia jalani di laundry belakang kontrakannya. Karena masuk shift siang, adzan maghrib hampir selalu menemuinya di sana. Saat kumandang itu terdengar, ia berhenti sejenak, membuka bekal seadanya di antara mesin cuci yang masih berputar dan tumpukan pakaian yang belum selesai dilipat. Hanya suara adzan yang perlahan menghilang, berganti deru mesin yang kembali mendominasi.

“Kadang, kalau aku nggak sempat beli takjil atau bikin bekal pas sebelum pergi kerja, ya buka puasa seadanya, kadang pakai air putih,” ujarnya.

Di hari libur kerja, berbuka bersama dua teman kontrakan terasa sedikit lebih hangat. Tapi tetap saja, yang ada di meja bukan ibu, bukan ayah. Sebungkus nasi dari warung seberang, atau masakan sederhana hasil patungan bertiga, dimakan di kontrakan kecil yang dindingnya sudah hafal semua cerita mereka.

Nurhafiza berbuka di tempat yang sama dengan tempat ia bekerja seharian, di kontainer kakaknya, antara termos es dan tumpukan gelas plastik, bersama rekan kerja yang juga sedang mengalami hal yang serupa. Jauh dari Sambas, jauh dari meja makan keluarga. Tapi ada sesuatu yang tidak ia sangka tumbuh di sana, kehangatan kecil dari sesama perantau yang berbagi nasib di kota yang sama-sama belum sepenuhnya mereka anggap sebagai rumah.

“Yang paling membekas itu justru momen-momen kayak gitu. Buka puasa sama teman kerja, sama-sama perantau, sama-sama jauh dari rumah. Ada sesuatu yang hangat di situ, meski tempatnya di pinggir jalan,” katanya pelan.

Rindu yang Datang Tanpa Diundang

Setiap selesai sahur, di detik-detik sebelum imsak, Ica membuka aplikasi pesan. Jarinya mengetik kalimat panjang untuk ibunya, tentang menu sahur tadi, tentang cuaca Pontianak yang mendung, tentang betapa ia ingin pulang. Lalu ia membaca ulang. Dan menghapusnya. Menggantinya dengan tiga kata dan sebuah emoji hati kecil, “Sahur ya, Bu.”

Ibunya selalu membalas cepat, dengan kalimat pendek yang hampir selalu sama. Dan Ica membacanya seperti orang yang sangat kehausan.

Rindu itu bukan jenis yang meledak sekaligus. Ia datang pelan, di waktu-waktu yang tidak pernah diduga, saat mencium aroma masakan dari warung tetangga yang tiba-tiba mirip masakan rumah, saat kontrakan tiba-tiba terasa terlalu lengang meski dua orang temannya ada di sana. Suatu malam, sepulang kerja dari laundry belakang rumah, ia duduk di tepi kasur dengan sepatu masih terpasang. Entah sejak kapan, matanya sudah basah. Ia hanya menarik napas panjang, melepas sepatu, membasuh muka, lalu berbaring. Esoknya, alarm kembali berbunyi pukul 03.15.

Bagi Nurhafiza, rindu itu punya wajah yang jelas, wajah keluarga kecilnya di Sambas. Rindu itu paling keras bunyinya ketika tiba-tiba teringat momen berkumpul bersama mereka, meja makan yang penuh, tawa yang tidak perlu sebab. Di kontainer kakaknya, di jeda sepi di antara pelanggan yang pergi dan belum ada yang datang, di situlah ia paling sering merasa sendiri. Tangannya sibuk, tapi pikirannya melayang jauh ke selatan, ke Sambas, ke rumah yang tidak pernah berhenti ia rindukan.

Yang menguatkannya, katanya, adalah ayah. Tidak selalu lewat kata-kata panjang. Kadang hanya dari tahu bahwa ada seseorang yang menunggunya pulang.

Makna Puasa yang Bergeser

Jauh dari keluarga, keduanya menemukan bahwa puasa mengajarkan sesuatu yang tidak pernah mereka temukan di kampung halaman.

Bagi Ica, puasa menjadi urusan yang lebih personal, bukan lagi ritual yang dikerjakan bersama dalam ritme keluarga, melainkan pergulatan harian yang harus ia hadapi sendiri. Pulang kerja larut dari laundry yang jaraknya hanya selemparan batu dari pintu kontrakannya, membuat tarawih berjamaah nyaris tak pernah terjangkau. Ia shalat sendiri di kamar, dalam keheningan yang kadang terasa berat, kadang justru mengendapkan sesuatu yang tak bisa ia beri nama.

“Puasa di sini ngajarin aku bahwa menahan itu bukan cuma soal perut. Kamu juga harus nahan rindu, nahan capek, nahan perasaan pengen nyerah. Dan itu jauh lebih berat dari sekadar nggak makan seharian,” tuturnya pelan, suaranya tenang tapi ada berat yang tak ia usahakan untuk sembunyikan.

Nurhafiza memilih merantau dari Sambas bukan karena terpaksa. Ada alasan yang ia pilih sendiri, ingin pengalaman baru, ingin belajar mandiri, ingin membuktikan bahwa ia bisa. Dan menjalani Ramadan di lingkungan yang jauh berbeda dari tempat asalnya, katanya, justru memberi warna tersendiri pada ibadahnya.

“Puasa itu rukun Islam, wajib dijalankan. Tapi kalau kita bisa jalankan sambil kerja, sambil berjuang, itu nilainya beda. Setidaknya, itu yang bikin aku tetap mau bangun tiap pagi,” jelasnya.

Menunggu Lebaran, Menunggu Pulang

Satu hal yang membuat hari-hari berat ini terasa lebih ringan bagi keduanya, Lebaran. Ica sudah memastikan ia akan pulang ke Sanggau, seperti cara ia datang dulu, dengan motornya sendiri. Jalan lintas Kalimantan yang panjang itu akan ia tempuh lagi, kali ini dengan arah yang berlawanan dan rindu yang sudah terlalu lama ditahan.

“Rencanaku sih tanggal 14 Maret nanti, karena kata mamaku, pulangnya jangan pas H-3 Lebaran,” ujarnya.

Nurhafiza juga menghitung hari. Jarak Pontianak ke Sambas bukan perjalanan yang singkat, tapi ia tidak memikirkan itu sekarang. Yang ada di kepalanya hanya satu, pulang. Ke keluarga kecilnya. Ke Sambas yang selama Ramadan ini hanya bisa ia bayangkan dari balik kontainer es di pinggir jalan Padat Karya, Saigon, Pontianak.

“Mungkin H- seminggu sebelum Lebaran, tapi lihat lagi nanti,” ujarnya.

Setelah berminggu-minggu sahur di kontrakan kecil bertiga, berbuka di antara mesin cuci dan kontainer es, menahan lapar dan haus di bawah terik yang tidak kenal kompromi, mereka akan kembali. Ke meja makan yang ramai. Ke suara ibu. Ke teh manis buatan ayah. Ke rumah yang tidak pernah berhenti menunggu.

Bayangan itulah yang mereka bawa setiap pagi. Yang membuat kaki tetap mau turun dari kasur. Yang membuat motor tetap dinyalakan. Yang membuat hari tetap berjalan.

Kisah Ica dan Nurhafiza bukan kisah yang istimewa. Di Pontianak, dan di kota-kota seluruh Indonesia, ribuan perantau menjalani Ramadan dengan cara yang serupa, sahur seadanya, berbuka di sela-sela pekerjaan, menanggung rindu yang tidak pernah benar-benar pergi. Mereka datang dari Sanggau, dari Sambas, dari berbagai penjuru, membawa kampung halaman masing-masing hanya dalam kenangan dan layar ponsel yang menyala di dini hari.

Mereka adalah wajah diam dari Ramadan, yang khusyuknya tidak selalu terlihat dari luar, tapi nyata dan utuh dirasakan di dalam.

Dan pagi ini, seperti semua pagi sebelumnya, alarm berbunyi lagi. Mereka bangkit. Menyalakan kompor. Menyalakan motor. Menjalani hari.

Puasanya tetap utuh. Tekadnya juga.

Penulis : Sekar

Penyunting : Olive

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *