https://www.wartaiainpontianak.com-Pukul delapan pagi, lampu-lampu di Novotel Convention Center, Pontianak, sudah menyala terang. Deretan kursi berjejer rapi, ratusan toga hitam berkibar pelan tertiup pendingin ruangan, dan wajah-wajah yang tadinya tegang perlahan berubah sumringah begitu nama mereka mulai disebut satu per satu. Kamis, 17 September 2026, hari itu bukan hari biasa. Hari itu adalah hari ketika 580 mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak resmi menanggalkan status mahasiswa dan menyandang gelar sarjana serta magister dalam Wisuda XXIII.
Di balik gemerlap acara, ada tema besar yang menaungi seluruh prosesi: “Songsong Transformasi UIN Berparadigma Universal demi Kemaslahatan Semesta”. Sebuah judul yang panjang, namun menyimpan harapan sederhana bahwa kampus ini sedang bersiap menjelma menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), dan pagi itu, para wisudawan menjadi saksi sekaligus bagian dari harapan tersebut.
Ketika Perjuangan Menemukan Namanya
Rektor IAIN Pontianak, Wajidi Sayadi berdiri di podium dengan suara yang mengalun tenang namun sarat makna. Ia tidak memulai sambutannya dengan angka atau statistik, melainkan dengan sebuah pengingat yang menohok perasaan setiap orang tua yang hadir.
“Hari ini bukan sekadar hari mengenakan toga, hari ini bukan sekadar hari untuk segera menerima ijazah. Hari ini adalah hari ketika perjuangan panjang telah menemukan satu titik sejarah,” ujarnya.
Wajidi lantas mengajak seisi ruangan menengok ke belakang pada malam-malam panjang yang dihabiskan membaca buku, tugas yang seolah tak pernah usai, penelitian yang menguras pikiran, seminar dan ujian yang menegangkan, revisi yang datang berulang kali, hingga air mata yang mungkin tak pernah dilihat siapa pun. Semua itu, katanya, akhirnya menemukan maknanya pagi itu, dalam satu kata: wisuda.
Ia pun menyisipkan rasa terima kasih atas nama pimpinan dan keluarga besar IAIN Pontianak kepada seluruh pihak yang membuat acara berjalan lancar, dengan penghormatan khusus kepada Gubernur Kalimantan Barat yang berkenan hadir dan duduk bersama mereka pagi itu.
Gubernur dan Mimpi Bersama Menuju UIN
Tak lama berselang, giliran Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan melangkah ke mimbar. Kehadirannya bukan sekadar seremonial. Ia datang membawa pesan tentang arah panjang IAIN Pontianak ke depan.
Kepada para wisudawan, ia mengingatkan bahwa hari itu menandai berakhirnya satu tahapan pendidikan sekaligus pembuka jalan baru yang menuntut tanggung jawab lebih besar. Kepada para orang tua yang duduk di barisan tamu, sambutannya terasa lebih personal.
“Bagi orang tua dan keluarga, hari ini merupakan buah doa kedua orang tua yang telah berkorban, juga dengan kesabaran dan perjuangan yang telah diberikan kepada anak-anak yang hari ini insyaallah akan diwisuda,” katanya.
Norsan kemudian menegaskan dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terhadap semangat transformasi IAIN Pontianak menjadi UIN. Ia mengajak semua pihak turut mendoakan agar cita-cita itu terwujud di masa kepemimpinannya bersama Rektor Wajidi Sayadi, sembari menegaskan kesiapan Pemprov Kalbar membantu mewujudkannya.
“Transformasi ini bukan sekadar perubahan kelembagaan, tetapi harus mampu melahirkan sumber daya manusia yang luas ilmunya, kuat nilainya, matang dalam berpikir, dan peduli terhadap masyarakat,” tuturnya, menautkan cita-cita itu dengan visi besar Kalimantan Barat yang adil, demokratis, religius, sejahtera, dan berwawasan lingkungan.
Enam Fakultas, Satu Kebanggaan
Pagi itu, satu per satu wisudawan naik ke atas panggung mewakili enam rumpun keilmuan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam menyumbang jumlah wisudawan terbanyak dengan 234 orang, disusul Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan dengan 187 orang. Fakultas Dakwah dan Komunikasi melepas 56 lulusan, Fakultas Syariah 44 orang, Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah 34 orang, serta Program Pascasarjana menyumbang 25 wisudawan magister. Total, 580 nama dipanggil dan 580 jabat tangan diberikan pagi itu.
Ketua Senat IAIN Pontianak, Dwi Surya Atmaja, menutup rangkaian Sidang Senat Terbuka dengan kata-kata yang merendah, alih-alih sekadar berbangga atas capaian tersebut.
“Izinkan kami mewakili dosen dan karyawan IAIN Pontianak untuk mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan yang Bapak Ibu berikan kepada kami. Izinkan kami juga mewakili keluarga besar IAIN Pontianak untuk memohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan yang kami lakukan dalam mengemban amanah maupun kepercayaan yang Bapak Ibu berikan,” ucapnya.
Air Mata yang Nyaris Jatuh di Depan Panggung
Di antara ratusan wajah bahagia pagi itu, satu nama disebut berulang kali dari podium: Siti Khadijah, yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik IAIN Pontianak. Ketika ditemui usai acara, ia masih tampak setengah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“Perasaan saya senang, happy tentunya, dan enggak nyangka juga bisa dapat banyak banget penghargaan dari kampus, dari prodi, fakultas, kemudian institut. Bener-bener enggak nyangka, bahkan tadi sempat pengin nangis di depan, cuma saya tahan,” ungkapnya sambil tersenyum.
Kepada adik-adik tingkatnya yang masih berjuang di bangku kuliah, Siti membagikan resep sederhana yang ia jalani selama bertahun-tahun: disiplin masuk kelas tepat waktu, mencatat setiap materi, tidak membolos, dan tidak segan bertanya kepada dosen begitu ada hal yang membingungkan.
“Semoga mahasiswa IAIN yang masih kuliah tetap semangat kuliahnya, dan jangan disia-siakan dunia perkuliahan ini. Belajarnya lebih rajin, kalau misalnya ada tugas jangan lupa dikerjakan dan tidak ditunda-tunda,” pesannya, menutup obrolan singkat pagi itu.
Satu Bab Selesai, Bab Baru Dimulai
Matahari semakin tinggi ketika prosesi wisuda usai. Toga-toga yang tadi pagi masih terasa asing di pundak kini menjadi bukti sah bahwa satu perjalanan panjang telah tuntas. Namun seperti yang diingatkan Rektor Wajidi di awal acara, hari itu bukan garis akhir, ia hanyalah satu titik dalam sejarah panjang yang masih akan terus ditulis, baik oleh 580 wisudawan yang kini melangkah keluar dari gerbang kampus, maupun oleh IAIN Pontianak sendiri yang tengah bersiap menyongsong wajah barunya sebagai UIN.
Penulis: Yeni
Penyunting: Tim Penerbitan
![]()





