www.wartaiainpontianak.com – Angka itu muncul di layar ponsel warga Pontianak pagi ini: 499, kategori “Hazardous” nyaris menyentuh batas atas skala indeks kualitas udara dunia. Di kota mana pun, angka itu berarti satu hal sederhana: jangan keluar rumah dulu. Tapi di Kota Khatulistiwa, ia hanyalah puncak dari rangkaian hari yang sudah dimulai dua pekan lalu, ketika langit mulai kehilangan warnanya satu per satu, bau kayu terbakar dan tanah hangus yang datang lebih dulu daripada pemandangannya sendiri.
Sejak awal Agustus 2026, kabut asap menyelimuti Pontianak dan Kubu Raya. Puncaknya pada Sabtu malam, 8 Agustus, ketika PM2.5 di Kubu Raya melonjak ke 195,8 mikrogram per meter kubik, jauh di atas ambang aman WHO (15 µg/m³) ,bersamaan dengan 264 titik panas yang tercatat BMKG Supadio hari itu. Dua hari kemudian, giliran Pontianak mengambil sikap tegas.
Ketika Sekolah Pindah ke Ruang Tamu
Senin, 10 Agustus, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengeluarkan kebijakan belajar dari rumah bagi seluruh siswa PAUD hingga SMP, setelah kualitas udara terus memburuk sejak larut malam. Rumah-rumah pun berubah fungsi: ruang tamu jadi ruang kelas, jendela yang biasa terbuka kini rapat tertutup.
Titin, ibu rumah tangga yang juga berjualan daring, merasakannya langsung. Dengan tiga anak, satu kuliah (sedang libur), satu SMK 2, satu lagi di MIN Teladan, ia bercerita dampaknya baru benar-benar terasa dalam satu-dua minggu terakhir. “Awalnya cuma bau gosong tipis kalau malam. Tapi belakangan, pas bangun pagi, buka pintu depan itu pandangan sudah putih semua. Mata langsung perih,” katanya. Anak bungsunya sempat protes begitu sekolah diliburkan lagi, bukan karena rindu belajar, tapi bosan tak bisa main dengan teman. Di dalam rumah sendiri, pintu-jendela yang dikunci rapat 24 jam membuat suasana pengap dan panas, sementara tugas sekolah terus mengalir lewat grup WhatsApp. “Kami seperti pasrah menghadapi ‘musiman’ yang menyiksa ini. Setiap tahun polanya sama: kemarau, lahan terbakar, asap pekat, anak daring, lalu hujan, hilang, dan tahun depan terulang lagi. Kasihan paru-paru anak-anak kita,” ujarnya.
Kelompok rentan lain seperti lansia, ibu hamil, penderita gangguan pernapasan juga diminta ekstra waspada. Pemerintah mengimbau perbanyak minum air putih, tutup makanan dari paparan asap, dan pakai masker di luar rumah, demi mencegah ISPA yang jadi ancaman tahunan bersama datangnya kabut asap.
Jam-Jam yang Paling Menyesakkan
Warga Pontianak sudah hafal polanya: asap paling pekat menjelang tengah malam hingga subuh, mereda begitu matahari naik. Menurut Edi, tekanan udara malam hari membuat partikel asap turun dan terperangkap di permukaan. “Semalam dari jam 9 sampai jam 11 malam kondisi udara kurang sehat,” katanya, menyebut kadar partikel sempat melebihi 200 µg/m³. Bagi pedagang pasar, pengendara ojek, dan nelayan yang beraktivitas pagi buta, jam-jam itu justru jam paling berbahaya, mereka menghirup udara terburuk kota ini saat kota belum sepenuhnya terbangun.
Api yang Membara di Bawah Tanah
Sebagian asap terbawa angin dari Ketapang, Kubu Raya, Kayong Utara, dan Landak. Tapi titik api juga muncul di dalam kota, di lahan gambut Jalan Sepakat II Ujung dan beberapa titik di Pontianak Utara.
“Lahan gambut kalau sudah terbakar sulit dipadamkan. Tidak cukup hanya disiram, tetapi harus benar-benar dibasahkan,” tegas Edi.
Api bisa menjalar diam-diam di bawah permukaan, sehingga Polresta Pontianak, BPBD, dan warga kolaborasi “tiga pilar” terus berpatroli ke titik-titik rawan. Pemkot juga menegaskan akan menginvestigasi kepemilikan lahan yang terbakar; siapa pun yang sengaja membakar akan diproses hukum.
Skalanya besar: 4.041 titik panas tersebar di seluruh Kalimantan Barat, 352 di antaranya berkepercayaan tinggi. Angka inilah yang membuat Pemkot Pontianak menetapkan status darurat karhutla pada 10 Agustus, memperkuat koordinasi lintas sektor bersama Pemprov Kalbar, pemerintah pusat, Forkopimda, hingga swasta.
Ruang Periksa yang Mulai Penuh
Status darurat ini bukan simbolis. Kasus ISPA di Pontianak naik sekitar 5 persen sejak kabut asap memburuk angka yang membuat Dinas Kesehatan siaga penuh, dengan puskesmas dan rumah sakit diminta menyiapkan pasokan oksigen bagi pasien yang membutuhkan. Penanganan Pemkot kini berjalan dua jalur sekaligus: memadamkan api agar tidak meluas, sekaligus menjaga fasilitas kesehatan tak kewalahan.
Roda yang Tetap Berputar di Udara Beracun
Kebijakan sekolah daring yang meringankan beban kesehatan orang tua justru memukul penghasilan pengemudi ojek daring (ojol) order antar-jemput siswa, andalan jam sibuk pagi-siang, ikut menghilang begitu sekolah beralih ke layar. Ian Kintil Sandora, salah satu pengemudi ojol Pontianak, merasakannya langsung. Ia mengatakan penurunan order paling terasa pada layanan antar-jemput siswa, sementara driver yang tetap beroperasi menanggung risiko ganda: paparan asap langsung dan jarak pandang yang terganggu, terutama menjelang subuh dan malam hari. Dalam bencana ini, sebagian orang bisa memilih tinggal di rumah tapi mereka yang penghasilannya bergantung pada jalan raya, tak punya banyak pilihan selain terus keluar.
Demam yang Tak Kunjung Reda
Berbeda dari sekolah dasar-menengah, kampus-kampus di Pontianak masih berjalan seperti biasa belum ada kebijakan kuliah daring. Dewi Aprilia Maharani, mahasiswa Universitas Tanjungpura, empat hari terakhir demam tinggi yang tak kunjung reda, tapi tetap memaksakan diri berangkat kuliah. “Tenggorokan sering terasa kering dan gatal, mata juga gampang perih atau merah kalau habis naik motor. Aku juga batuk-batuk karena udara yang dihirup kurang bersih,” ceritanya. Ia masih ingat momen keluar rumah pukul 7 pagi, jam yang seharusnya membawa udara segar “tapi begitu buka pintu, langsung disambut bau hangus yang menyengat dan kabut asap tebal sampai rumah tetangga di seberang jalan jak kelihatan samar.”
Dewi bertahan dengan masker, mengurangi kegiatan luar ruangan, dan vitamin C, tapi berharap kampus lebih responsif: edaran kuliah daring begitu indeks udara masuk kategori bahaya, masker gratis, dan keringanan presensi bagi yang sakit. Yang paling ia soroti adalah pola berulang tanpa penindakan tegas. “Sangat ndak wajar kalau bencana tahunan kayak gini dianggap ‘biasa jak’,” ujarnya, mengaku campur aduk antara risau, marah, dan muak. Ia berharap pemerintah menindak tegas pelaku pembakaran lahan, perorangan maupun korporasi, tanpa menunggu asap menutupi kota. “Udara bersih itu hak dasar kita semua,” katanya.
Angka-Angka yang Saling Bertengkar
Di tengah krisis ini, angka kualitas udara antarplatform kerap tak seragam. Pada satu waktu di awal Agustus, AQMS Pontianak Tenggara mencatat ISPU PM2.5 88, AQMS Kubu Raya 69, sementara IQAir menunjukkan AQI-US 92 sama-sama kategori “sedang”, tapi angkanya berbeda. Kepala DLH Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, menjelaskan hal ini bisa dipicu metode pemantauan, lokasi alat, hingga cara perhitungan indeks yang berbeda. Ia bahkan menemukan kejanggalan lebih mendasar: laman IQAir mencantumkan Lab Geofisika FMIPA Untan sebagai kontributor data Pontianak, padahal salah satu sumber yang ditampilkan justru berasal dari AQMS Kubu Raya bukan AQMS Pontianak Tenggara yang saat itu belum terdaftar. Artinya, warga bisa saja tanpa sadar sedang membaca kondisi udara kabupaten tetangga. DLH karena itu mendorong warga menjadikan AQMS Pontianak Tenggara sebagai rujukan utama, dan memperlakukan platform lain sekadar pembanding.
Pagi Ini, Layar Ponsel Berkata “Bahaya”
Selasa, 11 Agustus 2026 sehari setelah status darurat diumumkan kondisi belum juga membaik. Sekitar pukul 08.30, IQAir mencatat indeks kualitas udara Pontianak di angka 360 “Berbahaya”, PM2.5 255 µg/m³; AccuWeather pada saat sama menunjukkan indeks 161 “Sangat Tidak Sehat”. Setengah jam kemudian, tiga stasiun independen Pontianak Timur, Lab Geofisika FMIPA Untan, dan GP_PNK milik Greenpeace Indonesia kompak menampilkan kategori “Hazardous”, dengan Pontianak Timur mencatat 499 US AQI dan PM2.5 325 µg/m³, lebih dari 20 kali ambang aman harian WHO. Dua stasiun lain mencatat 368 dan 352.
Namun begitu cepatnya angka berubah jadi cerita tersendiri: hanya 20 menit berselang, pukul 09.18, stasiun yang sama di Pontianak Timur turun ke 271 “Very Unhealthy”, PM2.5 196 µg/m³ – bukti udara Pontianak bergerak liar dari menit ke menit seiring pergerakan angin dan matahari yang mulai naik. Tapi “membaik” di sini relatif: dari kategori terburuk menuju kategori yang tetap berarti sangat tidak sehat. Menjelang malam, sekitar pukul 18.27, angkanya turun lagi namun tetap di zona “tidak sehat” di ketiga stasiun (168, 190, dan 172) bukti bahwa sepanjang hari, dari pagi hingga petang, Pontianak praktis tak pernah benar-benar bebas asap.
Menunggu Hujan yang Belum Juga Turun
Kalimantan Barat baru memasuki musim kemarau di bulan Agustus artinya ancaman kabut asap mungkin belum mencapai puncaknya. DPRD Pontianak bahkan mendorong opsi hujan buatan untuk meredakan dampak karhutla yang terus berulang. Pemerintah kota terus memantau kondisi udara nyaris setiap malam, siap mengeluarkan kebijakan serupa kapan pun langit kembali menutup diri.
Pontianak, Kota Khatulistiwa, tahun ini kembali belajar bahwa musim kemarau di Kalimantan Barat bukan cuma soal panas dan kering. Ia berarti menahan napas secara harfiah sambil menunggu hujan pertama yang akan membersihkan langit dan mengembalikan kota ini bernapas normal.
Penulis: Yeni
Penyunting: Tim Penerbitan
![]()





