wartaiainpontianak.com- Di masa sekarang ini dimana kaum milenial sedang mengalami transisi menuju tingkat kesadaran dan pendewasaan yang lebih tinggi tentu terdapat banyak intrik serta polemik yang mewarnai. Berbagai problematika akan dihadapi dan tentunya akan berpengaruh terhadap kehidupan. Entah itu dampaknya berupa suatu hal yang baik ataukah buruk. Hubungan percintaan merupakan satu dari sekian banyak warna yang membersamai kehidupan kaum milenial atau kaum muda.
Bukan bermaksud mengatakan bahwa hubungan percintaan hanya untuk kaum milenial, namun tidak bisa dipungkiri bahwa warna-warni serta dinamika percintaan sangat erat dengan kaum muda. Sebelum mencapai jenjang yang lebih tinggi yaitu pernikahan tentunya. Sungguh indah rasanya ketika memiliki hubungan yang intens dengan seseorang yang di sukai, tentu kita mengenal hal ini dengan istilah pacaran. Memiliki seseorang yang menjadi support system pastilah menyenangkan, bisa berkeluh kesah dan berkasih ria. Namun apa jadinya jika hubungan yang dibangun bersama justru memberikan kerugian serta dampak negatif ke salah satu pihak.
Hal semacam itu dikenal dengan istilah toxic relationship (hubungan beracun), sempat viral baru-baru ini kasus toxic relationship yang menimpa seorang public figure. Laura Anna namanya, akibat kelalaian sang mantan kekasih Gaga Muhammad yang berkendara dibawah pengaruh alkohol ia pun harus menderita kelumpuhan akibat dari spinal cord injury (cedera sumsum tulang belakang) dampak dari kecelakaan mobil yang berujung pada meninggalnya Laura Anna pada 15 Desember 2021. Bahagia bersama namun acuh tak acuh saat lara, sikap semacam itulah yang membuat netizen geram, terhadap Gaga yang enggan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Dilain tempat di kota Medan, Sumatera Utara tepatnya, seorang wanita hampir kehilangan nyawa setelah dianiaya oleh kekasihnya menggunakan senjata tajam. Setelah sebelumnya bertengkar satu sama lain di dalam mobil. Beruntung wanita itu sempat keluar dari mobilnya dan meminta pertolongan warga. Dari hasil pemeriksaan polisi, pelaku dan korban sempat makan malam dan berkeliling kota sebelum akhirnya tragedi tersebut terjadi. Sang kekasih tega melakukan penganiayaan lantaran sakit hati dengan ucapan korban.
Memang kita ketahui bersama bahwa tindak kekerasan di antara pasangan sejoli tidak hanya terjadi dalam bahtera rumah tangga. Meski tak nyaman untuk didengar, aksi kekerasan dalam pacaran bukan lagi sebuah fenomena baru. Kebanyakan berakar dari rasa cemburu yang membutakan dan posesif yang tak berdasar, kemudian melayanglah tamparan dan ujaran kata-kata makian yang tak pantas. Tidak menutup kemungkinan juga kekerasan dalam pacaran bisa berakhir ke tindak pembunuhan.
Sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Interpersonal Violence, melakukan penelitian pada 350 mahasiswa tentang konflik yang pernah terjadi dalam hubungan mereka. Khususnya tindakan kekerasan dalam pacaran baik secara fisik maupun emosional. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 95 persen peserta mengalami kekerasan emosional, sementara 30 persen diantaranya mendapatkan kekerasan secara fisik. Pada dasarnya, sebuah hubungan tidak selamanya akan berjalan mulus. Pertengkaran, cekcok, jenuh, dan kecewa merupakan bagian alami yang sudah sewajarnya ada, asalkan masih dalam batas normal.
Dalam hubungan yang sehat didominasi oleh kasih sayang, penerimaan dan rasa saling menghormati satu sama lain, sedangkan toxic relationship atau hubungan beracun adalah kebalikannya. Terkadang seseorang yang sedang terjebak dalam toxic relationship memilih untuk bertahan karena berbagai faktor misalnya, karena takut akan reaksi yang akan diterima dari pasangannya, atau bisa juga karena tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya. Korban dari toxic relationship biasanya akan terdampak psikologisnya, Bisa saja ia membenci dirinya sendiri akibat dari perkataan atau perbuatan yang dilakukan oleh pasangannya.
Menurut Prof Yayi Guru besar kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) hubungan beracun dikenal juga dengan istilah relationship abuse. Yaitu hubungan yang disalahgunakan dan menimbulkan akibat yang kurang menyenangkan secara emosional,sosial,fisik dan seksual. Yayi menerangkan, hubungan beracun tidak hanya terjadi pada pasangan suami istri dan berpacaran .
“ Hubungan beracun kadang tidak disadari baik dalam berteman , berelasi (bila telah bekerja) dan berpacaran yang tidak sehat,” tutur Yayi seperti dikutip dari laman UGM. Berdasarkan Catatan Tahunan Komisi Nasional Antikekerasan terhadap perempuan terdapat 13.568 kasus kekerasan pada tahun 2019. 2.073 kasus diantaranya merupakan kasus kekerasan dalam hubungan berpacaran, 9.637 kasus berada di ranah privat dan 5.114 kasus kekerasan kekerasan terhadap istri.
Hubungan toxic sebenarnya dapat diperbaiki asalkan kedua belah pihak yang dalam konteks ini adalah pasangan sama-sama bisa berkomitmen untuk mengatasinya dengan menjalin komunikasi yang baik serta adanya kejujuran dan sikap saling menghargai diantara keduanya. Tetapi jikalau memang komitmen dan juga sikap saling menghargai tidak bisa diperoleh, maka lebih baik hubungan tersebut di akhiri daripada merugikan diri secara mental dan fisik atau bahkan merugikan orang lain.
Penulis : Rifqi Al Furqon
Editor : Tim Redaksi WARTA
![]()




