Home / Warta Utama / Nyanyian “Buruh Tani” di Tengah Hujan Buatan, Perayaan Penutupan PBAK Di Sela Kabut Asap

Nyanyian “Buruh Tani” di Tengah Hujan Buatan, Perayaan Penutupan PBAK Di Sela Kabut Asap

https://www.wartaiainpontianak.com – Sorak-sorai meriah mahasiswa baru pecah ketika pemadam kebakaran menyemprotkan sekian liter air ke udara, membasahi halaman Institut Agama Islam Negeri  (IAIN) Pontianak pada penutupan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) pada 02/09/26. Namun, di balik kemeriahan itu terdapat kontra di tengah kondisi Kalimantan yang masih tersemat status darurat. Selebrasi meriah ini justru menyisakan tanda tanya besar mengenai kepekaan ekologis di lingkungan akademis.

Hari ini IQAir mencatat indeks kualitas udara (US AQI) bergerak fluktuatif di rentang 300 hingga menembus angka 600 dengan status “Berbahaya”. Sementara itu, platform AccuWeather menunjukkan indeks di kisaran 180 hingga 190 dengan predikat “Sangat Tidak Sehat”. Di sisi lain, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperlihatkan konsentrasi PM2.5 berada di level 300 hingga melebihi 400, yang mengonfirmasi bahwa udara Pontianak masih berada dalam kategori Berbahaya.

Di tengah situasi krisis ini, penyelenggara berusaha membalut alibi tersebut. Dengan dalih, ingin mengurangi masa kabut. Indah, Dewan Ekseutif Mahasiswa Institut (DEMA-I) menegaskan bahwa aksi tersebut bukan untuk kesenangan semata.

“Ini bukan main-main doang sih sebetulnya. Di sisi lain karena memang Kalimantan lagi musim-musimnya kemarau, musim-musim kabut, jadi kita ingin mengurangi masa kabut itu sendiri di IAIN ini. Polusi udara, partikel-partikel, karena kita kemarin tiga hari di sini, kondisi di sini ini berdebu terus. Makanya kita ingin basahin IAIN gitu. Bukan cuman untuk sekedar have fun, bukan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa mendapat koordinasi langsung dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

“Dan ini air dari BPBD, kita koordinasi dengan BPBD bagaimana aman atau enggak ternyata aman. Ini bukan air bersih gitu doang. Jadi bukan air yang memang dikonsumsi, enggak,” tambahnya lagi.

Penjelasan tersebut nyatanya berbanding terbalik dan memicu respon dari Ketua Kepala Bagian Biro (Kabag), Syahrun.

“Pulangkan maba sekarang ya, ini menambah-nambah agenda di luar konsep. Ndak ada konsepnya huru-hara di PBAK semua mengarah kepada nilai-nilai,” ujar Syahrun.

Dari pernyataan itu, ia memilih untuk tidak menanggapi hal tersebut.

“Kalau itu aku nggak nanggapin sih. Intinya kita udah koordinasi sih terkait ini ke ketua panitia. Cuman mungkin, apa ya, takutnya tuh dikiranya kan memang beliau melihat bagaimana kondisi sekarang kan, lagi krisis air dan lain-lain. Cuman tadi yang udah aku bilang bahwasannya ini bukan untuk have fun doang kok, kita ingin ngilangin khususnya debu-debu yang ada di IAIN. Jadi kalau ternyata dilihat dari sudut pandang ini adalah untuk have fun, main-main, dan lain-lain. Ternyata nggak kok, kita bisa ngelihat sekarang, ternyata nggak ada kabut sekarang,” ucap Indah.

Konsep baru ini justru menyentil kesadaran penulis. Bagaimana mungkin euforia yang terlihat jelas minim empati terhadap bencana ekologis yang terjadi bisa disebut mengurangi asap?. Di saat warga Pontianak bertaruh paru-paru di bawah kepungan asap, sebuah lembaga akademis justru memberi aksi pemborosan air dengan dalih “Ingin Mengurangi Masa Kabut”. Sebuah pembenaran dangkal yang tak mampu menutupi rendahnya sensitivitas terhadap kondisi yang sedang terjadi.

Ironi ini terasa kian terlihat ketika di tengah selebrasi basah-basahan tersebut, beberapa penyelenggara dengan lantang mengajak mahasiswa menyanyikan lagu “Buruh Tani”. Terdapat ketimpangan jelas dari bait-bait lagu perjuangan tersebut. Di saat para petani berjuang mempertahankan hidup di tengah kekeringan dan lahan terbakar, bait perlawanan itu justru digunakan dalam sebuah perayaan.

Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Alih-alih sibuk mencari alasan yang justru memperlihatkan dangkalnya pemahaman tentang bencana, pihak penyelenggara seharusnya paham bahwa kepekaan akademis tidak diukur dari seberapa riuh sebuah perayaan yang diciptakan, melainkan dari seberapa peka empati mereka terhadap krisis di sekitarnya.

Penulis: Olive

Penyunting: Tim Penerbitan

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *