Home / Warta Utama / Hadirkan 320 UMKM, Imlek 2577 dan Cap Go Meh Resmi Dibuka

Hadirkan 320 UMKM, Imlek 2577 dan Cap Go Meh Resmi Dibuka

www.wartaiainpontianak.com –Perayaan Imlek 2577 Kongzili dan Festival Cap go meh 2026 Kota Singkawang resmi dibuka dalam opening ceremony yang di gelar di Stadion Kridasana pada Minggu malam (15/2/2025). Kegiatan ini menjadi agenda budaya dan pariwisata tahunan yang dinilai memiliki nilai historis, sosial, serta dampak ekonomi bagi masyarakat.

Dalam sambutannya, Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie menegaskan bahwa perayaan Imlek dan Cap Go Meh bukan hanya sekadar agenda seremonial, melainkan simbol keberagaman dan toleransi di Kota Singkawang.

“Perayaan ini bukan hanya menjadi tontonan, tetapi momentum untuk mempererat persaudaraan, meningkatkan rasa saling menghormati, serta memperkuat toleransi di tengah keberagaman masyarakat kita,” ujarnya saat diwawancarai.

Ia juga menyoroti dampak ekonomi yang dihasilkan dari rangkaian kegiatan tersebut dan memberi harapan, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan sektor pariwisata.

“Kami berharap kegiatan ini mampu mendorong pergerakan ekonomi masyarakat. UMKM tumbuh, sektor pariwisata meningkat, dan seluruh masyarakat dapat merasakan manfaatnya,” tambahnya.

Ketua pelaksana dalam laporannya menyampaikan bahwa persiapan telah dilakukan sejak awal Januari 2026, termasuk dekorasi kota di sejumlah titik utama seperti Patung Naga, Jalan Niaga, Beringin Corner, serta penataan Lorong Lampion di Jalan Sejahtera.

Ia juga menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan berlangsung selama 18 hari, mulai 15 Februari hingga 4 Maret 2026, dan dipusatkan di Stadion Kridasana. Selain itu terdapat 246 stand UMKM di Lapangan dan 74 stand UMKM di luar lapangan.

“Kegiatan ini berlangsung selama 18 hari, mulai 15 Februari hingga 4 Maret 2026, berpusat di Stadion Kridasana dan menghadirkan lebih dari 300 stand UMKM,” jelasnya.

Wali Kota Singkawang menambahkan bahwa perayaan tahun ini terasa semakin istimewa karena berlangsung beriringan dengan bulan suci Ramadan.

“Perbedaan cara merayakan tidak pernah menjadi penghalang, justru memperkuat rasa saling menghormati. Inilah wajah Singkawang yang damai dan harmonis,” tegasnya menutup sesi wawancara.

Penulis : Uswatun Hasanah

Penyunting : Olive

Loading

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *