Home / Warta Pontianak / Terjebak Wajib Catering Mahasantri Terbebani

Terjebak Wajib Catering Mahasantri Terbebani

wartaiainpontianak.com Adanya program dalam suatu instansi pendidikan tentulah memiliki maksud serta tujuan tertentu, yang mana dalam hal ini jika kaitannya dengan pendidikan di dunia kampus pastilah memiliki korelasi antara para peserta didik dan tempat belajarnya, namun apa jadinya jika kebijakan yang di ambil bukannya mempermudah tapi malah memberatkan sebagian besar pihak?

Mahasantri IAIN (Institut Agama Islam) Pontianak (Mahasiswa yang bermukim di Ma’had) saat ini dibebani oleh kebijakan wajib catering dari Ma’had, yang mana kebijakan ini tentu kembali menguras kantong orang tua/Wali para Mahasantri IAIN Pontianak.

Rita Satu dari sekian banyak orang tua Mahasiswi, meskipun anaknya telah lulus dari program Ma’had namun ia turut prihatin atas kebijakan yang di ambil karena dinilai tidak memperhitungkan kondisi ekonomi dari orang tua/wali daripara Mahasantri.

“Saya ikut prihatin dengan kebijakan terbaru Ma’had Al Jami’ah, karena penghasilan orang tua santri tidaklah sama. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yg tidak stabil seperti saat ini. Mungkin sebagian merasa senang dan aman karena anak-anak mereka tidak perlu repot menyiapkan makan saat pulang kuliah, tapi sebagian juga mungkin merasa terbebani degan kebijakan ini. Harusnya pihak Ma’had berdiskusi bersama para orang tua/wali santri sebelum menetapkan kebijakan. Harus dicari solusi bersama mengenai langkah penetapan. Tidak boleh memikirkan keinginan pribadi. Maksud dan tujuan nya baik, Tapi jika menyangkut kepentingan bersama harus dimusyawarah kan terlebih dahulu. Menetapkan biaya yang menurut mereka standar yaitu Rp.12.000,00 per kotaknya tapi kenyataannya berat di sebagian kalangan. Berikan kebebasan untuk memilih ikut atau tidak. Bagi yg mampu silakan tapi yang tidak jangan dipermasalahkan, Supaya santri tidak terbebani degan aspek kehidupan selama tinggal di Ma’had. Tujuan mereka itu menuntut ilmu dengan tenang dan perasaan nyaman, bukan di bebani dengan kebijakan-kebijakan yg memberatkan orang tua, sehingga mempengaruhi mereka dalam belajar. Apalagi orang tua yg harus membiayai anak lebih dari seorang, sedangkan penghasilan minim”, jelas Rita.

Tim Wartaiain Pontianak sempat menemui Mudir Ma’had Dr. Moch. Riza Fahmi, M. S.I untuk dimintai keterangan terkait kebijakan wajib catering dan meminta transparansi atas regulasi yang diberikan oleh pihak ma’had terhadap Mahasantrinya.

Menanggapi hal tersebut Riza pun mengatakan bahwa sebelum mahasantri resmi mengikuti program mahad semuanya sudah menandatangani surat pernyataan yang menyatakan bahwa seluruh Mahasantri akan mengikuti peraturan dan ketetapan yang ada di Ma’had. “Sebelum mereka masuk seingat saya ada dibuatkan surat pernyataan untuk mengikuti semua program dan peraturan-peraturan di ma’had, dan itu termasuk pada kebijakan dari atasan kami yah dari rektor agar ma’had ini betul-betul menjadi pesantren” ungkap Riza

Riza pun turut menjelaskan terkait regulasi yang membenarkan langkah yang diambil yakni program wajib catering. “Jadi memang kebijakan Catering ditahun ini sudah di wajibkan untuk mahasantri,
Karena memang sekarang fokusnya Ma’ahad ingin menjadikan asrama mahasiswa ini betul-betul menjadi pesantren, pengelolaanya itu sama dengan pesantren, agar mereka tidak keluar, kalaupun keluar harus izin sama pengurus-penguruanya, kemudian juga untuk menjaga ketertiban juga, paginya ada kegiatan, siang kuliah dan malam itu kalau tidak di kasi catring takutnya mereka keluar.” Tambah Riza

Salah satu Mahasantri yang enggan di sebutkan namanya menyatakan bahwa sebelumnya tidak ada pemberitahuan yang jelas sebelum mereka sah menjadi Mahasantri, Yang ada hanyalah surat pernyataan terkait kewajiban mengikuti aturan dan tata tertib Ma’had namun tidak menyatakan secara spesifik terkait program wajib catering dengan ancaman akan adanya konsekuensi tertentu jika tidak mengikuti program tersebut. “Sebelumnya Ndak ada sih bang di kasi tau, di bilang nya waktu udh masuk mahad, paling kmarin cuma disuruh isi surat pernyataan” ungkap Mahasantri tersebut

Terkesan kurang rasional rasanya ketika mengetahui bahwa kebijakan wajib catering ini adalah salah satu upaya dan percontohan untuk merealisasikan Ma’had IAIN Pontianak sebagai pesantren yang sebenarnya, karena sesungguhnya yang harus dicontoh ataupun ditiru dari pesantren adalah pola pendidikan serta penerapan komunikasi sosialnya dalam kehidupan di Asrama bukan malah mencontoh kebijakan catering yang membebani orang tua / wali para Mahasantri.

Penulis: Rifqi Al-furqan
Editor: Tim Redaksi

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *