Home / Warta seremonial / Dari Layar ke Ruang Diskusi Mengulas Dampak Nyata Ilusi Tembakau

Dari Layar ke Ruang Diskusi Mengulas Dampak Nyata Ilusi Tembakau

warta Iain Pontianak- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bekerja sama dengan AJI Pontianak menggelar pemutaran film dokumenter “Di Balik Ilusi Tembakau” yang dirangkai dengan diskusi publik interaktif. Agenda ini berlangsung di Ruang Ulin, Lantai 2 Hotel Mercure Pontianak pada Kamis (04/06/2026)

Ketua AJI Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi, menyatakan bahwa film dokumenter tidak hanya dilihat sebagai hiburan semata. Lebih dari itu, media tersebut efektif dalam menciptakan ruang refleksi yang lebih luas bagi masyarakat.

“AJI Pontianak memandang bahwa film dokumenter bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media yang mampu membuka ruang refleksi dan memperkaya perspektif publik,” ujar Rivaldi.

Ia juga menegaskan bahwa AJI Pontianak tidak berniat mengarahkan opini masyarakat ke satu pandangan tertentu.

“Kegiatan hari ini tidak dimaksudkan untuk mengarahkan peserta ke satu pandangan tertentu. Justru kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang terbuka, kritis, berbasis fakta. Karena isu tembakau merupakan isu yang kompleks dan menyentuh banyak kepentingan,” tambahnya.

Diskusi lintas sektor ini dipandu oleh Wati Susilawati sebagai moderator dengan menghadirkan empat orang narasumber. Sesi pertama dibuka oleh penulis naskah film, Ambar Arum, yang menjelaskan proses kreatif di balik layar serta kisah nyata tentang para petani yang beralih ke komoditas alternatif melalui program diversifikasi lahan demi melepaskan diri dari ketergantungan pada industri tembakau.

Dari sudut pandang kebijakan, perwakilan Komite Nasional Pengendalian Tembakau, Tubagus Haryo Karbiyanto, S.H., menekankan bahwa Indonesia saat ini sudah berada dalam kondisi darurat rokok yang memerlukan perhatian serius.

“SOS itu tanda alam bahaya, dan Indonesia sebetulnya sudah sampai pada darurat rokok,” tegas Tubagus.

Beliau juga menyoroti bagaimana ilusi ini tidak hanya menyerang konsumen dan petani, tetapi juga kerap kali mengaburkan pandangan pemerintah dalam merumuskan dan menegakkan regulasi secara tegas.

“Tadi kalau kita lihat sih sebetulnya yang mengalami ilusi itu si korban karena dia terikat dengan iklan dan sebagainya. Petani juga terikat oleh keuntungan yang besar, Cuma yang belum digali betul adalah pemerintahnya pun mengalami ilusi. Pemerintahnya mengalami ilusi, sehingga ketika kita ngomongin pengendalian tembakau, sebetulnya yang kita alami adalah kita bicara tentang realitanya seperti apa,” ungkap Tubagus.

Dari sisi medis, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kalbar, dr. Antonius Decky, memaparkan tingginya risiko penyakit tidak menular akibat rokok dan tantangan penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Agenda ini lalu ditutup oleh akademisi Untan, Dr. Erni Panca Kurniasih, yang mengulas data sains serta dampak sosial juga ekonomi jangka panjang dari komnsumsi tembakau.

Penulis : olyne

Penyunting : Tim Penerbitan

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *