www.wartaiainpontianak – Persoalan ketidakjelasan persiapan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026 mulai mendapat titik terang setelah DEMA, SEMA, Serta perwakilan UKK, UKM, melakukan audiensi bersama Rektor Iain pontianak, Kamis (20/08/2026).
Audiensi tersebut berlangsung setelah sebelumnya muncul tuntutan dari organisasi mahasiswa pada Rabu (19/8/2026) terkait belum jelasnya alur koordinasi dan persiapan PBAK 2026. Dalam tuntutan tersebut, mahasiswa menyoroti sulitnya memperoleh informasi mengenai persiapan PBAK, belum optimalnya keterlibatan ormawa dalam kepanitiaan, serta belum adanya kejelasan mengenai data final mahasiswa baru yang dibutuhkan oleh panitia lapangan.
Indah Allawiyah selaku Ketua DEMA menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam pelaksanaan PBAK perlu dipersiapkan sejak awal agar persoalan yang terjadi di lapangan tidak kembali terulang. Ia juga menyampaikan bahwa informasi mengenai PBAK sebelumnya kerap diterima dalam waktu yang berdekatan dengan pelaksanaan kegiatan.
“ Dari tahun sebelumnya pasti PBAK diinformasikan satu minggu sebelumnya. Konsepnya kemudian tiba-tiba ada, sehingga kami mempertanyakan apakah kami dilibatkan atau tidak dalam kepanitiaan,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan ormawa bukan hanya berkaitan dengan kepanitiaan, tetapi juga berhubungan langsung dengan kondisi di lapangan. Mahasiswa yang terlibat dalam pendampingan menjadi pihak yang berhadapan langsung dengan mahasiswa baru maupun orang tua sehingga membutuhkan informasi dan kesiapan yang jelas sejak awal.
Menanggapi hal tersebut, Rektor IAIN Pontianak, H. Wajidi Sayadi, menekankan pentingnya membangun komunikasi dan kerja sama antara unsur pimpinan, bidang kemahasiswaan, serta kepanitiaan dalam menyukseskan PBAK 2026.
“Kesuksesan itu diukur salah satunya dari kepentingan bersama. Kebersamaan dan kekompakan antara satu dengan yang lain menjadi kata kunci,” ujar Rektor dalam audiensi.
Rektor juga menegaskan bahwa keberhasilan PBAK tidak hanya dilihat dari pelaksanaan kegiatan pada hari-H, tetapi juga dari proses hingga dampak setelah kegiatan berlangsung. Menurutnya, pendampingan terhadap mahasiswa baru tidak seharusnya berhenti setelah PBAK selesai.
Selain itu, Rektor meminta agar komunikasi mengenai PBAK dilakukan secara terarah untuk mencegah munculnya informasi yang berbeda-beda, terutama informasi yang sampai kepada mahasiswa baru maupun orang tua.
“Kalau bisa satu pintu. Nanti informasi jangan terima isu-isu, apalagi informasi kalau tidak melalui yang sudah disebarkan,” kata Rektor.
Hasil audiensi tersebut menghasilkan kejelasan mengenai jadwal pelaksanaan PBAK 2026. Berdasarkan hasil pembahasan, rangkaian kegiatan akan diawali dengan Pra-PBAK pada 30 Agustus 2026 dan berlangsung hingga 2 September 2026, dengan pelaksanaan yang mengedepankan koordinasi antara pihak kampus dan organisasi mahasiswa.
Penulis : Uswatun H
Penyunting : Tim Penerbitan
![]()





