Pelaksanaan Wisuda Angkatan XXII di Qubu Resort menjadi diskursus hangat dan ramai di media sosial juga lingkungan kampus. Perpindahan lokasi ke hotel mewah ini memicu beragam persepsi publik, mulai dari apresiasi terhadap peningkatan fasilitas hingga spekulasi memicu kecurigaan publik lantaran bertepatan dengan partisipasi anggota keluarga pimpinan kampus dalam barisan wisudawan. (07/04/2026)
Menanggapi polemik tersebut, Kabag Umum dan Layanan Akademik (ULA), Syahrun, menegaskan bahwa pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan kapasitas dan kelengkapan pendukung yang belum tersedia di internal kampus. Ia menyatakan bahwa langkah ini merupakan kebijakan pimpinan yang kemungkinan besar akan berlanjut.
“Tidak ada alasan khusus, perbincangan dan keinginan untuk kegiatan wisuda di luar tiap periode selalu dibicarakan di tingkat pimpinan. Sudah jadi kebijakan pimpinan di kampus untuk diadakan di luar sampai kita punya gedung yang representatif, begitu yang di infokan ke kami,” jelas Syahrun.
Meski demikian, Syahrun mengingatkan bahwa keberlanjutan skema ini akan tetap melihat situasi fiskal.
“Dalam memilih tempat ada pertimbangan harga, daya tampung, kelengkapan pendukung, akses kendaraan dan mobilisasi yang memadai, terlepas dari kebijakan keuangan pemerintah ya, kita lihat juga perkembangan keuangan negara yang diterapkan pada kementerian kementerian saat ini,” tambahnya.
Mengenai percepatan ijazah yang tampak kontras antara periode ini dengan angkatan sebelumnya, Syahrun mengakui adanya titik lemah pada prosedur lama. Ia menjelaskan bahwa selama ini kampus terjebak dalam birokrasi yang tidak sinkron.
“Proses penerbitan ijazah dengan teman-teman yang telah di wisuda terus-menerus kami pelajari. Sejak lama kita menganut sistem terpisah antara daftar wisuda dan pemberkasan ijazah, hasil evaluasi menunjukkan setidaknya ada beberapa titik sumber masalah terkait penyelesaian ijazah. Ditambah dengan proses yang lalu tersebut semua mengira bahwa ijazah otomatis diberikan setelah wisuda,” ungkapnya.
Meski terlihat sebagai kemajuan, kecepatan “ajaib” ijazah di periode ini justru mempertegas ketidakadilan bagi sekitar 300 alumni lama yang haknya masih luntang luntung akibat sistem lama yang disebut Syahrun “bermasalah”. Muncul pertanyaan tajam yakni apakah sistem satu pintu ini benar benar benar didedikasikan untuk efisiensi, atau sekadar penyambutan “karpet merah” agar prosesi wisuda anggota keluarga pimpinan berjalan tanpa cacat administratif.
Salzhabilaa, wisudawan terbaik periode sebelumnya, mengakui adanya lompatan kualitas dalam alur administrasi saat ini. Ia menyoroti perbedaan signifikan antara pengalamannya dahulu dengan kemudahan yang didapat wisudawan periode April.
”Dulu waktu wisuda periode November kami nggak langsung dapat map ijazah fisik yg lengkap. dulu di fakultas khususnye syariah harus tunggu surat keterangan lulus keluar baru bisa isi kuota wisuda. abis wisuda baru urus persyaratan ijazah, nunggu beberapa bulan baru keluar, dan kami cuman dapat map kertas biola itu bah. nah, periode April tu sudah salah satu bentuk alur administrasi yang baik karne diurus dalam satu pintu masuk aja di web, buat daftar wisuda sekaligus pembuatan ijazah,” pungkasnya.
Bagi Salzha, integrasi pendaftaran wisuda dan pembuatan ijazah dalam satu wadah web merupakan kemajuan birokrasi yang patut diakui. Namun, kemajuan ini juga membawa harapan besar agar standar pelayanan serupa diberlakukan secara adil seadil-adilnya tanpa terkecuali.
Penulis : Olyn
![]()





