Ilustrasi: Hailey Norris via Pinterest
Sebagian orang menyebut, bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat yang bersifat auditori. Namun, penulis pernah berjumpa dengan seorang teman tuli penghapal 24 Juz dari Al-Qur’an Isyarat. Penulis merasa gelisah atas pertanyaan yang kian menambah penasaran, terkait bagaimana teman tuli memahami konsep, “Tuhan tidak dibatasi tempat dan waktu”, sedangkan mereka memiliki keterbatasan bahasa. Seorang dosen ilmu tauhid pun mendaku tidak memiliki jawaban. Pada akhirnya, penulis hanya mampu mencari jawaban lain, meski tidak benar-benar menjawab. Penulis menggunakan pendekatan psikologi perkembangan kognitif dan bahasa yang dituangkan melalui tulisan berikut ini.
Dalam ilmu tauhid, kita akan mempelajari konsep tentang Tuhan melalui penalaran akal dan teks-teks suci. Dalam tradisi pesantren, pembelajaran ilmu tauhid dikategorikan menjadi beberapa tingkatan yang dimulai dari mubtadi’, mutawasith, hingga muntahi. Pembagian ini menegaskan, bahwa mempelajari tauhid meniscayakan kesiapan kognitif dalam memahami konsep dasar, sebelum berpindah ke level pembelajaran tauhid yang lebih tinggi (muntahi).
Sementara itu, tidak semua orang memiliki kemampuan dalam menalar sesuatu yang abstrak atau yang transenden, contohnya seperti anak-anak non-disabilitas dan anak berkebutuhan khusus (disabilitas intelektual). Untuk memahami kenapa hal itu bisa terjadi, penulis kemudian menggunakan perspektif teori psikologi perkembangan kognitif yang dicetuskan oleh Jean Piaget.
Mengapa mereka belum memiliki kemampuan berpikir abstrak?
Dalam teori tersebut, terdapat empat tahapan perkembangan kognitif yang mengkategorikan anak di umur 7-11 tahun berada di tahap ke tiga, yaitu operasional konkret.
Di tahap ini, kemampuan untuk berpikir abstrak dan filosofis masih belum dimiliki seorang anak. Akibatnya, ketika konsep tentang Tuhan itu diajarkan, anak akan cenderung untuk memvisualisasikannya dengan objek yang akrab bagi dirinya.
Barangkali, pengalaman ini juga pernah kita lakukan saat masih anak-anak: Kita membayangkan bahwa Tuhan adalah sesosok raksasa di atas awan, atau membayangkan objek-objek fisik yang lainnya.
Memasuki umur 12 tahun ke atas, anak mulai beranjak ke tahap operasional formal. Di tahap ini, mereka telah memiliki kemampuan memanipulasi mental atau daya imajinatif sehingga mampu memahami konsep ketuhanan yang melampaui batas ruang dan waktu.
Bahasa, Pengalaman, dan Teman Tuli
Setelah memahami tahap perkembangan kognitif di atas, penulis juga penasaran untuk mempelajari bagaimana teman-teman tuli dalam memahami konsep abstrak. Penulis tidak bermaksud untuk mendeskreditkan siapapun, tetapi hanya ingin meredakan kegelisahan dari rasa penasaran itu.
Ketika berkegiatan bersama mereka secara intens, penulis merasakan keterbatasan bahasa yang mereka alami saat memahami dan menyampaikan sesuatu. Sebab bagi teman tuli, bahasa isyarat adalah bahasa utama mereka, bukan bahasa ujaran yang digunakan teman dengar sehari-hari. Penulis menyimpulkan bahwa untuk berkomunikasi dengan teman tuli, teman dengar mengharuskan gesti, mimik wajah, dan bahasa yang berupa isyarat.
Berangkat dari input dan output bahasa yang berbeda, penulis kemudian berdiskusi dengan seorang teman (dengar) tentang: bagaimana teman tuli memahami konsep ketuhanan dalam ilmu tauhid yang melampaui batas ruang dan waktu?
Kami bersepakat, bahwa bahasa adalah perangkat utama dalam kemampuan kognitif, dan ia membantu kita untuk memahami konsep-konsep abstrak. Namun, teman tuli tidak familiar dengan bahasa non-visual-gestural; Mereka lebih nyaman dengan bahasa isyarat. Hal ini dibuktikan saat penulis menyaksikan seorang teman tuli membaca sebuah teks sambil menggerakkan jari-jemari tangannya. Di lain hari, teman tuli tersebut pernah mengirim pesan dengan struktur kalimat yang tidak sesuai dengan sintaksis baku (S-P-O-K).
Perspektif Pemerolehan Bahasa
Jika merujuk pada teori perkembangan bahasa Noam Chomsky, sebenarnya anak-anak yang dilahirkan sudah memiliki perangkat bawaan biologis dalam penguasaan bahasa. Chomsky menyebutnya dengan istilah language acquisition device (LAD). Berangkat dari teori tersebut, barangkali yang menjadi permasalahan utama bagi teman tuli adalah input bahasa melalui pendengaran atau akses bahasanya. Karena menurut Chomsky, perangkat bawaan itu perlu diaktifkan oleh paparan bahasa. Meski demikian, bahasa isyarat tampaknya belum mampu memudahkan teman tuli dalam memahami konsep-konsep yang abstrak.
Jangankan teman tuli, terkadang kita saja belum mampu untuk memahami “apa itu demokrasi” secara konkret pada situasi negara saat ini. Atau, kebebasan menyampaikan dan mengkritik beragam kebijakan yang “eksklusif”: tidak berpihak kepada rakyat banyak.
Lalu, apakah itu berarti teman tuli tidak memiliki daya imajinatif untuk memahami bahwa Tuhan tidak bertempat dan melampaui waktu?
Pertanyaan ini tidak sederhana. Jika merujuk pada konsep fitrah dalam Islam, serta khazanah fikih terkait kondisi disabilitas, dapat dipahami bahwa setiap keterbatasan memperoleh rukhsah (keringanan). Artinya, ketidakmampuan dalam menjangkau konsep tertentu tidak serta-merta menjadi kekurangan dalam dimensi keimanan.
Penulis : Rahcmad
Penyunting : Olive
![]()





