Home / Warta Utama / Dua Mahasiswa PAI IAIN Pontianak Bawa Geliat Kelapa ke NCC 4 Bali

Dua Mahasiswa PAI IAIN Pontianak Bawa Geliat Kelapa ke NCC 4 Bali

Gambar: Sanah

www.wartaiainpontianak.com – Dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) IAIN Pontianak angkatan 2024, Tiara Lestari dan Havizh Rasyied, akan mewakili almamater dalam ajang lomba esai tingkat nasional Nusantara Creative Competition (NCC) 4 yang digelar di Universitas Udayana, Bali, pada 19-20 September 2026,mundur dari jadwal semula yang tertera pada poster resmi, yakni 12-13 September 2026 karena adanya penyesuaian dan koordinasi dengan pihak kerja sama. Keduanya membawa karya berjudul “GELIAT KELAPA (Gerakan Literasi dan Inovasi Aksi Terpadu Kelapa): Inovasi Generasi Muda sebagai Solusi Pelestarian Lingkungan & Ketahanan Ekonomi Desa di Kabupaten Kubu Raya”.

Menurut Havizh, ide karya ini lahir dari kondisi yang mereka temukan langsung di Desa Sungai Itik, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, tempat mayoritas warga menggantungkan hidup dari hasil panen kelapa. Dalam beberapa tahun terakhir, harga kelapa di desa tersebut anjlok hingga hanya berkisar Rp1.300-Rp1.500 per butir angka yang menurutnya tak lagi cukup menutupi biaya produksi.

“Kondisi ini mendorong banyak masyarakat beralih ke perkebunan kelapa sawit karena dianggap lebih menjanjikan. Akibatnya, pohon-pohon kelapa mulai ditebang untuk diganti dengan sawit,” ujar Havizh.

Ia menambahkan, alih fungsi lahan tersebut berisiko besar karena Desa Sungai Itik berada di kawasan pesisir yang berdekatan dengan hutan mangrove. Berkurangnya pohon kelapa, menurutnya, berpotensi mengganggu fungsi mangrove sebagai penahan abrasi sekaligus meningkatkan risiko angin kencang dan intrusi air laut ke permukiman warga.

Dari sanalah “Geliat Kelapa” dirancang sebagai solusi untuk meningkatkan nilai ekonomi kelapa, agar masyarakat tetap memiliki alasan mempertahankan komoditas lokal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan pesisir.

Proses Penyusunan Selama Sebulan

Tiara mengungkapkan, penyusunan karya tulis ilmiah ini memakan waktu sekitar satu bulan, meski keresahan terhadap kondisi petani kelapa di Kubu Raya sudah lama mereka perhatikan. Tantangan terbesar, menurutnya, justru datang dari manajemen waktu di tengah kesibukan kuliah dan organisasi.

“Tantangan terbesar dalam menyiapkan karya adalah sebuah keinginan-keinginan melawan rasa malas serta membagi waktu, karena kita juga mahasiswa yang disibukkan dengan kuliah, tugas, dan organisasi,” kata Tiara.

Dalam proses penyusunannya, keduanya mendapat bimbingan dari dosen pembimbing Muhammad Adib Al-Faisi, serta motivasi dari Bibi Suprianto selaku mentor, dan dukungan dari komunitas penulis Heartware School.

Harapan untuk Desa dan Kampus

Havizh berharap, karya ini bisa mendorong generasi muda di Desa Sungai Itik untuk lebih semangat menciptakan inovasi dari produk turunan kelapa, sehingga tercipta lapangan pekerjaan baru dan kesejahteraan ekonomi desa yang lebih mandiri.

“Pesan dari kami, sebenarnya kita mampu memberdayakan hasil olahan dari desa untuk masyarakat desa itu sendiri. Mari bersemangat menciptakan produk mandiri dengan memberdayakan masyarakat lokal di Kabupaten Kubu Raya,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada mahasiswa lain yang masih ragu untuk mulai berkarya. “Jangan takut untuk memulai. Tidak mencoba sama dengan kalah, mencoba sama dengan kalah atau berhasil. Coba saja selagi itu baik,” kata Havizh.

Dukungan Prodi Sedang Diproses

Ketua Umum HMPS PAI IAIN Pontianak periode 2026/2027, Rangga Febriansyah, menyampaikan apresiasi tinggi atas prestasi yang diraih Tiara dan Havizh. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi kebanggaan tidak hanya bagi keduanya secara pribadi, tetapi juga bagi Program Studi PAI dan IAIN Pontianak secara keseluruhan.

“Prestasi ini merupakan kebanggaan, tidak hanya bagi mereka secara pribadi, tetapi juga bagi Program Studi Pendidikan Agama Islam dan IAIN Pontianak. Keberhasilan ini membuktikan bahwa mahasiswa PAI mampu bersaing di tingkat nasional melalui karya yang inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Rangga.

Sebagai organisasi mahasiswa, ia menegaskan HMPS PAI bersama Program Studi turut memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk doa, publikasi, maupun semangat moral, agar Tiara dan Havizh dapat tampil maksimal di NCC 4. Lebih jauh, Rangga mengungkapkan bahwa proses dukungan itu sudah bergerak ke tahap yang lebih konkret.

“Kemarin saya bersama kedua peserta sudah melakukan audiensi ke pihak Prodi, kemudian ke Kabag TU FTIK, dan Wakil Dekan III. Alhamdulillah, hasil audiensi sedang diproses di tahap administrasi,” ungkap Rangga.

Ia berharap proses presentasi Tiara dan Havizh di Bali nanti dapat berjalan lancar, dipermudah, dan membuahkan hasil terbaik. Menurutnya, capaian ini juga berpotensi memberi dampak positif terhadap penilaian akreditasi Program Studi PAI ke depan.

“Prestasi ini menjadi motivasi bagi kita semua, bahwa mahasiswa PAI tidak hanya unggul dalam bidang akademik dan keagamaan, tetapi juga mampu melahirkan gagasan yang solutif terhadap persoalan di masyarakat,” katanya.

Rangga berpesan agar ajang seperti NCC 4 dijadikan wadah belajar berkelanjutan oleh mahasiswa PAI lainnya, termasuk angkatan-angkatan baru yang akan datang. Ia berharap pencapaian Tiara dan Havizh dapat menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk berani mengikuti kompetisi serupa di tingkat regional maupun nasional.

“Kunci utamanya adalah berani memulai, belajar, disiplin, serta konsisten dengan apa yang ingin kita gapai untuk kedepannya,” pungkas Rangga.

Penulis : Yeni

Penyunting: Olive

Loading

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *