sumber : Kompasiana
Beberapa hari terakhir, warga Kalimantan Barat kembali akrab dengan satu kalimat: “listrik padam lagi.” Bukan semenit atau dua menit, melainkan berjam-jam. Pemadaman bergilir di sejumlah wilayah mengganggu aktivitas masyarakat dan perlahan seolah menjadi rutinitas yang harus diterima.
PLN menjelaskan bahwa pemadaman terjadi akibat kebocoran boiler pada salah satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Untuk menjaga keandalan sistem, pasokan listrik di berbagai daerah dibatasi selama proses perbaikan yang diperkirakan berlangsung sekitar satu minggu. PLN juga mengoptimalkan pembangkit yang tersedia dan menambah pasokan dari pembangkit mitra untuk mengurangi dampak terhadap pelanggan. Penjelasan tersebut penting. Namun, persoalannya tidak berhenti pada penyebab gangguan.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa satu gangguan pada satu unit pembangkit dapat memengaruhi pasokan listrik di begitu banyak wilayah. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem kelistrikan masih perlu diperkuat agar dampak gangguan tidak meluas.
Di era digital, listrik telah menjadi kebutuhan dasar yang menopang hampir seluruh aktivitas. Ketika listrik padam, bukan hanya rumah yang menjadi gelap. Mahasiswa kesulitan menyelesaikan tugas, pedagang kehilangan omzet, pelaku UMKM menghentikan produksi, pekerja tidak dapat melanjutkan aktivitas, dan banyak keluarga kehilangan produktivitas.
Yang paling melelahkan bukan hanya pemadamannya, melainkan pola yang terus berulang. Masyarakat diminta memahami dan bersabar, padahal kesabaran tidak dapat mengganti waktu kerja yang hilang, bahan makanan yang rusak, maupun pendapatan yang berkurang.
Pelayanan publik tidak diukur dari ada atau tidaknya gangguan, tetapi dari kemampuan mengatasinya. Masyarakat membutuhkan pemulihan yang cepat, informasi yang jelas, dan kepastian bahwa kejadian serupa tidak terus berulang.
Karena itu, pemadaman kali ini seharusnya menjadi momentum evaluasi. Perbaikan tidak cukup berhenti pada boiler yang mengalami kebocoran, tetapi juga harus mencakup penguatan kapasitas cadangan daya, modernisasi pembangkit dan jaringan transmisi, peningkatan pemeliharaan preventif, serta transparansi informasi selama proses pemulihan. Dengan demikian, gangguan pada satu pembangkit tidak lagi memicu pemadaman bergilir dalam skala luas.
Pada akhirnya, masyarakat tidak menuntut pelayanan yang sempurna. Mereka hanya berharap adanya sistem yang lebih andal, respons yang lebih cepat, dan komitmen nyata untuk mencegah masalah yang sama terus berulang. Sebab masyarakat tidak hidup dari penjelasan teknis. Mereka hidup dari listrik yang menyala.
Penulis : Fauziah
Penyunting : Tim Penerbitan
![]()





