KINERJA DAN KOMPETENSI GURU DALAM PEMBELAJARAN

0
39

wartaiainpontianak.com Guru sebagai proses pembelajaran yang dipandang bisa menjadi peran utama dalam meningkatkan peserta didik untuk membangun sikap positif dalam belajar, membangkitkan rasa ingin tau, menciptakan motivasi-motivasi dalam belajar. Tugas seorang guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih menilai serta mengevaluasi hasil pembelajaran.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ditegaskan bahwa pendidik (guru) harus memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini. Dalam agen pembelajaran guru adalah harapan pertama kesuksesan seorang peserta didik.

Terkait dengan pernyataan tersebut, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Fuad Hasan berpendapat bahwa, “sebaik apapun kurikulum jika tidak dibarengi oleh guru yang berkualitas, maka semuanya akan sia-sia. Sebaliknya, kurikulum yang kurang baik akan dapat ditopang oleh guru yang berkualitas”. Jadi, mutu guru adalah hal yang paling utama dalam peningkatan mutu pendidikan.

KINERJA GURU

Samsudin memberikan pengertian kinerja sebagai tingkat pelaksanaan tugas yang dapat dicapai seseorang dengan menggunakan kemampuan puan yang ada dan batasan-batasan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan Nawawi memberikan pengertian kinerja sebagai hasil pelaksanaan suatu pekerjaan. Pengertian tersebut memberikan pemahaman bahwa kinerja merupakan suatu perbuatan atau perilaku seseorang yang secara langsung maupun tidak langsung dapat diamati oleh orang lain.

Di pihak lain, Gibson, et al., Hersey & Blanchard, mendefinisikan kinerja sebagai tingkat keberhasilan yang dinyatakan dengan fungsi dari motivasi dan kemampuan. Sedangkan, Mulyasa mendefinisikan kinerja sebagai prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil kerja atau unjuk kerja.

Dari beberarapa definisi diatas kinerja adalah hasil pencapaian guru selama menjalani tugasnya selama periode yang memenuhi standar atau pencapaian selama berkerja. Untuk mengetahui prestasi yang dicapai maka kita harus melakukan penilaian kinerja.

Kinerja dalam Pembelajaran

Syafaruddin menjelaskan guru profesional yang bertugas mengajar di sekolah memerlukan keahlian khusus. Sebagai kegiatan yang berkaitan dengan pembinaan potensi anak yang sedang mengalami perkembangan, maka guru harus benar-benar ahli dalam tugasnya. Sedangkan Nurdin, menjelaskan seorang guru profesional harus memahami apa yang diajarkannya dan menguasai bagaimana mengajarkannya.

Dari penjelasan diatas menyatakan bahwa guru dalam pembelajaran menuntut untuk menguasai bahan ajar dan penguasaan materi pembelajaran sesui kurikulum yang berlaku demi memperlancar sebuah pembelajaran. Agar guru dapat mengajar dengan baik, maka guru harus menguasai dan paham tentang materi yang diajarkan, apabila guru tidak paham dengan materi yang akan disampaikan bagaimana seorang guru bisa menyampaikan kepada siswa. Peran guru dalam mengajar juga sangat penting karena hal ini menyangkut dengan pembelajaran siswa.

Berdasarkan pada uraian di atas, maka kinerja guru dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan seorang guru secara keseluruhan dalam periode waktu tertentu yang dapat diukur berdasarkan tiga indikator yaitu:

  • Penguasaan bahan ajar: Woolfolk menjelaskan bahwa pengetahuan bahan ajar oleh guru adalah salah satu faktor yang dapat menentukan keberhasilan guru dalam pembelajaran.Hal ini dipertegas oleh Hudoyo bahwa penguasaan, bidang studi (bahan ajar), oleh guru akan sangat membantunya dalam mengajar, sebab mengajar adalah suatu proses mengkomunikasikan pengetahuan kepada peserta didik. Jadi, agar guru berhasil dalam pembelajaran, maka guru haru menguasai bahan ajar sebaik-baiknya.
  • Kemampuan mengelola pembelajaran: Mulyasa menjelaskan bahwa pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks yang melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Aspek-aspek yang saling berkaitan tersebut, antara lain: guru, siswa, bahan ajar, sarana pembelajaran, dan lingkungan belajar.
  • Komitmen terhadap tugas: Menurut Partanto & Al Barry komitmen berkaitan dengan kesatuan janji dan kesepakatan bersama. Oleh karena itu, komitmen adalah suatu kesediaan atau keterlibatan menjalankan tugas untuk mencapai tujuan tertentu. Keterlibatan yang mana rela berkorban dan bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah ditentukan.

KOMPETENSI GURU

Kompetensi berasal dari kata competency (bahasa Inggris) yang memiliki arti ability (kemampuan), capability (kesanggupan), proficiency (keahlian).qualification (kecakapan), eligibility (memenuhi persyaratan), readiness (kesiapan), skill (kemahiran), dan adequency (kepadanan) (Marshal, 1994). Jadi, kompetensi disini menjelaskan tentang kemampuan seorang guru dalam mengajar, baik dalam ilmu, tingkah laku, mendidik, serta pengetahuan, keterambilan dan bekerja keras unruk pencapaian hasil yang maksimal.

Menurut Uzer Usman (1997), kompetensi adalah suatu hal yang meng gambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik kualitatif maupun kuantitatif. Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak secara kon sisten dan terus-menerus sehingga memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Depdiknas, 2003).

Ada beberapa unsur yang terkandung dalam kompetensi. Gordo menjelaskan beberapa ranah dalam konsep kompetensi: 1) pengetahuan, kesadaran dalam kognitif: 2) pemahaman, kedalaman kognitif dan afektif individu; 3) kemampuan, sesuatu yang dimiliki peserta didik untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya; 4) nilai, standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang, 5) sikap, perasaan atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar; 6) minat, kecen derungan seseorang untuk melakukan perbuatan (Mulyasa, 2005).

Undang-Undang Guru dan Dosen serta PP No. 19 Tahun 2005 menyatakan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, profesionalisme, sosial dan kepribadian. Berikut pen jabaran berbagai kompetensi tersebut.

Kompetensi pedagogik

Dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi pedagogik adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”. Kompetensi pedagogik yang dimaksud adalah mampu memahami peserta didik, membuat perancanaan dalam pembelajaran, mengevaluasi hasil pembelajaran, dan mengembangkan potensi peserta didik yang dimilikinya.

Kompetensi profesional

Kompetensi profesional adalah kemampuan pendidik dalam menguasa materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang memungkinkan mereka mengajarkan ilmu atau pengetahuan kepada peserta didik. Pendidik harus memahami atau menguasai materi pembelajaran, konsep pembelajaran, kurikulum yang diajarkan, menguasai struktur keilmuan dan memahmai konsep meta pelajaran yang terkait dengan kurikulum sekolah.

Kompetensi sosial

Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik berkomunikasi dengan siswa, guru, orang tua dan masyarakat sekitar demi menjalin komunikasi yang baik dan ramah. Kompetensi sosial yang perlu dimiliki pendidik antara lain adalah berkomunikasi baik dengan peserta didik dan orang tua wali siswa, bersikap sosialisasi, mampu berkerja sama dengan rekan-rekan sekolah, mampu berkomunikasi dengan rekan kerja dan memahami lingkungan yang ada disekitar.

  1. Kompetensi kepribadian

Guru sebagai tenaga pengajar, yang mana tenaga pengajar sangat berpengaruh dalam lingkungan sekolah maupun diluar sekolah. Jadi, pengajar harus menjadi contoh yang baik bagi lingkungan sekitar dengan menanamkan kepribadian yang baik didalam dirinya untuk menjadi contoh dan teladan yang baik bagi peserta didik agar peserta didik tampil sebagai sosok yang patut dan mentaati pendidik.

Dalam kaitan ini, Zakiah Darajat dalam Syah (2000) menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan anak didiknya terutama bagi anak didik yang masih kegil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah).

Dalam Undang-undang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi kepribadian adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia. arif, dan berwibawa, serta menjadi teladan peserta didik”. Gumelar dan Dahyat (2002:127) merujuk pada pendapat Asian Institut for Teacher Education, mengemukakan kompetensi pribadi meliputi (1) pengetahuan tentang adat istiadat baik sosial maupun agama, (2) pengetahuan tentang buaya dan tradisi, (3) pengetahuan tentang inti demokrasi, (4) pengetahuan tentang estetika, (5) memiliki apresiasi dan kesadaran sosial. (6) memiliki sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan. (7) setia terhadap harkat dan martabat manusia. Sedangkan kompetensi guru secara lebih khusus lagi adalah bersikap empati, terbuka, berwibawa, bertanggung jawab, dan mampu menilai diri pribadi.

Penulis: Yuni Safitri

Editor: Agus Rianto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here