Workshop BNN Kabupaten Kubu Raya, Pemateri Singgung Tentang Kode Etik Jurnalistik

0
136

wartaiainpontianak.com — Selasa (26/10) di Hotel Dangau, Kubu Raya, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Kubu Raya mengadakan kegiatan workshop tentang Penguatan Kapasitas Kepada Insan Media untuk Mendukung Kota Tanggap Ancaman Narkoba dan menariknya, pada sesi kedua workshop ini pemateri menyinggung tentang Kode Etik Jurnalistik.

Kegiatan workshop yang dibuka langsung oleh kepala BNN Kabupaten Kubu Raya ini dihadiri oleh beberapa media massa yang ada di Kota Pontianak dan juga mengundang dua orang pemateri. Dalam sambutannya, Kepala BNN Kubu Raya, AKBP. A.H Daulay, SH mengatakan bahwa nantinya para wartawan bisa ikut berpartisipasi dalam menyuarakan akan anti narkoba serta bahayanya narkoba terhadap kehidupan.

Pada sesi pertama workshop, pemateri menjelaskan tentang Peran Media dalam Menyuarakan Anti Narkotika dan yang menarik pada sesi keduanya, pemateri yaitu Salman menyinggung tentang Kode Etik Jurnalistik, di mana ia mengatakan bahwa jarang sekali wartawan melihat dan mempelajari kembali tentang undang-undang pers, namun ketika sudah tersandung masalah barulah mereka akan membahasnya kembali. “Saya mengingatkan kembali kepada wartawan yang mungkin tidak pernah tuh buka undang-undang atau mungkin setahun sekali ndak pernah, undang-undang pers-nya  baru dibuka seandainya sudah tersandung masalah,” ujar Salman selaku Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Pada pasal 1 Kode Etik Jurnalistik, ia menjelaskan bahwa wartawan harus bersikap independen, menghasilkan berita yang aktual dan berimbang, di mana setiap wartawan harus memeriksa akan suatu kebenaran atau fakta atas sebuah kejadian yang akan diangkat menjadi sebuah berita, sehingga nantinya tidak ada oknum-oknum yang merasa dirugikan akan berita yang diangkat. “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak bersikap buruk, di mana independen dan menghasilkan berita yang aktual yang dapat diuji kebenarannya,” tambahnya lagi.

Kemudian ia melanjutkan penjelasannya tentang 11 Kode Etik Jurnalistik, pasal per pasalnya ia jelaskan secara detail dan pada penjelasan pasal kelima ia menjelaskan bahwa seorang wartawan tidak menyebutkan identitas pelaku dan korban kejahatan, cukup dengan inisial atau alias saja dan bahkan jika kita menggunakan nama alias kita harus menghindari nama-nama yang bisa menjurus kepada suatu suku atau agama tertentu karna bahkan ini pun bisa menjadi masalah ke depannya. “Biasanya wartawan itu ya nama tersangka pakai nama inisial tapi aliasnya disebutkan nama contoh kacung, ketika menyebut kata kacung kontekstifnya siapa pelakunya yaitu pasti suku A , sehingga nantinya dapat menimbulkan pertikaian-pertikaian dan hal-hal yang kayak gini–peran wartawan–sangat kita harapkan jangan sampai hal-hal seperti ini muncul,” jelasnya.

Reporter : Almuminin
Editor : Mei Hani Anjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here