Isu Pembangunan Gedung Ma’had Kini Kian Dibicarakan di Tengah Panasnya Aksi Penolakan Wajib Ma’had

0
157

wartaiainpontianak.com Di tengah ramainya isu penolakan kebijakan wajib ma’had bagi mahasiwa baru IAIN Pontianak, membuat isu pembangunan gedung baru Ma’had Al-Jami’ah yang telah lama teredam naik kembali ke permukaan. Dengan hal ini, akhirnya wartaiainpontianak.com bergerak mencari kejelasan isu tersebut dengan menanyakan beberapa hal kepada Kepala Biro AUAK IAIN Pontianak, Selasa (18/10/2021).

Sebagai narasumber, wartaiainpontianak.com mewawancarai Sumarman, S.Ag selaku Kepala Bagian Umum Biro AUAK IAIN Pontianak untuk mencari kejelasan. Sumarman mengatakan memang benar akan ada pembangunan gedung ma’had yang baru. “Pembangunan gedung ma’had ini akan dibangun di Desa Kubu Padi, rencana pembangunan mahad ini masih dalam proses yang cukup lama, mungkin saja IAIN Pontianak saat sudah menjadi UIN, karena hanya baru niat dan rencana,” ujar Sumarman.

Pembangunan ini direncanakan oleh Pak Nasirudin selaku Kepala Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Amin. Ia ingin bekerja sama dengan kampus IAIN Pontianak untuk mendirikan ma’had di Desa Kubu Padi dengan tujuannya ingin membuat Desa Kubu Padi seperti Desa Pare yang ada di Jawa Timur, yang terkenal dengan sebutan “Kampung Inggris”. Pembangunan ma’had di Desa Kubu Padi, dapat hibahan lahan sebesar 20 hektar yang dihibahkan oleh Kepala Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Amin yang sekarang sedang dalam proses hibah dan setelah selesai proses hibah, baru kemudian akan dikembalikan nama ke pemerintah Republik Indonesia Kementrian Agama.

Sumarman mengatakan rencananya gedung ma’had yang akan dibangun di Kubu Padi ini hanya dikhususkan untuk mahasiswa program studi Bahasa Arab, dengan harapan menjadi agent of change (agen perubahan) di sana. “Di sana juga ma’had akan berbentuk ma’had tetapi terkhusus prodi Bahasa Arab, dengan harapan kita menjadi agent of change, jadi mahasantri di sana semuanya berbahasa Arab, keluar dari pondok pesantren berbaur dengan masyarakat juga berbahasa Arab,” ungkap Sumarman.

Selain pembangunan ma’had di Desa Kubu Padi, ternyata IAIN Pontianak juga berencana melakukan pembangunan gedung ma’had yang lainnya dalam waktu dekat ini. Hal ini juga dijelaskan oleh Sumarman, ia mengatakan ada lahan hibah yang dihibahkan oleh Drs. Sukirianto untuk pembangunan ma’had di Jalan Selat Panjang Kota Pontianak. Pembangunan ma’had ini untuk mahasiswa semester 1 yang akan tinggal di sana selama 1 tahun. “Dalam waktu dekat ini, lahan hibah juga, yang dihibahkan oleh Drs. Sukirianto di daerah Selat Panjang, kita akan bangun ma’had di situ, dan seluruh mahasiswa semester 1 akan diplot di sana tinggal selama 1 tahun,” ujar Sumarman.

wartaiainpontianak.com menanyakan kapan pembangunan ma’had tersebut, Sumarman menjawab bahwa untuk pembangunan ma’had secara keseluruhan ini diperkirakan akan segera dimulai pada tahun 2024 jika anggarannya ada. “Dugaan saya paling cepat 2024 kalau anggarannya ada, kalau anggaranya belum ada, tidak bisalah kita bangun,” jawabnya.

Sumarman mengatakan pembangunan ma’had di Jalan Selat Panjang ini direncanakan dapat menampung sekitar 2500 orang, dan proses hibah tanahnya juga sudah selesai, hanya tinggal menunggu balik nama kepada Pemerintah Republik Indonesia Kementrian Agama. “Di sana direncanakan dapat menampung 2500 orang, rencana pembangunan di situ proses hibahnya sudah selesai, tinggal balik nama. Kalau sudah selesai balik nama, barulah kita bisa bangun dan bisa kita usulkan pembangunannya,” jelas Sumarman.

Selain itu, sebagai anggaran pembangunan gedung ma’had itu diupayakan berasal dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). “Diupayakan dari SBSN, kalau SBSN nggak dapat barulah pihak murni. Kalau BNBP itu mungkin untuk pemeliharaannya, jadi yang diupayakan saat ini yaitu SBSN,” ujarnya.

Selanjutnya mengenai apakah gedung ma’had ini akan dialihfungsikam atau tetap menjadi “ma’had” Sumarman mengatakan akan difungsikan sebagai rusunawa untuk pegawai yang belum memiliki tempat tinggal. “Akan difungsikan sebagai rusunawa. Mengapa? Karena banyak pegawai kita yang melamar di sini berasal dari, ada yang dari Jawa, dari Sulawesi, dari Sumatra, saat awal datang di sini belum menemukan tempat tinggal, kita tempatkanlah mereka di situ dulu sampai mendapatkan tempat tinggal,” jelas Sumarman.

wartaiainpontianak.com juga meminta tanggapan tentang wajibnya ma’had kepada Sumarman, ia memberikan tanggapan bahwa masuk ma’had itu wajib karena banyak hal positif di dalamnya. “Ma’had itu wajib, karena banyak hal-hal positif. Pertama kalian akan mendapatkan teman, kemudian kalian dilatih proses perilakunya, tidur, dilatih untuk menerima kelebihan dan kekurangan orang, dan juga kalian pastinya akan diajarkan Baca Tulis Qur’an (BTQ),” tutur Sumarman.

Reporter : Agus Rianto
Editor : Mei Hani Anjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here