Transpuan di Bumi Khatulistiwa Dobrak Stigma, Mampukah?

0
344
Ilustrasi : Yosi Yopita Sari

“Aku adalah rumput liar. Tidak ditanam, diinjak-injak, tidak istimewa. Ia akan berbunga di musim semi. Meski tak seindah bunga persik, namun ia keindahan yang unik.”

Itu adalah gambaran Wiwid Ballabin saat ditanya tentang dirinya. Penyanyi Dayak asal Kabupaten Landak ini adalah seorang transpuan. Sejak kecil, kehidupannya di kampung tak jauh berbeda dengan anak-anak lain. Kecuali satu hal, Ia merasa merasa ada yang berbeda dengan dirinya.

“Aku membayangkan betapa sulitnya menempatkan diriku dalam kehidupan, aku akan sulit dalam pekerjaan, yang paling aku pikirkan soal jodoh. Aku harus bagaimana dengan kelanjutan dan kelangsungan generasi aku, karena menikah adalah tuntutan keluarga, lingkungan dan orang-orang,” kata Wiwid mulai bercerita.

Kondisinya yang berbeda ini, membuat Wiwid kerap merasa cemas. Tak jarang ia berpikir untuk mengambil nyawanya sendiri. Namun ia mengaku, kehadiran Tuhan kerap ia rasakan di masa-masa kritis dalam hidupnya.

Saat itulah Wiwid memutuskan untuk berhenti bertanya dan menerima perbedaan yang dirasakannya. Ia menikmati masa-masa bersekolah sama seperti anak-anak lain. Wiwid termasuk salah satu siswa berprestasi, karena itulah ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sanalah Wiwid mulai menyusun kepingan demi kepingan untuk mewujudkan mimpinya.

“Dari situ aku mulai mengubah paradigma hidup aku yang unik, hidup aku yang berbeda, hidup aku yang minoritas. Aku memang harus berjuang, tapi aku tidak boleh lelah. Aku enggak boleh mati. Aku harus memberi manfaat dalam kehidupan, meski dihati kadang berlawanan batin dan pergumulan, aku berusaha tetap kuat,” katanya.

Mengenang masa-masa kuliah di Yogyakarta, Wiwid mengaku banyak mendapat pengalaman berharga. Di kota itu, ia akhirnya memutuskan menerima dan mencintai dirinya sendiri. Terkait cara berpakaian ia tak ambil pusing jenis pakaian seperti apa yang dikenakannya.

“Setidaknya aku telah coming out pada diri sendiri dan membuka diri kepada lingkungan sekitar. Aku tidak memakai pakaian yang sering diidentikkan dengan perempuan-perempuan karena aku pikir ini bukan soal penampilan,” ujarnya.

Usai lulus dari Universitas, Wiwid kembali ke kampung halamannya dan bekerja sebagai guru honorer di salah satu sekolah di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Setelah 4 tahun bekerja, Wiwid mencoba peruntungan dengan mengikuti tes CPNS. Ia dinyatakan lulus dan berhak menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Meski tercatat sebagai ASN laki-laki, Wiwid mengaku ia tetap terbuka dengan identitas seksualnya saat bekerja.

Karena jika urusan kantor aku pada prinsipnya bekerja bukan dengan alat kelamin. Kita kerja dengan kompetensi dengan totalitas. Saat di kantor aku tidak pakai atribut yang dianggap tidak sesuai. Normal saja. Intinya yang aku tanamkan bukan kebencian. Selalu menjadi pribadi baik yang menyenangkan dan terpenting tanggung jawab,” kata Wiwid.

Selain bekerja sebagai ASN, Wiwid juga seorang seniman. Ia adalah seorang penyanyi Dayak yang cukup terkenal. Profesinya sebagai seniman inilah yang membantu Wiwid untuk mengekspresikan identitas gendernya tanpa khawatir.

Tak hanya Wiwid, Saya pun merekam langsung cerita lainnya dari satu di antara transpuan di Pontianak. Okta panggilan akrabnya. Ia kini sibuk berkarya sebagai make up artist (MUA) itu mengaku perjalanan hidupnya hingga kini terbuka menunjukkan bahwa dirinya adalah transpuan tidaklah mudah.

Ia kerap mendapat diskriminasi hingga perisakan oleh orang-orang di sekitarnya. Sama seperti Wiwid, Okta bahkan pernah berencana untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Menurutnya, banyak orang memandang transpuan selalu dalam kacamata negatif.

“Entah gak, dibilang laki bukan, dibilang cewek juga bukan. Bayangkan, bagaimana perasaan pas digitukan,” ungkap Okta.

Reaksi tidak menyenangkan juga diakui Okta datang dari lingkungan keluarga. Ia kerap merasa dikucilkan hanya karena berbeda. Namun perlahan orang tuanya mulai memahami Okta dan memberikan izin untuk melakukan apapun yang ia ingin lakukan selama tidak melanggar hukum dan norma. Itulah awal Okta memutuskan mendalami ilmu kecantikan dan salon.

“Di kampung dulu kan kerjanya sawit, noreh (menyadap karet), beladang (berkebun), itu nama badan tak teruruslah, berotot, kulit hitam. Setelah ke Pontianak, saya asah skill di bidang salon. Tahun 2014/2015 gitulah kerja di Pontianak Timur, dari situ lah belajar salon sampai sekarang. Selama satu tahun lebih,” ujarnya.

Okta akhirnya memberanikan diri untuk berpenampilan seperti yang ia mau. Ia juga memutuskan pulang ke kampungnya dengan identitas baru, bertemu orang tua dan menunjukkan bahwa ia mampu. Bahkan, ia mampu menghadiahkan kalung emas untuk orang tuanya saat perayaan Natal.

“Itulah kali pertama mengambil hati mama. Awalnya tu sedikit-dikit mulai paham sama anaknya. Dalam artian udahlah anak aku gini-gini itu bagus, gak narkoba, gak menye-menye,” katanya.

Wiwid dan Okta adalah dua dari banyak sekali cerita transpuan yang berjuang mencari pekerjaan. Apalagi ingin menjadi pegawan negeri sipil. Seperti yang ceritakan oleh Dosen Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Kalimantan Barat Subandri Simbolon.

Menurut Subandri Simbolon, kesempatan yang Wiwid dapat untuk bekerja sebagai ASN dengan identitas gender berbeda, masih menjadi tantangan di Indonesia.

Menurut Subandri, stigma dan stereotip yang disematkan oleh masyarakat terhadap transpuan di Indonesia, menjadikan transpuan mengalami keterbatsan akses mendapat ragam jenis pekerjaan. Terutama di institusi pemerintah.

Subandri melanjutkan, sebenarnya di dalam undang-undang, tidak ada peraturan yang melarang transpuan bekerja di institusi pemerintah. Namun, nyatanya hingga kini pemerintah tak siap menyikapi apabila ada transpuan yang menjadi PNS.

“Seperti ada beberapa kasus kemarin yang PNS itu, pemerintah bingung menyikapi masalah ini karena tidak ada dalam peraturan. Karena dalam UU ini tidak terdapat peraturan yang melarang hubungan sejenis. Tidak ada peraturan pemerintah yang mengatur Transpuan gak boleh jadi PNS. Tapi apakah transpuan terekognisi, sudah diakui sebagai PNS? Enggak, karena kalau dilihat syaratnya, ya hanya Laki-laki, Perempuan. Jelas sekali enggak ada rekognisi terhadap transpuan. Kalau mereka menjadi PNS dengan menggunakan identitas sesuai dengan orientasi seksual diri mereka sendiri, enggak bisa karena negara belum merekognisi keberadaan mereka,” sambungnya.

Pun disampaikan Subandri sulit bagi transpuan untuk mendaftar dengan identitas nama dan gender yang mereka inginkan. Akan lebih mudah apabila dilakukan dengan menggunakan identitas yang tertera di dalam KTP. Padahal kebanyakan transpuan sudah tidak menggunakan identitas lahir mereka seperti yang tertera di KTP.

Menurut Subandri, penting bagi orang-orang yang terlibat di instansi pemerintah mengerti akan nilai-nilai hak asasi manusia, seksualitas dan identitas gender. Sehingga edukasi ini tidak hanya menjadi edukasi publik secara umum saja. Subandri sadar, ini adalah proses yang panjang dan menjadi tugas bersama semua lapisan masyarakat.

“Pendidikan publik tentang HAM memang masih perlu disebarluaskan. Bahwa LGBTQ adalah identitas seksual dan privasi. Masyarakat yang hanya meyakini identitas seksual laki dan perempuan, harus mampu menerima bahwa ada identitas seksual lain di tengah masyarakat itu sendiri,” katanya.

Pernyataan Simbolon ini dikuatkan oleh Ketua Komnas Perempuan, Andy Yentriyani. Bahwa hingga saat ini negara belum mengakui adanya identitas gender ketiga, di mana Negara hanya mengenal dan mengakui dua identitas gender saja, yaitu laki-laki dan perempuan.

Peran negara pada identitas gender lain juga maknanya tak selalu baik. Ia mencontohkan bahwa banyak transpuan yang kerap dimasukkan dalam program rehabilitasi di Kementrian Sosial karena dianggap mengganggu ketertiban umum.

“Dalam kacamata Komnas Perempuan bahwa apabila mereka menjadi miskin maka akan menjadi masalah sosial. Karena dari awal tidak adanya penerimaan pada kehadiran mereka. Penerimaan kehadiran mereka ini dapat memengaruhi itu tadi, soal mereka bisa sekolah atau enggak, soal sumber daya dia,” lanjutnya.

Andy mengatakan, advokasi pertama yang selama ini diupayakan oleh Komnas Perempuan adalah agar kelompok minoritas gender ini bisa diterima oleh negara. Sebab dengan penerimaan ini mereka bisa memiliki kesempatan untuk mendapat hak yang sama dengan warga negara lainnya.

Di sisi lain pemberian bantuan pada kelompok transpuan juga bukan tanpa kendala. Kata Andy, pemberian bantuan pada Transpuan belum merata. Ada pula anggapan yang menyebut jika memberi bantuan sosial pada transpuan mereka dianggap mendukung gerakan LGBT.

Tak hanya itu saja, keamanan untuk transpuan dari diskriminasi, juga terus diupayakan Komnas Perempuan.

“Jika teman-teman transpuan mendapatkan kekerasan ketika di razia dan mendapatkan kekerasan, Komnas Perempuan akan memantau dan mendesak adanya pendampingan secara hukum,” tegasnya.

Wiwid dan Okta hanyalah dua dari ratusan ribu transpuan di Indonesia, yang tak memiliki kesempatan yang sama.

Sejumlah cacian dan hinaan saat mereka memilih identitas gender saat ini, menjadi pecut yang kuat bagi mereka untuk berdedikasi, di tengah sulitnya zaman.

“Aku punya filosofi hidup yang kuat. Di mana aku adalah Rumput Liar. Ia tidak ditanam, tapi diinjak-injak, bahkan tidak mendapatkan tempat istimewa dalam kehidupan. Namun, Rumput Liar tersebut tetap tumbuh dan hidup. Ia akan berbunga di musim semi. Meski bunganya tak seindah bunga persik namun ia tetap memancarkan keindahan yang kecil dan unik,” tutup Wiwid. ***

Liputan ini menjadi bagian dari program Pelatihan dan Hibah Story Grant: Anak Muda Suarakan Keberagaman yang didukung oleh USAID MEDIA, Internews dan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK).

Penulis : Yosi Yopita Sari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here