Menyelami Keberagaman Sudut Pandang Pernikahan Endogami Syarif/Syarifah

0
429

PONTIANAK –  Pernikahan endogami syarif/syarifah di kalangan dari keturunan Arab di Pontianak,  disikapi dengan beragam sudut pandang. Ada yang menganggap sebagai bagian dari menjalankan ajaran agama dan budaya generasi sebelumnya.  Ada pula yang menganggap bahwa perlu penafsiran ulang karena agama mengajarkan kesetaraan.

Syarifah Ema Rahmaniah Almutahar, dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura dalam artikelnya berjudul “Multikulturalisme dan Hegemoni Politik Pernikahan Endogami: Implikasi Pernikahan dalam Dakwah Islam” yang diterbitkan pada 2 November 2014, menjelaskan tentang pemaknaan istilah pernikahan endogami. Ema mengutip buku berjudul “Sosiologi Keluarga” karya  William, yang menyatakan bahwa pernikahan endogami adalah suatu bentuk pernikahan yang berlaku dalam masyarakat, yakni hanya memperbolehkan anggota masyarakat kawin atau menikah dengan anggota lain dari golongan sendiri.

Dalam artikelnya, Ema juga mengutip buku berjudul “Hukum Adat dalam Tanya Jawab” karya Ridwan Halim, yang menyebutkan bahwa pernikahan endogami adalah suatu sistem pernikahan yang mengharuskan kawin dengan pasangan hidup se-klan (satu suku atau keturunan) dengannya atau melarang seseorang melangsungkan pernikahan dengan orang yang berasal dari klan atau suku lain.

“Tegasnya, pernikahan endogami ini adalah pernikahan antar kerabat atau pernikahan yang dilakukan antar sepupu (yang masih memiliki satu keturunan) baik dari pihak ayah sesaudara (patrilineal) atau dari ibu sesaudara (matrilineal),” kata Ema.

Menurut dia, kaum kerabat boleh menikah dengan saudara sepupunya karena mereka yang terdekat dengan garis utama keturunan dipandang sebagai pengemban tradisi kaum kerabat, perhatian yang besar dicurahkan terhadap silsilah atau genealogi.

Pernikahan endogami tak dijalankan Lili (bukan nama sebenarnya). Dia merupakan syarifah yang mempertanyakan ulang penafsiran tentang pernikahan endogami.

Lili memilih menikah dengan non-syarif. Diai berpendapat bahwa tidak ada perbedaan antara pernikahan syarif/syarifah yang sekufu dibanding pernikahan syarif/syarifah yang tidak sekufu. “Bagi saya pilihan syarif atau bukan syarif, tergantung yang punya badan. Pasangan seperti apa yang dia mau dan takdir dari Allah,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Bagi Lili dan keluarganya, syarif/syarifah sama saja dengan non-syarif/syarifah. Karena bagi Lili yang terpenting adalah seseorang dapat menjadi teladan untuk orang lain. “Bagi saya yang terpenting seorang syarifah atau syarif, harus mampu memberi contoh dan teladan yang baik buat manusia yang lain,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, sebelumnya pernah dekat dengan seorang lelaki yang sekufu dengannya, namun hubungan mereka tidak bertahan lama. “Karena syarif itu selingkuh dengan non-syarifah dan menikah,” ujar Lili.

Lili juga memikirkan ulang tentang larangan bagi syarifah menikah dengan non-syarif. Dia merasa aturan tersebut tidak adil. Dia mempertanyakan, bukankah Islam menempatkan perempuan di tempat yang mulia? “Jika memang benar syarif pasangannya syarifah, lalu kenapa Allah menakdirkan dengan yang lain. Semua sudah Allah yang ngatur. Kita hanya menjalani saja,” ujar Lili.

Sikap dan pilihan untuk menikah dengan non-syarif juga dijalani Indah (bukan nama sebenarnya). Dia merasa senang dan bahagia, karena bisa memilih pasangan tanpa ikut campur orang lain. “Benar-benar memilih sesuai dengan hati dan perasaan,” ungkap Indah.

Keluarga Indah tidak menganut budaya bahwa syarifah harus menikah dengan syarif. Keluarga besar Ayah Indah tidak melarang pernikahan antara syarifah dan non-syarif. Bahkan ayah Indah tak mempraktikkan budaya pernikahan endogami. Dia menikah dengan perempuan non-syarifah.

Eko (bukan nama sebenarnya) suami Indah, mengaku diterima oleh keluarga besar istrinya. “Malahan keluarga besar istri seneng banget dengan pernikahan kami. Karena kebetulan istri adalah anak pertama. Apalagi sekarang udah dikasih (dikaruniai) anak. Jadi makin seneng,” ungkap Eko.

Ikuti Ajaran Orangtua Serta Guru

Syarifah Nurul Jannah Al-Qadrie menikah dengan seorang syarif. Ia meyakini bahwa seorang syarif harusnya menikah dengan syarifah. Perkawinan harus sesama syarif/ syarifah dan melarang keras untuk menikah dengan non-syarif/syarifah. Terutama syarifah (perempuan) dilarang keras untuk menikah dengan non-syarif.

“Syarifah hanya boleh menikah dengan non-syarif apabila telah memenuhi beberapa syarat,” katanya saat ditemui pada Jumat (26/03/2021).

Menurut dia beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain harus meminta izin kepada keluarga besarnya. Syarat lainnya adalah menyanggupi konsekuensi nasab syarifah akan terputus, akibatnya anak-anak mereka tidak bisa menggunakan gelar marga syarif/syarifah.

Tidak hanya itu, menurut Jannah bahkan seorang syarifah yang menikah dengan non-syarif akan dikucilkan oleh keluarganya. Keluarga syarifah tidak akan dihadiri keluarganya, lantaran lebih memilih menikah dengan non-syarif.

Dengan berbagai konsekuensi tersebut, Jannah bercerita seringkali perempuan bergelar syarifah akhirnya memutuskan menerima perjodohan dengan syarif. Adapula syarifah yang lebih memilih tidak menikah, daripada harus memutuskan nasabnya. Dengan alasan, syarifah yang tidak menikah tersebut akan mendapat balasan yang lebih baik dari apa yang mereka harapkan di dunia.

Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal

Ema Rahmaniah Almutahar, syarifah yang merupakan dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura menyatakan ada beberapa faktor penyebab syarif/syarifah menolak pernikahan endogami.

“Faktor pertama, pola menetap atau tempat tinggal yang segregatif atau tersebar dan tidak menetap dalam komunitas syarif,” kata Ema.

Faktor kedua adalah pola pendidikan yang modern sehingga lebih membaur dengan masyarakat umum. Sedangkan faktor ketiga, kurang mendapat pengaruh internal terutama sekali keluarga atau orangtua. Faktor keempat, kurang mendapat pengaruh eksternal terutama dari lembaga sosial.

Selain kalangan syarif/syarifah yang menolak pernikahan endogami, menurut Ema ada kalangan yang berpikir moderat. “Artinya tidak anti dengan endogami, namun tidak mewajibkan endogami karena menyakini endogami sebagai tradisi,” jelas Ema.

Dia menyimpulkan bahwa pada umumnya syarif/syarifah dengan pola pemikiran moderat cenderung hidup dalam pola pemukiman dan interaksi yang lebih membaur. Selain itu, mereka memiliki latar belakang pendidikan pesantren atau lembaga pendidikan agama dengan pola modern, bahkan cenderung mengecap pendidikan umum dan perguruan tinggi.

“Pola pendidikan internal yang diterima juga karena bersifat moderat, bisa jadi karena latar belakang pendidikan orangtua, serta orangtua mereka melakukan pernikahan campuran (ayah syarif ibu bukan syarifah). Artinya, pengaruh internal ini juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, yang datang dari keluarga ibu maupun lingkungan besar lainnya,” papar Ema.

Pemahaman Masyarakat yang Bias Gender

Menyikapi tentang syarif/syarifah yang menerapkan atau tidak menjalankan pernikahan endogami, Arniyanti, seorang pegiat keadilan gender, menilai pentingnya memahami tentang pilihan secara sukarela yang mendasari pernikahan.

“Akad nikah yang dipakai adalah suka sama suka, ikhlas sama ikhlas, ridho sama ridho. Maksudnya semua tergantung kepada orang yang melakukan, maupun tidak (melakukan) perkawinan endogami ini. Karena itu termasuk hak dan pilihan masing-masing individu,” katanya.

Arni mengingatkan bahwa pada dasarnya pernikahan merupakan kontrak sosial yang tidak bias gender. Sehingga pernikahan semestinya dipahami sebagai perjanjian berdasarkan pilihan secara sukarela dan setara antara seseorang dengan pasangannya.

Sebaliknya dia menilai pemahaman masyarakat yang bias gender, telah menempatkan perempuan di posisi yang lemah dalam pernikahan endogami. Syarifah (perempuan) dilarang keras untuk menikah dengan non-syarif. Sehingga dikembangkan stigma bahwa perempuan bergelar syarifah tidak memiliki hak memilih pasangan hidupnya dari kalangan non-syarif.

“Yang bias gender itu adalah pemahaman masyarakat yang konservatif, tidak mau memahami pokok persoalan bahwa stigma seperti itu sangat merugikan perempuan,” ucap Arni.

Menurutnya bias gender inilah yang mesti direkonstruksi oleh masyarakat, sebab budaya patrilineal yang hadir menjadi memberatkan bagi perempuan. Padahal bisa jadi seorang syarifah ingin memilih menikah dengan non-syarif.

Ketika ditanyakan lebih lanjut tentang penafsiran ajaran agama dalam pernikahan endogami, Arni menyatakan bahwa terdapat beragam ilmu fikih. Pada setiap mazhab terdapat perbedaan penafsiran, karena pemikiran dan pemahaman manusia itu tidak sama. Pemahaman tersebut akan mempengaruhi seseorang apakah memilih akan menjalankan atau tidak menjalankan pernikahan endogami.

Bahagia Bisa Memilih Pasangan 

Sebagai seorang perempuan yang merdeka dengan pilihannya, Lili bersyukur memiliki orangtua yang tidak mengharuskannya untuk menikah dengan syarif, sehingga dia tidak hidup dalam pemahaman bias gender tentang pernikahan endogami.

Lili terlahir dari keluarga yang terbuka terhadap pernikahan non-syarif/ syarifah. Orangtuanya memperbolehkan pernikahan Syarif/Syarifah yang tidak sekufu, asalkan akidah dan akhlaknya bagus.

Dia bahagia menikah dengan lelaki pilihannya. Mereka sudah menjalani pernikahan selama belasan tahun dan dikaruniai tiga anak.

Kebahagiaan karena menikah dengan lelaki pilihannya juga dirasakan Indah.  Ayah, ibu, dan keluarga besarnya yang tidak melarangnya menikah dengan non-syarif, menjadi dukungan baginya untuk membina rumah tangga berlandaskan kesetaraan perempuan dalam memilih pasangan hidupnya. (*)

 

Liputan ini menjadi bagian dari program Pelatihan dan Hibah Story Grant: Anak Muda Suarakan Keberagaman yang didukung oleh USAID MEDIA, Internews dan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK).

Penulis : Jhihan Rahmadhani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here