Akankah Kuota Di-PHP Lagi

0
176
Sumber ilustrasi : Google

www.wartaiainpontianak.com – Masalah subsidi kuota internet yang menjadi polemik di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak hingga kini belum ada tanda-tanda menuaikan hasil. Banyak mahasiswa yang kecewa–sangat kecewa hingga tidak peduli lagi akan masalah subsidi kuota tersebut.

Kuota internet merupakan batasan pemakaian internet dalam waktu tertentu. Contohnya kuota internet 1 bulan sebesar 5 GB, ini berarti, pengguna bisa mengakses internet sebanyak 5 GB saja dalam sebulan. Apabila penggunaan melebihi dari kuota pada periode tersebut, maka koneksi internet akan terputus. Sebaliknya jika kuota masih banyak akan tetapi melebihi batas waktu tersebut, maka kuota akan hangus.

Begitu halnya kuota internet selama perkuliahan online yang berlangsung selama setahun terakhir ini, entah sudah berapa banyak giga byte yang digunakan para mahasiswa untuk melakukan perkuliahan dalam jaringan (daring) ini. Namun sayangnya, selama perkuliahan daring dilaksanakan, mahasiswa IAIN Pontianak belum sedikit pun merasakan kuota gratis dari pihak kampus.

Adapun tanggapan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Abdul Mukti Ro’uf, MA mengenai hal ini, “Ada kuota itu.. Begini, mahasiswa yang kuliah daring itu tidak mungkin tanpa bantuan kuota. Ini soal waktu saja yang belum pas kapan pembagian kuotanya. Kemarin sudah dirapatkan soal kuota mahasiswa, ada yang dari pusat ada juga yang dari sini. Ini baru rapat anggaran karena ini menyangkut soal keuangan negara, jadi biasanya pencairan termasuk belanja kuota mahasiswa itu paling cepat awal bulan Maret saat awal semester besok,” jelas Mukti saat diwawancarai wartaiainpontianak.com, Sabtu (20/2).

Perihal semester ganjil yang tidak mendapatkan kuota gratis tersebut, disebabkan kesalahan data yang terkirim tidak terverifikasi di pusat, tetapi akan diganti pada tahun ini, jadi apa yang telat di tahun 2020 akan dialihkan pada tahun 2021 ini. “Harusnya begitu, kalo misalnya kemarin 5 GB berarti untuk apa namanya harus digantikan tahun ini tapi persisnya belum ada keluar, tapi begitu keluar pasti akan disosialisasikan,” terang Mukti.

Selain itu, agar kuota ini terealisasikan oleh pihak kampus dan pusat, tentunya mahasiswa harus melunasi UKT terlebih dahulu. Karena seperti yang sudah dikatakan Mukti sebelumnya, bahwa ini menyangkut keuangan negara, pencairan termasuk belanja kuota mahasiswa. Dan untuk pembagian kuota nantinya tidak ada kartu khusus dan mengharuskan mahasiswa memakai kartu yang ditentukan (Indosat misalnya), akan tetapi tergantung nomor handphone mahasiswa. Jadi tidak harus Indosat, karena providernya tidak hanya Indosat. tergantung nomor existing mahasiswa. ”Maka dari itu yang paling susah kemarin mendata nomor existing mahasiswa sedangkan ada yang mahasiswa yang menggunakan provider Telkomsel, Three, macem-macem,” ujar Mukti.

Ketika melakukan kuliah daring pada semester genap di tahun 2020, sebenarnya mahasiswa sempat mendapatkan kuota gratis sebesar 30 GB dari Indosat. Namun kuota tersebut hanya dapat digunakan untuk mengakses laman e-learning yang dikelola oleh Pusat Teknologi Informasi dan Data (PTID) melalui siakad, nah sedangkan kebanyakan dosen yang ada di IAIN Pontianak ini menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet, Classroom dan juga via WhatsApp untuk perkuliahan daringnya. Yang mana dari aplikasi-aplikasi ini semuanya hanya dapat diakses menggunakan kuota reguler, sehingga artinya kuota gratis 30 GB itu menjadi sia-sia.

“Nah itu soal koordinasi fakultas dengan para dosen yang menggunakan ini. Misalnya aplikasi Google Meet, berarti si dosen memilih aplikasinya sendiri dan akhirnya mahasiswa butuh kuota baru, subsidi kuotanya jadi nggak kepake dong. Nah ini yang akan terus dievaluasi sistem pembelajaran jarak jauh ini kita menggunakan apa. Sebenarnya bisa beda-beda, misalnya fakultas A menggunakan ini, tapi yang penting ada kepastian kuota di situ, itu yang pertama. Yang kedua, aplikasi ini bisa digunakan oleh semua mahasiswa.. Sistem pembelajaran jarak jauh ini berkaitan dengan aplikasi yang dipilih dan ketersedian kuota itu memang harus jadi koreksi bersama,” jelas Mukti menanggapi.

Karena perkuliahan yang akan datang masih tetap daring, maka subsidi kuota akan dibagikan seperti yang Abdul Mukti jelaskan di atas. Dan untuk pendataan nomor mahasiswa nantinya sudah pasti PTID yang akan mendata. “Tergantung siapa yang mendata, kalau PTID mungkin bisa pakai angket bisa juga ambil dari data lain. Tapi ada beberapa data yang tidak valid jadi kalau kita gunakan data itu, ya sangsut. Kita tidak dapat memakai data untuk kuota yang diisi setahun yang lalu, karena data tahun lalu sama sekarang beda, kalau kami paksakan pakai data itu nggak bakalan masuk,” tegas Sumin selaku ketua PTID.

Bukan hanya itu saja, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Pontianak bahkan sudah beberapa kali turun tangan untuk memecahkan masalah yang terjadi akan tetapi hingga pergantian ketua pengurus masalah subsidi kuota ini belum juga menuaikan hasil. “Untuk dari DEMA ya, masalah kuota ini sebenarnya sudah diperjuangkan dari kepengurusan DEMA sebelumnya, masanya Bang Fahmi,” ucap Sopiallah selaku Ketua DEMA saat ini.

DEMA telah melakukan beberapa tindakan, salah satunya ialah pembagian angket aspirasi secara online untuk mendengarkan keluh kesah mahasiswa termasuk masalah subsidi kuota. Rencananya, keluh kesah mahasiswa akan ditampung terlebih dahulu oleh DEMA dan akan disuarakan kepada pihak berwajib atau pimpinan kampus yang ada di IAIN Pontianak. “Kita tampung dahulu dengan Klinik Aspirasi yang sudah tersebar ke mahasiswa, jadi ya, harapannya mahasiswa juga menyampaikan apa tanggapan dan harapannya, seperti itu dan dari itulah menjadi data kita nantinya untuk bisa kita sampaikan kepada pimpinan kampus,” tegas Sopiallah.

Hingga saat ini, angket yang tersebar belum juga menuaikan hasil yang maksimal, dikarenakan kekecewaan mahasiswa akan aspirasinya yang dirasa tidak diindahkan oleh pihak kampus. Akan tetapi DEMA bersama Senat Mahasiswa (SEMA) akan terus memperjuangkan masalah subsidi kuota yang terus menjadi polemik hingga saat ini. “Dari DEMA dan SEMA juga, kita tidak mempunyai hak sepenuhnya untuk mewujudkan dari apa yang teman-teman harapkan gitu, tetapi kita memperjuangkan hari ini,” tutup Sopiallah.

Tidak hanya itu, mahasiswa tentunya sangat berharap dengan adanya subsidi kuota gratis dibagikan dari pihak kampus. Adi Rahman dan Aditya Islami contohnya, mereka benar-benar berharap akan hal itu. Walaupun salah satu dari mereka menggunakan Wi-Fi di rumahnya, “tetap saja saya membayar setiap bulan,” ucap Adit.

“Sebenarnya kuota ini sangat dibutuhkan lah ya, apalagi di saat pandemi ini. Dan yang pernah kita dengar itu macam di IAIN, kemarin ada yang mengatakan bahwa kita mendapat kuota gratis. Tapi yang kita dapatkan ialah hoax. Seharusnya kuota ini segera diadakan agar tidak terus menjadi beban keluarga,” tutup Adi.

Reporter : Fikri As-sidiqi, Citra, Rifki, Jhihan
Editor : Mei Hani Anjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here