Rumah Qur’an Al-Qadr: Tempat Bermain Sekaligus Menanamkan Karakter Cinta Al-Qur’an Anak Sejak Dini

0
439

Wartaiainpontianak.com – Intan Millenia Qadarsih, Mahasiswi IAIN Pontianak Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) semester 5 bersama ibunya, Fatimah membangun Rumah Qur’an Al-Qadr di Jl. Komyos Sudarso, Gg. Lamtoro Jalur 2 No. B31. Rumah Qur’an ini sudah dibangun sejak satu tahun lalu. Pada penghujung tahun 2020, ada perlombaan menghafal Al-Qur’an yang disertai dengan wisuda. Wisuda ini bertemakan “Membentuk Generasi Muslim yang Berkarakter Al-Qur’an, Berakhlakul Karimah, Jujur, dan Amanah”.

Rumah Qur’an ini sama dengan tempat mengaji di masjid pada umumnya. Tetapi ada tambahan yaitu menghafal Al-Qur’an, tahsin dan pembelajaran bahasa Arab. Intan merupakan lulusan dari Pare sehingga untuk pembelajaran Bahasa Arab, Intan mampu membagikan ilmunya selama Intan di Pare. Untuk usia anak yang bergabung di Rumah Qur’an ini beragam, bahkan paling kecil 2 tahun. Dan perlu dipertegas bahwa Rumah Qur’an Al-Qadr tidak menuntut paksa harus menghafal Al-Qur’an. Karena di Rumah Qur’an ini merupakan tempat bermain dan belajar sehingga menghafal lah berdasakan kesenangan hati tanpa adanya paksaan. Hanya saja, Fatimah dan Intan setiap hari mengajak muridnya untuk mendengarkan Intan mengaji dan mengikuti gerakan mulut Intan agar mereka tetap mengingat.

Awal mula berdiri, murid di Rumah Qur’an baru sekitar 20-an anak. Namun sekarang, muridnya sudah mencapai angka 100. Ini merupakan pencapaian terbesar yang tidak pernah terbesit bahkan untuk disangka-sangka oleh Intan dan Fatimah. Murid yang ikut belajar di Rumah Qur’an adalah anak-anak yang tinggal di sekitar rumah Intan, begitu juga dengan pengajarnya. Tujuan Rumah Qur’an dibangun karena Fatimah memandang bahwa anak sekitar sini terlalu sering bermain sehingga sulit terkontrol. “Di sini ada TPA tapi mereka tidak berjalan lama lalu hilang,” kata Fatimah.

Kegiatan di Rumah Qur’an ini hanya dilakukan pada Senin-Kamis. Perlu diketahui juga bahwa di Rumah Qur’an ini tidak mematokkan biaya selama belajar, tetapi hanya ditetapkan infaq seikhlasnya. Lalu, hasil dari infaq ini kemudian diberikan kembali kepada murid. “Misalnya seminggu sekali mengadakan kegiatan perlombaan. Kemudian nanti diberikan hadiah berupa kue atau permen. Ibarat bahwa uang itu kembali ke mereka,” tambah Fatimah.

Sepanjang setahun ini, tidak ada kendala. Adapun harapan besar Intan untuk ke depannya, ia mengatakan, “Kepengen sih buat Pesantren. Kalau rezeki ade, kite tu kepengen maok buat pesantren tapi khusus isinye tuh orang-orang sinek gitu bah. Ade asramanye gitu.”
Selama wawancara berlangsung, Fatimah memperlihatkan wajah yang senang. Hal ini membuktikan bahwa Rumah Qur’an yang dibangun Intan bersama ibunya membawa ketenangan jiwa dan kebahagiaan batin yang tiada tandingannya.

Reporter : Feby Kartikasari
Editor : Mei Hani Anjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here