Bedah Buku Perempuan di Tanah Para Raja : Mengupas Kesetaraan Gender Dalam Dunia Pendidikan di Indonesia

0
140

Wartaiainpontianak.com – Sahabat IAIN Pontianak mengadakan Bedah Buku Perempuan di Tanah Para Raja “Titik Temu Antara Qosim Amin dan Pendidikan Islam” pada Rabu (20/01/2021) di Aula Masjid Syekh Abdur Rani Mahmud IAIN Pontianak. Dalam kegiatan ini dihadiri oleh ketiga penulis yaitu; Putriana, M.Pd., Dr. Firdaus Ahmad, M.Hum, dan Dr. Hariansyah M.Si., serta pembedah buku; Dr. KH. Marzuki Wahid, M.Ag yang merupakan Dosen IAIN Syeikh Nur Jati Cirebon dan pendiri Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Pembedah melakukan bedah buku secara online melalui zoom. Beberapa komentar oleh pembedah yaitu diantaranya terkait judul buku yang tidak ada sangkut pautnya dengan isi dari buku. Tetapi hal ini kemudian diberikan apresiasi yang baik kepada para penulis. Firdaus mengelak dengan memberikan perumpamaan, bahwa isi botol aqua itu adalah air mineral. Saat dipegang, tentu yang kita pegang itu botolnya, bukan airnya. Itulah yang dimaksud oleh penulis. Judulnya memang demikian, namun isinya cukup berkaitan dengan judul–tetapi dengan makna lain. Isi buku itu sendiri yaitu mengambil studi kasus Qosim Amin dari tesis salah satu penulis (Putriana) yang kemudian direspon dengan baik oleh pembimbing dan penguji sehingga menghasilkan karya yang sangat menarik. Sebuah buku yang di dalamnya terdapat dua unsur, yaitu untuk fiqh dan unsur negara.

Selanjutnya, Marzuki membahas poligami di Indonesia yang bahwasanya sudah lumrah dilakukan. Poligami menjadi sahabat apabila istri pertama memberikan izin, dan menjadi haram apabila tidak ada persetujuan dari istri pertama. Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan, poligami sudah tak lagi mengindahkan ajaran Nabi, melainkan hanya kepuasan nafsu semata. Nabi Muhammad saw. itu berpoligami bukan karena memenuhi kebutuhan sex, melainkan Nabi Muhammad menikahi para janda dengan menyantuni anak yatim sebagai rasa kemanusiaan, sosial, dan dakwah.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa poligami akan merendahkan perempuan sehingga hak-hak yang tadinya hilang karena status perempuan yang tidak setara dengan laki-laki kemudian diperjelas, bahwa tidak ada perempuan yang senang dipoligami. Seandainya itu senang bahkan ikhlas, tetapi hak dan kewajiban semestinya harus dilakukan dengan sangat adil. Hal itu kemudian akan menjadi tolak ukur untuk perempuan melakukan pembelaan. “Makanya saat ini kita sedang memperjuangan Ulama Perempuan Indonesia (UPI) yang melahirkan ahli dalam dunia Islam sehingga untuk melihat kesetaraan gender tidak lagi menoleh ajaran Timur atau Barat, yang penting moralitasnya,” kata Marzuki.

Abdul Mukti Ro’uf sebagai Wakil Rektor III yang merupakan penguji Tesis Putriana juga hadir dalam kegiatan bedah buku ini melalui zoom. , Ia berharap melalui pembedahan buku ini dapat menjadi motivasi dan mudah-mudahan IAIN Pontianak bisa menjalin silaturahmi kepada aktivis gender. “Saya kembali menginginkan bahwa akan ada tesis-tesis lain yang menghidupkan cerita perempuan di Indonesia dari masa ratusan tahun lalu hingga masa sekarang,” lugas Mukti.

Bicara tentang perempuan, dari Adam sampai Muhammad takkan pernah selesai. Kita tidak dapat terlepas dari peran perempuan. Contohnya, Matahari yang kemudian diguyonkan oleh Firdaus sebagai MakAhari dan Bulan sebagai BukLan. Tetapi, ini bukan guyonan biasa. Lihatlah bahwa perempuan itu seperti matahari yang kita tak dapat memungkiri bahwa perempuan mampu memberikan kehangatan. Kemudian, bulan yang tak dapat dipungkiri pula bahwa perempuan membawa ketenangan layaknya bulan di malam hari. Kenyataan yang teramat berbanding terbalik bahwa pada setiap perempuan yang hadir di tengah masyarakat, maka terdapat pula tembok besar antara sosial dan agama yang menghalangi gerak mereka.

Dalam hal ini, Firdaus menekankan keberanian untuk perempuan melawan itu semua. “Keberanian yang dilakukan bukan bermaksud untuk menggeser peran laki-laki, tetapi perempuan harus berani dengan bukti untuk menggugat. Perempuan itu, terancam dengan eksistensinya sendiri. Perempuan terlalu ingin mendapat pengakuan untuk menyamakan kesetaraan. Maka dari itu, dengan kehadiran Putriana maka tesis ini adalah bukti,” tegas Firdaus.

Penulis lainnya, Hariansyah memaparkan bahwa apabila perempuan mengandalkan perasaan maka seharusnya perempuan di dunia jauh lebih baik daripada laki-laki. Tetapi kasus demi kasus yang terjadi saat ini karena masih menganggap bahwa perempuan adalah manusia kelas dua. Dalam semua perbincangan akademik, perempuan tidak dilibatkan. Apabila dilibatkan, perempuan harus menunjukkan eksistensi dalam dirinya lebih besar. Perempuan memiliki standar dalam mengikuti sesuatu. Sehingga, perempuan tidak bisa leluasa dalam berpendapat maupun bertindak. “Yang lebih konyolnya adalah perancang busana mayoritas laki-laki. Hal ini merupakan kepentingan laki-laki karena dalam merancang busana tentu perancang akan membayangkan tubuh perempuan. Kegiatan seperti ini bisa dikatakan sebagai eksploitasi keberadaan perempuan,” kata Hariansyah.

Dalam kasus psikologi, ada yang namanya maskulin (sifat laki-laki) dan feminin (sifat perempuan) serta ada pula yang dominan terhadap keduanya. Yang menjadi masalah apabila seseorang memiliki dominan keduanya. Biasanya, hal ini terjadi apabila orang tua menginginkan anak laki-laki kemudian kenyataan memperlihatkan bahwa anaknya perempuan, maka orang tua akan memperlakukan anaknya seperti laki-laki sehingga anak akan memiliki sifat dominan pada keduanya. Menjadi tugas orang tua untuk peka terhadap anak yang seperti ini agar diluruskan. Apabila tidak diluruskan, maka ini akan menjadi bumerang untuk anak di masa mendatang.

Sehingga bisa dikaitkan dengan konsep pendidikan Qosim Amin bahwa apabila ingin menyadari gender maka perbaiki pendidikan terlebih dahulu. Paling tidak, pendidikan adalah cara yang paling efektif. Kesadaran gender harus terus dilakukan agar tidak dapat terbantahkan. “Memandang gender secara netral tidak bisa menekankan orang sesuai dengan selera kita, biarkanlah perbedaan itu terjadi. Ya namanya fakta sosial itu harus diterima dan dihadapi,” tambah Hariansyah.

Terakhir, Putriana, sebagai aktivis perempuan, ia sering membahas berbagai isu dan mengawal keadilan terhadap perempuan. Dalam kegiatan ini pula, Putriana sebagai penulis tesis tentang pemikiran tokoh seorang feminis pertama di dunia Islam yaitu Qosim Amin. Qosim Amin merupakan pembela perempuan di Mesir yang banyak membicarakan kesetaraan lewat pendidikan, memilih jodoh, dan perceraian. Namun, pemikirannya banyak ditentang oleh masyarakat Mesir terutama Laela Ahmed yang merupakan aktivis perempuan juga. Laela menganggap bahwa ajaran Qosim banyak mengambil pemikiran yang tidak sesuai dengan budaya di Mesir.

Putriana sendiri juga tidak menerima semua pemikiran Qosim. Adapun pemikiran Qosim yang ditentang oleh Putriana adalah :
1. Hanya ibu yang bisa mendidik anak. Padahal ayah, juga diperlukan dalam mendidik anak yang tentunya akan memiliki gaya lain dalam mendidikan anak
2. Mengelola rumah tangga adalah tugas ibu. Sebenarnya, dalam mengelola rumah tangga maka libatkanlah keduanya untuk saling berperan bahkan bertukar peran. Dalam ilmu fiqh juga dijelaskan bahwa pekerjaan domestik (menyapu, mengepel, dll) adalah tugas laki-laki. Apabila laki-laki tersebut tidak mampu, maka hadirkan seorang pembantu.
3. Pendidikan moral hanya untuk perempuan. Pendidikan moral itu wajib bagi laki-laki dan perempuan agar semua orang dapat bermoral dengan baik.

“Inti dari buku ini bahwa Qosim Amin mengambil konsep dari Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa apabila dalam suatu negara memiliki banyak perempuan baik, maka negara tersebut akan baik. Namun apabila suatu negara banyak memiliki perempuan tidak baik, maka negara tersebut akan hancur. Nah, perempuan baik di sini adalah perempuan shaleha yang aktif dalam kegiatan masyarakat, berkarir sukses dan banyak berbicara di ruang publik. Perempuan sebagai tiang negara, maka dari itu jangan ditindas.” tutup Putriana.

Reporter : Feby Kartikasari
Editor : Mei Hani Anjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here