Workshop Fellowship: Tegaskan Pluralisme Kalbar Melalui Literasi

0
437
Sumber foto: Panitia Workshop

wartaiainpontianak.com – Suar Asa Khatulistiwa (SAKA) adakan Workshop Fellowship dengan tema Jurnalisme Keberagaman “Pontianak Rumah Bersama” di Richard’s Home, Jl. Media Nomor 4 Pontianak, Sabtu (07/11).

Hari itu, cuaca mendung sehingga menghambat langkah peserta untuk hadir tepat waktu. Kegiatan ditunda empat puluh lima menit dari jam yang sudah tertera dalam jadwal. Workshop tersebut disiarkan juga melalui virtual karena ada peserta yang berada di luar Pontianak, yaitu di Sintang.

Adapun pemateri Workshop Fellowship Jurnalisme Keberagaman “Pontianak Rumah Bersama” adalah Subandri Simbolon sebagai Ketua Tim Riset SAKA yang membahas tentang Analisis Kebijakan Publik Pemerintah dengan Perspektif Pluralisme Kota Pontianak. Pemateri kedua yaitu Aseanty W. Pahlevi sebagai Jurnalis Perempuan Khatulistiwa yang membahas tentang Literasi Media dalam Merumuskan Strategi Jurnalisme Keberagaman. Pemateri ketiga yaitu Mas Budi dari Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) yang membahas tentang Panduan Jurnalisme Keberagaman, dan pemateri yang terakhir adalah Dian Lestari dari Sejuk Kalbar yang membahas tentang Tantangan dan Masa Depan Jurnalisme Keberagaman di Kalbar.

Hasil dari kegiatan ini nantinya akan menjadi bahan liputan bagi jurnalis di Pontianak untuk memperdalam isu keberagaman. Selama ini, isu keberagaman menjadi hal yang tabuh untuk dibahas sehingga untuk mewaraskan pemikiran publik untuk tidak berat sebelah dalam berfikir keberagaman. Subandri mengatakan, “Seharusnya ada kebijakan pemerintah yang mengkolerasikan dengan keberagaman, sehingga akan memetakkan perdamaian sebagai pintu masuk penyelesaian diskriminasi di Pontianak.” lugas Subandri.

Berbicara leluasa mengenai keberagaman dalam kegiatan ini dengan ruangan terbuka, menjadikan kegiatan ini tampak peduli terhadap keberagaman. Di era modern sekarang, mungkin hanya orang tua yang paham tentang cerita. Tetapi di ruangan tersebut, maka anak muda berani membicarakan keberagaman tanpa batasan adalah hal yang luar biasa dan patut di apresiasi. Jurnalis menjadi jembatan yang tepat untuk menggali informasi, maka dari itu Aseanty menggairahkan semangat peserta untuk memperkaya literasi, “Bayangkan, zaman sekarang sudah zaman digital tetapi kita masih menuntaskan buta aksara. Dengan literasi, maka pengelolaan informasi tidak hanya dibaca. Banyak-banyak membaca sebelum menulis kemana-mana.” tutup Aseanty.

Saat turun lapangan, tentu jurnalis membutuhkan pengalaman dan latihan yang baik. Sebelum turun lapangan, jurnalis juga membutuhkan beberapa panduan yang harus diperhatikan oleh jurnalis tersebut. Keselamatan tentu menjadi point utama. Untuk mengangkat isu keberagaman, tidak boleh melibatkan keyakinan pribadi dalam menampilkan fakta. Budi menuturkan bahwa “Saat meliput isu keberagaman, gunakan lah narasumber yang tidak menyulut konflik dan mendorong kedamaian.” tegas Budi. Terakhir, Dian juga menyampaikan, “Semangat wartawan selama ini adalah langsung turun lapangan kemudian wawancara tanpa mempertimbangkan effort dalam memilih narasumber. ” tutup Dian.

Reporter : Feby Kartikasari
Editor : Mei Hani Anjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here