Menjadi Santri, Pemegang Amanah Berperilaku Layak

0
542

Wartaiainpontianak.com – Tepat pada hari Kamis, 22 Oktober 2020 dikenal sebagai hari santri karena mengenang seruan yang dibacakan oleh pahlawan nasional KH. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945. Seruan dari KH. Hasyim Asy’ari merupakan perintah kepada umat Islam untuk berperangan melawan tentara sekutu yang ingin merebut tanah air tercinta Indonesia pada detik-detik proklamasi kemerdekaan. Penetapan hari santri juga sesuai dengan Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015 di Mesjid Istiqlal Jakarta. Dengan peringatan hari santri yang jatuh pada hari ini, tentunya menjadi kebanggaan bagi santri seluruh Indonesia karena pada hari inilah keberadaan santri benar-benar melakukan pergejolakan merubut kemerdekaan Indonesia.

Tentunya ada banyak kisah yang di torehkan selama menjadi santri. Salah satunya, Arip yang sudah 11 tahun menjadi santri. Arip juga mengatakan bahwa di dalam pesantren, dapat menjaga kemaksiatan karena pesantren adalah “penjara suci “.  Sekarang, Arip sudah selesai belajar menjadi santri maka Arip melanjutkan sebagai pengajar di pesantren. Kekeluaragaan di dalam pesantren, lebih mengedepankan kepedulian sehingga satu sakit maka yang lain akan merasakan sakit tersebut. Memegang amanah menjadi santri sangat berat karena jika sudah terjun dalam pendidikan pesantren bahwa masyarakat sudah paham segalanya, bahkan pertanyaan demi pertanyaan apa saja dilontarkan.
“Jadilah santri yang multifungsi. Tugas santri adalah pelayan bagi masyarakat,” jelas Arip.

Kemudian, As’ad Syamsul Maarif sebagai santri selama 3 tahun di Pontdon Pesantren Khulafaur Rasyidin beranggapan bahwa betapa bahagian menjadi santri karena  santri kita dilatih disiplin waktu, mulai dari bangun tidur hingga tidur, dilatih hidup mandiri, mendapat porsi belajar tentang agama lebih banyak, kebersamaan dengan teman yang semamin erat dan susah senang  bersama-sama. Adapun yang menjadi keluhan Asad ketika menjadi santri adalah “Ndak enaknya menjadi santri itu menurut saya, ketika awal-awal masuk pesantren, kita diharuskan berdaptasi dengan lingkungan dan jadwal kegiatan di pesantren. Apalagi jika kita berasal dari sekolah SD atau SMP, atau yang belum pernah ikut TPA, itu cukup sulit untuk beradaptasi,” tutur As’ad.

Beralih kepada santriwati, Rina Hebatullah yang menjadi santri selama 6 tahun di Pondok Darussalam Sengkubang Mempawah. Menjadi santriwati tentunya akan merasa terkekang karena Rina adalah anak satu-satunya sehingga saat jauh dari orang tentu merasa tidak bebas. Namun adapun hal yang menjadi penguat Rina untuk bertahan adalah Rina menemukan arti persaudaraan dari latar belakang yang berbeda-beda sehingga sebagai santriwati tentunya Rina dituntut untuk memahami karakter teman-temannya. Memang nama baik pesantren dengan mandat yang dinobatkan adalah santriwati tentu memberatkan Rina.
“Menurut aku berat, karne dulu guru aku pernah bilang “jika kita ingin melihat kualitas dari suatu pondok atau lembaga, lihatlah anak didiknya”. Dalam artian santri tu cerminan dr pondok kite sendiri. Jika tingkah santrinya baik, baik juga pondoknye begitupun sebaliknya. Tapi kan faktanye tidak juga begitu. Ada santri yang tingkahnya jelek tapi ternyata pondoknye malah bagus begitupun sebaliknye. Tapi kebanyakan orang tu menilai pondok itu diliat dari alumninye atau santrinya, ” kata Rina.

Beranjak kepada santriwati terakhir yaitu Nurbaiti yang menjadi santriwati selama 6 tahun di Pondok Pesantren Raudhlatul Ulum 1 Putri. Tidak terlaku berpanjang lebar mengenai perjalanan Nurbaiti di Pondok, tetapi ada satu pesan nya yang seperti ini “Pesan saya adalah dihari santri ini semoga semakin jaya dan sehat selalu.” harap Nurbaiti. Tentunya ada harapan besar dari Nurbaiti terkait hari santri yang jatuh pada hari ini. Semakin jaya santri, maka semakin indah suasana Indonesia. Dan apabila santri semakin sehat jasmani dan rohani, maka Indonesia jauh lebih sejahtera karena dengan adanya santri yang menjadi penerus bangsa maka apapun yang dilakukan dan diputuskan akan melibatkan Allah. Segala sesuatu apabila melibatkan Allah dengan baik, maka apapun yang diambil akan diridhoi Allah.

Reporter : Feby Kartikasari

Editor : Syarifah Desy Safitri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here