Kamis Berdebu Menjadi Saksi Merebut Demokrasi

0
208

Wartaiainpontianak.com – Kamis, 08 Oktober 2020 merupakan terbukanya sejarah kembali setelah setahun lalu massa aksi dari berbagai elemen masyarakat maupun dari berbagai warna alamamater. Massa aksi pada hari itu, sangat ramai. Titik kumpul massa aksi dari kalangan mahasiswa maupun buruh berada di auditorium Untan. Segala penjuru audit telah padat oleh perjuang penegak keadlian. Berbagai macam poster bertuliskan keluhan juga ikut terpampang bersamaan dengan berdirinya pejuang kamis berdebu. Sorak-sorak pemimpin barisan sudah mulai tersengat dan diterikkan dengan sangat lantang. Teriakan juga dikolaborasikan dengan suara motor yang terus berderung mengegas kekesalan. Dari sisi depan masuk pintu, terdapat gagah berani pengawal aksi hari ini dengan seragam yang dikenal dengan polisi. Sembari melihat keadaan sekitar, sesekali anggota polisi berjalan sambil menyapa massa aksi dengan pertanyaan sekilas yang dilontarkan.

Pagi itu, sangat mencekam ketika semua elemen sudah terkumpul sehingga aksi pada hari itu dapat dipastikan bahwa aksi akan dilakukan dengan banyak sekali orang. Setelah setengah jam bersiap, maka massa aksi mulai berjalan kaki menuju gedung DPRD Kota Pontianak. Dalam perjalanan, rombongan berjalan masing-masing sesuai dengan rombongan asalnya. Tetapi walaupun terlihat masing masing melakukan perjalanan, tentunya tegur sapa dan semangat berjalan bahkan bernyanyi pun dilakukan dengan sangat kompak. Saat itu, dapat dipastikan bahwa masyarakat lain yang melihat akan merinding melihat rombongan aksi yang sangat banyak dan suara semangat terus diteriakkan. Dalam perjalanan, polisi berada di segala penjuru barisan. Ntah itu di depan, di samping kanan kiri maupun dibelakang. Massa aksi terus berjalan hingga setengah jam perjalanan barulah sampai ke gedung tujuan. Saat berada di gedung, massa aksi sangat ramai dan sudah tidak mampu dibendung oleh polisi. Halaman gedung dipadati massa aksi hingga massa aksi memaksa untuk naik dan masuk ke dalam gedung. Tangga gedung juga dipenuhi massa aksi sehingga tangga tersebut sangat padat.

Desak-desakan terjadi di halaman gedung mau pun di tangga gedung. Suara sudah tidak bisa lagi didengar dengan baik. Bahkan yang menggunakan mic sudah tidak lagi dapat bicara dengan baik karena massa aksi terus berteriak. Perwakilan DPRD waktu itu sudah turun, namun polisi meminta massa aksi untuk mundur ke lapangan agar tangga itu hanya dipadati oleh wakil daerah dan kepolisian. Namun, massa aksi terus mendesak hingga terjadilah saling pelemparan botol plastik air mineral. Perwakilan rakyat daerah sudah turun naik 3 kali, tetapi kondisi massa aksi masih saja belum bisa terkontrol. Tampak dengan jelas bahwa massa aksi terlalu ramai sehingga sulit sekali untuk di kondisi kan. Terlebih lagi, suasana hari itu diterjang terik matahari sehingga massa aksi sudah tak lagi mampu berpikiran dengan jernih.

Menjelang siang, massa aksi sudah mulai melakukan anarkis. Merobohkan pohon, melempari kaca gedung, mencoreti gedung dan melakukan perlawanan keras terhadap kepolisian maka saatnya gas air mata ditembakkan. Gas air mata yang mengeluarkan asap yang menyebabkan mata perih hingga sesak nafas ini tentunya membuat massa aksi berlarian kocar kacir hingga kehilangan teman rombongannya. Penembakan gas air mata ditembakkan berkali-kali, suasana pada saat itu sangat tidak baik. Ada massa yang sudah keluar gedung kemudian masuk kembali dengan coretan odol dibawah mata untuk menghilangkan kepedihan. Massa aksi yng masuk kembali selalu mengatakan bahwa dirinya ingin menyelamatkan temannya yang masih terjebak di dalam. Sungguh, merinding dan penuh haru pada saat itu. Solidaritas sangat dirasakan pada saat itu. Saling melindungi dengan menundukkan kepala, saling menarik untuk segera berlari dan saling menjaga dari kejaran polisi karena takut menjadi korban akibat orang-orang yang ditunggngi. Perempuan maupun laki-laki sudah mulai bertumbangan. Posko pengaduan dan posko pengamanan sudah ada, tetapi banyak yang tidak mau bersinggah untuk sekedar melindungi diri sesaat. Massa aksi lebih memilih untuk berlarian ke jalan atau gang terdekat dari gedung DPRD. Massa aksi yang berada di dalam gedung mengalami kehausan parah sehingga beberapa orang tampak membagikan aqua untuk meringankan beban haus massa aksi di dalam gedung. Tidak lama setelah kekacauan gas air mata, maka turunlah hujan. Dengan turunnya hujan, maka dingin lah susasana di gedung dprd maupun daerah sekitar.

Setelah keadaan membaik, gedung DPRD Kota Pontianak dibersihkan oleh massa aksi yang ringan tangan. Pada intinya adalah, semua elemen terlahir dari masyarakat. Dewan perwakilan, Gubernur, polisi, mahasiswa, dan buruh adalah masyarakat Indonesia. Tentunya, sesama masyarakat hendaklah memiliki tenggang rasa untuk menciptakan kedamaian. Kalau belum bisa berdamai dengan diri sendiri, bagaimana bisa berdamai dengan orang banyak? Maka dari itu, ada baiknya berdamailah dengan diri sendiri terlebih dahulu. Kalau memang ingin menyampaikan aspirasi, sampaikan dengan tenang dan lugas. Kalau terus menerus menuruti emosi dan menghilangkan tenggang rasa, maka tidak bisa aspirasi itu tersampaikan. Jika ingin di dengar dan dipahami, maka cobalah untuk mendengar dan memahami. Terus menerus saling menyalahkan satu pihak, tidaklah baik. Jangan mudah termakan omongan dan video maupun foto berdasarkan “katanya” karena yang pasti adalah segala sesuatu yang disaksikan oleh mata kepala sendiri. Indonesia masih kuat, masyarakat juga harus saling menguatkan. Redamlah amarah dengan mengenang. Salam, Kamis Berdebu !

Reporter : Feby Kartikasari
Editor : Syarifah Desy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here