Ustadz Muhammad Yusuf, M.H.I: Di Bulan Muharram Tidak Boleh Ada Pembunuhan, Maksiat, Apalagi Perceraian.

0
75

Wartaiainpontianak.com – Dalam Rangka tahun baru Islam 1 Muharram 1442, HMPS HKI Khususnya Bidang Pemberdayaan Umat mengadakan diskusi online bertema “1 jam Bersama Muharram“ dengan pemateri dosen Program Studi Hukum keluarga Islam Muhammad Yusuf, M.H.I. yang diselenggarakan pada hari Senin (30/ 08/ 2020) .

Muharram  sendiri adalah bulan dimana umat Islam mengawali tahun kalender Hijriyah berdasarkan peredaran bulan.
“Muharram adalah salah satu dari empat bulan selain Zulqaidah, Zulhijjah, dan Rajab yang tersebut dalam Al-Qur’an (QS. At Taubah : 36). Kata Muharram artinya dilarang, pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Bulan Muharram dianggap sebagai bulan yang mulia oleh orang-orang jahiliyah sebelum datangnya ajaran Islam, tetapi ketika ajaran Islam datang ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyahnya dihapuskanً” ujar Ustadz Yusuf dalam materinya.

Ustadz Yusuf mengatakan bahwa didalam bulan ini terdapat puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan, yaitu puasa Asyura.
“Pada hari ke sepuluh pada bulan Muharram dalam penanggalan islam terdapat hari Asyura yaitu disunahkan untuk berpuasa,seperti sabda Nabi Muhammad Saw; “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di (bulan Allah) Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam,” (H.R Muslim),” lanjut Ustadz Yusuf.

Ustadz Yusuf menjelaskan banyak sekali tradisi yang dilakukan masyarakat ketika Muharram tiba yang dianggap oleh beberapa pihak sebagai sikap salah kaprah, diantaranya:
“Tradisi yang masih dilakukan masyarakat Ketika datangnya bulan Muharram yang dianggap kesalahan kaprah ialah; Menyiapkan makanan khusus untuk hari Asyura, Memakai celak mata pada hari Asyura, maka dia tidak akan sakit mata selama tahun itu, Siapa yang mandi besar pada hari Asyura maka dia tidak sakit selama setahun itu, Bulan muharram adalah bulan yang tidak membawa keberuntungan, karena Husen ra. terbunuh pada bulan itu, Sebagian masyarakat tidak melaksanakan pernikahan dan melakukan upacara khusus sebagai tanda turut berduka atas tewasnya Husen ra. Dan bahkan dengan cara menangisi, memukul-mukul bahkan melukai wajah dan punggung mereka, Tradisi bubur Asyura dalam karifan lokal dianggap banyak mengandung nilai-nilai moral dan budaya dan sebagai sarana bersilaturahmi, bergotong royong, saling berbagi dan memberi makan, tradisi ini layak untuk dipertahankan, tetapi harus tetap dibersihkan dari keyakinan-keyakinan diluar Islam,” tutur Ustadz Yusuf.

Ustadz Yusuf menuturkan bahwa banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari datangnya bulan Muharram.
“Refleksi di Bulan Muharram; Menyadarkan umat bahwa agama kita mempunyai cara hitung atas waktu secara khusus, yaitu tahun Hijriyah. Momentum untuk meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah, Memiliki ide dan tekad untuk berhujrah dibulan muharram.”
Lalu Ustadz Yusuf menegaskan agar di bulan ini tidak boleh ada pembunuhan, maksiat, dan perceraian.
“Bulan muharram adalah bulannya Allah, tidak boleh ada pembunuhan dan perang apalagi bermaksiat pada bulan ini, suami istri juga tidak boleh bertengkar apalagi bercerai, pada tradisi Asyurahal yang sangat disayangkan apabila masyarakat yang sangat antusias melestarikan tradisi tersebut justru meninggalkan sunnah junjungan kita Rasulullah Saw.” Tutupnya mengakhiri Diskusi 1 Jam Bersama Muharram

Penulis: Dita Aprilianti, Ika Ayuni Lestari
Editor : Syarifah Desy Safitri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here