UKT: Pemotongan Dengan Syarat Bersahabat

0
355

Wartaiainpontianak.com – Bukan mahasiswa jika pola pikirnya tidak kritis. Mahasiswa harus peka terhadap lingkungan sekitarnya, ketika ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di lingkungannya maka mahasiswa wajib mencari jawaban di balik kegusaran yang dirasakannya dan sekarang permasalahan yang di rasakan oleh seluruh mahasiswa saat ini adalah biaya kewajiban berupa UKT, ada apa dengan UKT ? bukankah itu sesuatu yang wajar bagi mahasiswa, apa yang janggal dari hal itu ?

Baiklah, mungkin UKT memang sesuatu yang lumrah terdengar oleh para mahasiswa. Karena itu kewajiban bagi tiap mahasiswa manapun untuk mengeluarkan biaya sebagai pelunasan untuk melanjuti perkuliahannya. Biaya yang di keluarkan pun bisa terbilang standar dengan apa yang di terima oleh mahasiswa, baik dari segi pelayanan dan fasilitas yang di dapatinya.

Lalu bagaimana dengan keadaan sekarang, keadaan yang bisa di katakan sedang tidak normal. Maksudnya, semenjak bulan Maret sampai sekarang mahasiswa tidak menjalani aktivitas yang biasanya. Ya semua sudah tau penyebabnya adalah wabah yang sedang melanda seluruh dunia, covid 19. Yang mana wabah ini menyebabkan banyak kerugian, salah satunya perekonomian melemah. Artinya apa, uang tidak lagi didapati dengan mudah, banyak para pekerja di paksa untuk berhenti dan ini menjadi permasalahan setiap orang. Bagaimana tidak jadi permasalahan, bayangkan berapa banyak orang tua di luar sana yang memikirkan kelangsungan hidup keluarga mereka. Baik itu kebutuhan makan dan pendidikan anak-anaknya sedangkan mereka sedang kesulitan untuk mencari uang.

Bisa di pastikan seluruh mahasiswa sedang gusar saat ini, sangat berat baginya untuk mengingati orang tuanya bahwa tidak lama lagi ia harus melaksanakan kewajiban untuk membayar Uang perkuliahan. Melihat orang tuanya sedang mati-matian memulihkan keadaan perekonomian keluarganya saja sudah tertatih-tatih, apalagi di tambah bebannya. Ini benar-benar suatu permasalahan besar bagi mahasiswa.

UKT yang di rasa wajar sebelumnya mulai di pandang negatif, karena biaya sudah keluar banyak tapi hak mahasiswa tidak seutuhnya dirasakan. Seakan-akan uang yang akan di keluarkan oleh mahasiswa terlalu berlebihan, tidak wajar, bahkan benar-benar tidak masuk akal uang yang nominalnya sudah di pandang terlalu tinggi tapi tak mendapati apa-apa.

Penilaian UKT berdasarkan perekonomian orang tua, nah sekarang perekonomian seluruh orang tua sudah rendah. Jadi bagaimana dengan penilaian UKT, apakah tetap memegang prinsipnya yang menilai dari perekonomian orang tua? Satu-satunya solusi yang ada di tiap-tiap fikiran mahasiswa adalah pemotongan UKT yang besar dengan syarat-syarat yang bersahabat, tidak perlu ada pengujian yang bertele-tele. Cukup jadikan mahasiswa sebagai acuannya. Lihat kondisi perekonomian mahasiswa sekarang. Bukankah itu sudah jelas.

Teruntuk para pemerintah dan penjabat kampus khususnya pak Rektor atau PLT Rektor yang ingin memajukan kampus, tolong lihat mahasiswa kalian. Sudahkah mereka puas dengan kebijakan kalian, apakah kalian tidak merasakan bahwa mahasiswa saat ini perlu di dengarkan, bukankah mahasiswa merdeka adalah ketika kalian bisa mendengarkan seruan mereka, kampus akan maju ketika mahasiswanya sejahtera.

Penulis : Fajar Aldini
Editor : Syarifah Desy Safitri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here