Petisi Perihal Kuliah Online?

0
654

wartaiainpontianak.com – Melalui posting instagram Mahasiswa_iainptk yang di posting pada Jumat, 20 Maret 2020 pukul 16:00 WIB ini telah memenuhi kolom komentar sebanyak 48 dan 356 like yang tercatat pada pukul 19:27. Tepat pada pukul 19:15, mencoba untuk mengirim pesan pada instagram Mahasiswa_iainptk namun setelah dikonfirmasi mengenai petisi tersebut admin dari instagram Mahasiswa_iainptk menyebutkan bahwa admin tidak mengetahui siapa yang membuat petisi dan admin memposting poster petisi tersebut hanya dikarenakan tertarik untuk di diskusikan secara online saja. Untuk tanggapan lebih lanjut, admin Mahasiswa_iainptk tidak siap untuk memberikan keterangan.

Sangat disayangkan hal ini terjadi karena pusat perhatian saat ini adalah dimana poster tersebut di posting dan tentunya sepatah dua patah tanggapan boleh diutarakan untuk mempertanggung jawabkan bagaimana setiap hal yang di posting memiliki esensi kelayakan untuk di berikan tanggapan.

Untuk itu, ada baiknya untuk melihat beberapa komentar beberapa akun instagram yang pastinya adalah mahasiswa IAIN sendiri, yang mana nantinya dari beberapa mahasiswa IAIN yang mau berkomentar, akan dimintai keterangan terkait petisi tersebut. Minimal tanggapan terhadap petisi tersebut dan harapan dengan adanya petisi tersebut. Apakah petisi ini hanya keluhan beberapa mahasiswa yang sedang bosan dirumah atau memang petisi ini layak untuk dilayangkan ke pejabat kampus atau malah stop hanya memenuhi postingan instagram Mahasiswa_iainptk saja dan yang menarik perhatian karena komentar yang berbeda adalah akun donic97 yang memiliki nama lengkap Doni Chairullah yang merupakan Mahasiswa IAIN Pontianak semester 8 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam ( FEBI ).
“Ini aneh banget yang buat petisi. Sumpah” tulisnya dilaman instagram tersebut. Setelah dimintai pendapat oleh wartaiainppntianak.com , Doni beranggapan bahwa ” Pandemik Virus Corona adalah titik baru dari sebuah peradaban dunia termasuk di Indonesia, karena tidak ada pilihan lain selain masing – masing entitas menyelamatkan peradaban dengan self carantine dan social distance untuk mencegah penyebaran virus ini semakin meluas. Menolak kuliah online pada situasi ini berarti menolak percepatan dan solusi dari sebuah kemajuan zaman, karena kuliah online tidak hanya akan terjadi pada pandemik corona tetapi akan hadir pada percepatan zaman di masa depan terlebih tekhnologi yang sudah menunjang saat ini. Namun yang menjadi evaluasi adalah belum siapnya para tenaga pengajar dan mahasiswa untuk mengikuti sistem perkuliahan online, masih ada waktu untuk mengevaluasi namun memberhentikan kuliah online dan diganti dengan libur total adalah sebuah pilihan yang sangat tidak proporsional. Mengutip yang dikatakan Benjamin Franklin
“If you’re finished changing you’re finished” yang mengandung pesan setiap hal harus diupgrade sesuai perkembangan zaman, jika tidak maka kita akan ditinggalkan oleh banyak hal,” katanya.

Setelah dikonfirmasi lebih lanjut, belum ditemukan siapa pemilik asli pembuat petisi tersebut. Namun setelah dicari, maka ditemukan siapa yang berani menyebarkan poster tersebut dan membagikan nya ke story instagram akun pribadi dan mengetag instagram Mahasiswa_iaintk adalah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab semester 2 yang ingin dirahasiakan namanya dikarenakan sebut saja AY ini takut ada beberapa pihak yang tidak suka atau tidak terima dan malah akan menjadi bombardir untuk dirinya sendiri. Padahal, untuk sesuatu hal yang sifatnya adalah pendapat itu tidak salah. Karena prespektif orang tentang satu hal akan menjadi beribu makna untuk menafsirkannya per individu.

Kembali pada AY. Awal mulanya AY ini memposting poster di WA teman nya. Namun teman AY juga mendapat dari teman nya dan begitulah seterusnya sehingga pembuat asli petisi tersebut belum mampu untuk dijangkau. Dalam wawancara online, AY mengungkapkan alasan dirinya berani memposting di story WA dan Instagram.
“Materi yg d sampaikan tidak bisa dijelaskan langsung oleh dosen, benar atau salahnya. Bisa-bisa kita mengambil argumen yang salah, kan repot menyesatkan yang lain juga. Terus, kuota atau paket, terkuras, karena harus stay smartphone terus. Kalau gak stay ya Absen, kalau absen ya gak dapat absen dan jika tidak ada paket, harus wifi. Tetapi kami harus tetap di rumah aja karena diliburkan untuk jauh dari keramaian,” tutur AY.

Dalam hal ini, AY merasa dirugikan terkait kuliah online. Beberapa hal yang menyangkut pemahaman dan kuota memang menjadi polemik bersama mahasiswa saat ini. Namun bagaimana yang harus dilakukan? Tidak kuliah selama 2 minggu dengan beberapa kekurangan kuliah online ? Tidakah hal tersebut akan jauh lebih mengistirahatkan otak terlalu lama ? Karena hal tersebut akan berdampak kedepan jika otak terlalu lama untuk beristirahat. Cobalah memandang suatu hal dari dua sisi. Sisi baik dan buruk harus dipadupadankan dengan baik agar terjadi kesinkronan yang baik.

“Harapan saya, kalau memang ingin menghindari, sebaiknya di liburkan. Karena dengan di liburkan
Mahasiswa jadi tenang, tidak ada tugas, yang harus keluar kesana kemari mencari buku atau jaringan internet untuk mencari referensi. Dan tidak ada istilah harus stand by dengan hp karena kesibukan orang kan berbeda-beda. Orang rumah menganggapnya kita libur, padahal kuliah online, yang mana gak online gak hadir.” harap AY.

Reporter: Feby Kartikasari

Editor: Syarifah Desy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here