Jurnalis Perempuan Kalbar: Tulis Saja Dulu Tentang Perempuan

0
213

wartaiainpontianak.com – Pontianak, 14 Februari 2020 di Sekretariat Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) yang beralamatkan di Jalan. M. Sohor No. 15 B
Pada bincang-bincang kali ini merupakan lanjutan dari workshop perempuan yang mengambil tema “Perempuan Dalam Kepemimpinan” yang dilaksanakan pada tangga 25 Januari 2020 di gedung DPRD Kota Pontianak. Sedangkan pada kesempatan bincang-bincang hari ini, JPK mengusung tema “Perempuan dan Peran Media”.

Narasumber pada agenda ini ada 2 orang, narasumber pertama adalah Leo Prima yang merupakan CEO Hi Pontianak. Dalam pembahasan Leo, dibuka dengan pengenalan terhadap media.
“Media massa adalah alat untuk menyampaikan pesan, kunci dari media ini adalah bagaimana media mampu menganggap bahwa isu perempuan bukan isu yang sexy karena perempuan dia ngga objek oleh media karena populasinya besar,” tuturnya.

Beralih pada penjelasan selanjutnya mengenai jenis-jenis media terdapat 3 yaitu media cetak, elektronik dan media online. Media cetak digemari pembaca ketika ada berita keras seperti halnya berita maskulin (berita narkoba, korupsi dan tindak kejahatan lainnya). Sedangkan media elektronik lebih digemari ibu-ibu seperti halnya dalam melihat acara FTV dan tidak menutup kemungkinan bapak-bapak juga menggemari hal tersebut. Yang paling efektif dan mudah tersebar adalah media online. Leo juga menyebutkan bahwa peran jurnalis adalah mengetahui apa yang ingin dibaca oleh khalayak karena 60% pengguna media sosial adalah perempuan dan 70% iklan akan berkaitan dengan kebutuhan perempuan.

Narasumber kedua yaitu Aseanty Pahlevi yang merupakan Ketua dari JPK (Jurnalis Perempuan Kalbar). Pemateri pertama membahas terkait prespektif media terkait isu-isu perempuan. Pemateri kedua membahas mengenai kesetaraan gender dan perjalanan diskusi sangat mencair karena lebih kepada saling bercerita mengenai pengalaman perempuan dalam forum tersebut sebenarnya bagaimana kesetaraan gender dilakukan.
” Kesetaraan gender bukanlah sebuah gerakan dari barat yang di asosiasi kan untuk meningkatkan derajat perempuan karena pada hakikat manusia adalah laki-laki dan perempuan saling membutuhkan,” katanya.

Tidak menutup kemungkinan jika perempuan mampu mengangkat galon dan laki laki mampu mengetahui bagaimana cara membersihkan pantat kuali yang hitam. Gender tidak hanya berkaitan dengan jenis kelamin saja karena gender itu sangat luas dan kesetaraan yang diberlakukan itu sama rata karena manusia itu sebenar hakikat kodratnya sama. Sedikit dalam diskusi, Asesnty membahas mengenai feminisme karena dibahas oleh teman-teman yang berasal dalam diskusi tersebut juga.
“Tulis saja dulu tentang perempuan, karena jika tidak ada yang memulai lalu siapa lagi yang akan bergerak? Yang terpenting dalam sebuah tulisan adalah bagaimana jurnalis ini mampu meningkatkan daya tarik membaca sehingga menjadi bacaan untuk khalayak,”

Dengan kehadiran kedua narasumber tersebut yang telah memiliki pengalaman dalam dunia jurnalis ini membuat bincang-bincang kali ini sangat menambah pengalaman serta ilmu yang mampu meningkatkan gairah jurnalistik dalam ranah peningkatan peran media yang sangat berpengaruh pada masyarakat. Jika dapat disimpulkan dari kedua narasumber tersebut adalah mengenai pemahaman jurnalis tentang isu perempuan bahwa tidak selamanya isu perempuan harus dibahas oleh perempuan itu sendiri. Tetapi lelaki juga harus paham tentang isu perempuan. Yang paling utama juga adalah tingkatkan literasi, karena dengan literasi maka jurnalis itu sendiri akan menyentil para pembaca untuk menyadari bahwa isu perempuan penting untuk di angkat dalam media manapun.

Reporter: Feby Kartikasari

Editor: Syarifah Desy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here