Sisi Gelap dan Terang Perempuan

0
542

wartaiainpontianak.com – Diluar sana, manusia yang mengaku dirinya sebagai manusia, Tetapi masih saja tidak mampu memposisikan dirinya sebagai manusia. Mengapa masih banyak yang tidak menyadari tentang sebuah derajat ? Kodrat ? Dan yang lebih parahnya ketika kodrat dan derajat hanya dianggap sebagai selogan. Katanya manusia, tapi mengapa hidup seperti binatang yang hidup dengan sebuah ketangkasan. Dalam dunia binatang, yang kuat maka itulah yang bertahan hidup. Kehidupan manusia tidak seperti binatang bukan ? Dalam dunia kehidupan manusia, yang bertahan adalah yang mampu mempertahankan derajat dan kodrat yang membutuhkan rasa tingkat tinggi untuk melakukannya.

Hukum kodrat merupakan suatu filosofi yang menyatakan hak-hak manusia yang menentukan keberadaan manusia memang tunggu dari pada makhluk lainnya karena adanya akal yang digunakan manusia untuk berfikir serta meninggakatkan kualitas moral manusia jauh lebih unggul dari pada makhluk lain ciptaan Tuhan. Sedangkan derajat manusia adalah tingkatan martabat manusia yang diberikan Tuhan agar manusia mampu memimpin kehidupan di bumi. Antara kodrat dan derajat tentu saling berhubungan. Dengan adanya keberadaan kodrat sebagai sebuah hak manusia, maka dari itu derajat manusia menjadi lebih terlihat dan terpampang nyata sehingga apabila keduanya tidak dimiliki maka hancur sudah posisi manusia dimuka bumi.

Tahun 2020 telah datang, saatnya merubah pola pikir tentang perempuan. Kenapa harus merubah pola pikir tentang perempuan ? Karena masih banyak manusia yang sulit memahami perempuan. Tidak hanya kaum adam yang harus memahami pola pikir tentang perempuan,melainkan perempuan sendiri harus memahami bagaimana posisi dirinya yang sebenarnya. Menurut Rena Asyari, Pengajar dan Pengasuh Komunitas Seratpena Bandung yang dilansir pada jurnal perempuan dengan judul Kaum Wanita Dalam Al-quran dan Hadist tanggal 24/112014 menyatakan bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk yang bengkok sehingga harus meperlakukan perempuan dengan sabar dan sangat berhati-hari. Jika tidak diperlakukan dengan sabar dan sangat berhati-hati, maka tulang rusuk tersebut akan patah.

Reh Atemlem, dilansir dalam kumparan.com dengan judul Untuk perempuan Indonesia, April 2019 menyebutkan tentang perbedaan perempuan yang menikah muda dengan perempuan yang masih lajang diusia yang sudah tua. Setiap perempuan berhak untuk memilihjalan hidupnya. Menjadi seorang istri dan ibu dengan status wanita karir tidak membuat kodrat perempuan akan luntur. Pada dasarnya bahwa perempuan adalah multitalenta yang mampu menjadi apa saja. Sedangkan perempuan yang memilih untuk melajang, bukan berarti dirinya tidak ada kemampuan untuk menarik lelaki lain. Hal itu melainkan adanya presepsi dari beberapa perempuan memiliki masa lalu yang tidak baik dalam berhubungan dengan lawan jenis atau memang presepsi perempuan tersebut selalu mementingkan dirinya dan karirnya.

Ada banyak hal yang dapat dibahas mengenai perempuan. Ketika seorang perempuan masih kecil, maka dirinya adalah peri kecil kebanggan orang tua. Dengan pita dan warna pink sebagi identitas anak perempuan, tampak cantik dan imut anak perempuan tersebut. Tahun demi tahun berlalu, beranjak lah anak perempuan menjadi masa remaja awal yang dimana dirinya telah mengenal suka antar lawan jenis dan mulai memilih pakaian sendiri sesuai dengan apa yang dianggapnya menarik. Beralih kembali pada pertengahan remaja, orang tua semakin khawatir mengenai pergaulannya dan seorang anak perempuan telah mampu memilih jalan yang baik untuk dirinya. Tahap demi tahap telah dilalui, melanjut pada tingkat kedewasaan awal yang dimana anak perempuan telah mengalami menstruasi yang akan mencekam kembali pada beberapa orang tua karena semakin dewasa anaknya. Saat dewasa pertengahan, peri kecil telah berubah menjadi wanita mandiri dan menikah. Saat setelah menikah, seorang perempuan akan jauh lebih dewasa dalam berpikir apalagi saat telah menjadi ibu.

Perkembangan laki laki dan perempuan tentunya sama. Namun masih banyak laki-laki yang tidak menyadari betapa berharganya perempuan. Dari bayi sampai dewasa dirawat oleh orang tua yang mampu menjaga harga diri dan kehormatannya, namun ketika masa berpacaran lalu seorang perempuan masih saja di sepelekan keberadaan nya, dipermainkan hatinya, direnggut kehormatannya bahkan dengan mudah melawannya seolah olah seorang perempuan memiliki tenaga yang sama dengan lelaki. Memang, dalam kasus penyiksaan tidak perlu terlalu sering menyalahkan laki-laki. Karena memang ada perempuan yang mau menjual dirinya dalam hubungan terlarang, sebut saja pelacur. Pelacur itu rela melakukan itu semua. Tapi apakah seorang laki-laki pernah merasakan bahwa keputusan perempuan untuk menjadi pelacur adalah karena ada laki-laki di masa lalunya yang tidak mampu memberi kebahagiaan untu seorang perempuan ? Sudahlah, jangan terlalu sering menambah catatan untuk masuk neraka dengan cara melecehkan kodrat dan derajat.

Berbicara tentang perempuan tidak akan ada habisnya. Belum lagi, jika dikaitkan dengan berbagaiB kasus pelecehan seksual. Dalam sebuah link yang dilansir pada sebuah situs online https://www.jurnalperempuan.org/warta-feminis/catatan-tahunan-2019-komnas-perempuan-kasus-kekerasan-terhadap-perempuan-meningkat disebutkan bahwa Mariana Amiruddin (Komisioner Komnas Perempuan) menyebutkan bahwa di tahun 2019 ada kenaikan 14% kasus kekerasan terhadap perempuan yaitu sejumlah 406.178 kasus. Data tersebut dihimpun dari tiga sumber yakni Pengadilan Negeri (PN) dan Pengadilan Agama (PA), lembaga layanan mitra komnas perempuan, dan Unit Pelayanan Rujukan (UPR). Mariana menjelaskan bahwa pada tahun 2019 ditemukan fakta baru tentang kekerasan terhadap perempuan yakni perkosaan dalam pernikahan (marital rape), incest, kekerasan dalam pacaran (KDP), cybercrime, dan kekerasan seksual pada perempuan disabilitas. Kendati beberapa darinya adalah jenis kasus lama, namun jenisnya semakin beragam.

Sebenarnya, dalam kasus pelecehan seksual terhadap perempuan yang semakin meningkat bukan sepenuhnya salah kaum adam dan pula bukan sepenuhnya kesalahan perempuan. Tidak ada yang bisa disalahkan dalam setiap kasus pelecehan seksual. Yang diperlukan adalah meminimalisir setiap gejolak hawa nafsu yang ditimbulkan untuk melakukan sikap tidak terpuji. Laki laki dan perempuan sama sama manusia yang Allah takdirkan untuk menjadi khalifah, ada baiknya untuk saling menjaga. Menjaga tidak harus melecehkan, karena menjaga itu berarti melindungi. Ingatlah bahwa ibumu, adikmu, kakakmu, istrimu adalah seorang perempuan. Jika satu perempuan saja dilecehkan, maka rasakan jika itu terjadi pada perempuan kesayangan di sekeliling kita. Dan sebagai perempuan, kehormatan yang ada pada diri seorang perempuan adalah bagaimana dirinya mampu menjaga kehormatan dirinya dengan cara yang sesuai dengan kesadaran dirinya dan agama sangat diperlukan dalam hal ini. Dengan agama, pondasi iman dalam hati akan kuat. Dan menjaga diri juga akan terasa lebih kuat jika agama mengiringi.

Penulis: Feby Kartikasari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here