Gangguan Mental Itu Istimewa

0
583

Mental health atau lebih dikenal dengan kesehatan mental merupakan kondisi mental seseorang yang mana itu bisa menjadi baik atau buruk. Baik atau buruk kesehatan mental seseorang tergantung dari bagaimana seseorang tersebut mengolah batinnya. Ketika seseorang mampu mengolah batinnya menjadi tentram, maka dia dapat menikmati hidupnya dan lebih menghargai orang di sekitarnya. Namun terjadi tolak belakang pada seseorang yang tidak mampu mengontrol batinnya, maka akan terjadi keresahan dalam kesehariannya.

Kebanyakan dari penduduk bumi berasumsi bahwa jika kesehatan mental terganggu maka dia adalah orang gila dan lebih parahnya, satu persatu manusia bumi menjauhkan orang yang aneh dan bertingkah tidak sewajarnya. Padahal, dibalik semua keanehan dan tingkahnya yang tidak wajar tersebut pasti memiliki keistimewaan yang Allah tiupkan dalam ruhnya. Tidak ada seorang manusia pun yang Allah ciptakan dimuka bumi ini yang tidak memiliki sedekitpun keistimewaan. Hanya saja, tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana akan mengolah keistimewaan dalam dirinya apakah pada jalan yang baik atau pada jalan yang tidak baik.

Bagi sebagian para ahli jiwa, sangat senang jika dapat masuk dalam wilayah “kehidupan batiniah” pasiennya yang terkena gangguan mental. Dengan berhasil memasuki wilayah itu, maka para ahli jiwa dapat merasakan apa yang dirasakan pasiennya. Namun memang tidak mudah jika harus masuk dalam “kehidupan batiniah” seseorang yang terkena gangguan mental. Bahkan untuk mengintip saja, memerlukan berulang kali tatap muka sehingga untuk benar-benar memasuki “kehidupan batiniah” dibutuhkan waktu yang panjang.

Hal yang terpenting dalam memasuki “kehidupan batiniah” adalah melakukan tembakan dengan sasaran tepat sehingga antara ahli jiwa dengan penderita mendapatkan kontak batin yang sejalan. Ketika kontak batin yang diciptakan telah sejalan, maka bukan ahli jiwa lagi yang membuka “kehidupan batiniah” pasiennya. Tetapi pasien tersebut yang membukakan pintu dan mempersilahkan batin ahli jiwa juga masuk kedalam “kehidupan batiniah” seorang pasien gangguan jiwa.
Ada beberapa macam gangguan mental yang terjadi. Namun kali ini, saya akan membahas dua gangguan mental yaitu OCD (Obsessive Compulsive Disorder) dan BAD (Bipolar Affective Disorder). OCD adalah gangguan mental yang membuat penderitanya melakukan kegiatan berulang-ulang sehingga tidak lazim. Contohnya seperti mengulang-ulang mencuci tangan karena adanya kecemasan dan ketakutan dari penderita.

Ketakutan dan kecemasan dari penderita ini begini, apabila penderita tidak melakukan kegiatan yang berulang-ulang ini maka akan terjadi hal buruk pada dirinya. Salah satu hal buruk yang terdapat dalam pemikiran si penderita OCD adalah ketika tidak mencuci tangan secara berulang-ulang maka tangan si penderita akan buntung atau tangan si penderita akan terbakar dan lain sebagainya. Penyakit mental OCD ini belum dapat dipastikan secara pasti apa penyebabnya. Namun beberapa para ahli jiwa memberikan diagnosis penyebabnya adalah adanya hubungan darah yang terkena gangguan mental OCD dan peristiwa buruk yang terjadi pada dirinya.
Selain merasakan kecemasan yang berlibihan, penderita OCD juga memperhatikan penampilan. Apabila si penderita tidak benar-benar rapi dengan sempurna maka si penderita akan melakukan hal tidak wajar seperti memukulu-mukul kepala sendiri, gemetar dan bahkan pusing.

Ketakutan dan kecemasan si penderita tidak sampai pada melakukan kegiatan berulang-ulang dan memperhatikan penampilan saja, melainkan terdapat hal lain yang juga akan membuat orang lain tercengang. Hal tersebut adalah si penderita harus menyentuh barang-barang disekitar. Karena jika tidak menyentuh barang, maka si penderita akan kembali berasumsi bahwa keluarganya akan meninggal, dengan berasumsi bahwa jika tidak menyentuh barang akan membuat anggota keluarga meninggal, ini akan berakibat lagi terhadap ibadah. Si penderita OCD akan merasakan tidak aman dalam dirinya yang akan membuatnya mengulang terus bacaan sholat dan gerakan sholat. Si penderita juga akan terus berusaha secara sendirinya untuk melawan OCD tetapi semakin melawan maka si penderita akan semakin merasakan kecemasan dan ketakutan. Hanya ada 5% dari 100% di seluruh dunia yang dapat sembuh dari OCD.

Setelah sedikit mengenal OCD, maka saya akan membahas mengenai BAD. BAD ini adalah gangguan mental yang akan mengubah suasan hati si penderita dengan sangat ekstrim yang akan mengakibatkan dari yang fase mania hingga fase depresi. Si penderita ini memiliki fase yang naik turun atau bahkan stabil. Apabila si penderita pada fase mania atau fase paling atas, maka si penderita akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Namun apabila si penderita mencapai fase depresi atau fase paling bawah, maka si penderita akan merasakan kesedihan yang luar biasa. Tetapi, tidak menutup kemungkinan pula, si penderita BAD ini berada pada fase mood atau suasana hati yang normal. Suasana hati si penderita ini akan berubah dalam waktu yang tidak pasti dan perubahan suasana hati si penderita BAD tidak memiliki pola. Bahkan terkadang, si penderita ini akan mengalami susana hati yang bertabrakan antara mania dan depresi dengan sangat berlebihan.

Gangguan mental BAD ini akan mengalami perasaan emosional yang hebat, sangat sensitif seperti mudahnya merasa tersinggung, sulit mengambil keputusan, kurang tidur, terlalu gopoh dalam melakukan kegiatan apa saja, dan bahkan yang paling menakutkan adalah ketika si penderita mencoba melakukan bunuh diri secara berulang-ulang. Penyebab BAD ini kurang lebih dengan OCD seperti faktor keturunan dan pengalaman buruk. Tetapi BAD ini gangguan mental yang disebabkan pula oleh kondisi otak. Kondisi tingkat bahan kimia yang terganggu di dalam otak manusia akan membuat kondisi si penderita merasakan mood yang berbeda dengan manusia pada umunya. Tidak ada para ahli jiwa yang dapat memastikan tentang kesembuhan BAD, namun diagnosa para ahli bahwa BAD ini dapat disembuhkan dengan minum obat dan perawatan yang baik.

OCD dan BAD adalah jenis gangguan mental yang berbeda namun keduanya saling berkaitan. Penderita OCD sudah pasti BAD, tetapi penderita BAD belum tentu OCD. Salah seorang mahasiswi di Pontianak yang saya sembuyikan identitasnya karena amanah dari si penderita ini menuturkan bahwa dirinya mulai merasakan kejanggalan dalam dirinya saat dirinya mulai sadar bahwa dirinya merasakan suasana hati yang depresi luar biasa. Kejadian ini terjadi pada bulan maret tahun 2019 sampai juni 2019 yang memutuskan dirinya untuk menemukan psikiater di salah satu Rumah Sakit Jiwa Sungai Bangkong di Pontianak.

Dalam kesehariannya, si penderita adalah perempuan yang periang. Dia sudah mulai baik dalam berkomunikasi dengan cara menyapa teman, bahagia bahkan mentraktir teman-temannya. Namun sebelum si penderita ini memutuskan untuk bertemu dengan psikiater, maka dia mencari sumber di google dan bahkan mendiagnosis sendiri bahwa dirinya hanya gangguan cemas yang biasa. Nemun semakin lama, maka si penderita ini semakin merasakan kejanggalan dan memutuskan dengan tekad yang kuat untuk bertemu psikiater. Sejak saat bertemu dengan psikaterlah maka perempuan periang ini di diagnosis BAD dan OCD. Ternyata, si penderita ini telah terjangkit BAD pada tahun 2012 dan OCD telah terjangkit sejak lahir.

Awal mulanya, perempuan periang ini tidak jujur tentang penyakitnya dengan keluarganya karena si penderita ini takut akan membuat keluarganya menjadi sangat terpukul dengan apa yang di deritanya selama ini. Dengan menuruti saran psikiater untuk membicarakan ini pada keluarga maka si perempuan periang ini menceritan semuanya dan bahkan membawa ayah, ibu dan adiknya untuk cek rutin secara bersama-sama. Setelah mengetahui hal tersebut, respon dari keluarga sangat baik. Keluarga perempuan periang ini tidak menuntun untuk harus sembuh total dengan penyakit ini. Melainkan adanya perhatian lebih dan perhatian khusus untuk dirinya yang membuat si perempuan periang yang menderita OCD dan BAD ini menjadi semangat untuk melakukan hal-hal yang positif untuk kebaikan dirinya.

Menjadi seorang penderita gangguan mental tidak membuatnya patah semangat dalam berkuliah. Sebelum si perempuan periang ini mengetahui penyakitnya, maka teman-teman kelas di kuliahnya menganggap dirinya aneh. Namun setelah si perempuan periang ini membagikan informasi tentang OCD dan BAD, maka teman kelas di kuliahnya semakin memahami dirinya dan terus merangkul dirinya. Berbicara masalah kuliah, tentunya berbicara pula tentang kegiatan kampus dan nilai. Si perempuan periang ini tetap mendapatkan nilai yang baik dan mengikuti kegiatan kampus juga masih dalam kondisi yang wajar. Hanya saja memang si perempuan periang ini bermasalah dalam kehadiran.

Terakhir, si perempuan periang ini memberikan motivasi terhadap sesama penderita OCD dan BAD adalah “ Ketika kita berada dalam kondisi hati yang tidak tentu arahnya bahkan kita terus mencoba untuk mengakhiri hidup kita sebelum waktu yang ditentukan Allah, maka ingatlah Allah dan istigfar dan kita harus terbuka dengan apa yang kita rasakan terhadap orang-orang terpercaya dan yang harus paling mengetahui tentang keadaan kita adalah orang tua kita. Yang paling penting adalah jangan menghakimi orang yang memang kita lihat memiliki keanehan dan sangat pantang untuk mengucapkan “ii kau aneh” atau “ ihhh kau gile” dan untuk saya pribadi pun sedang berusaha untuk pantang mengatakan perkataan tersebut. ” begitu tuturnya.

Penulis: Feby Kartikasari

Editor : Syarifah Desy Safitri Syihab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here