Cerita KKL 2019: Semangat Mengaji Anak Desa Sungai Kunyit Hulu

0
559

 wartaiainpontianak.com – Matahari mulai beranjak dari tinggi perlahan merendah, awan jingga memerah meraba pandangan haru disertai azan maghrib yang berkumandang tidak jauh dari posko kelompok dua program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) tahun 2019 Institut Agama Islam Negri (IAIN) Pontianak.

Muhammad Hafidz yang menjadi kepala rombongan kelompok perlahan meluruskan sandal yang tepat berada didepan teras posko, azan belum selesai, ia seraya menjawab bait azan sembari melangkahkan kaki menuju Mushola Al Amin, tempat sumber suara azan yang ia maksud muncul.

Dalam peluknya ada kantong plastik kuning yang berisikan Al-Quran dan Iqro yang nantinya akan ia serahkan malam ini kepada para santri yang berjumlah kurang dari 10 anak-anak masyarakat sekitar.

Sungai kunyit hulu, Dusun Semayar menjadi hari bersejarah bagi para mahasiswa yang bisa merasakan nikmatnya berjamaah bersama serta bisa menyerahkan Al-Quran dan Iqro kepada para santri Mushola Al Amin, Sabtu (27/7).

Azan maghrib usai, giliran iqomah berkumandang dari lantunan suara Miat salah satu peserta KKL, dan 15 peserta lainya sudah siap menunaikan ibadah sholat magrib dengan barisan saf sejajar dan memanjang.

Saling tunjuk sebagai imam sering kali terjadi disetiap iqomah usai, kali ini Andi yang dipasrahkan untuk memimpin sholat dan menjadi imam bagi para santri, peserta KKL serta para masyarakat sekitar yang memang menunaikan ibadah sholat magrib di Mushola Al Amin ini.

Tiga rokaat usai, suhu sedikit panas melihat memang cuaca sudah beberapa hari tidak diguyur hujan, ditambah lagi dengan fasilitas kipas angin yang memang tidak tampak tertempel didinding mushola, suhu tidak menjadi sebuah alasan menunda ibadah apa lagi meninggalkanya, zikir bersama menggema didalam ruangan yang kurang lebih berukuran delapan kali delapan meter, doa dibacakan oleh pak H. Amin dengan kedua tangannya terangkat dan kepalanya menunduk.

Semangat mengaji bagi santri memang sudah dipupuk sejak zaman dahulu dan dilakukan secara turun temurun oleh para sesepuh masyarakat Sungai Kunyit Hulu hingga kini. Terlihat dari keberangkatan mereka yang sangat awal hingga membaca berulang kali sebelum menyetorkan kepada guru ngajinya.

Penyerahan langsung dilakukan oleh ketua kelompok kepada H. Amin Yang diterima langsung dengan sedikit akad yang terbisik diantara mereka berdua.

Doa dan Surah Alfatihah menjadi ucapan kebanggaan dan haru kepada rekan mahasiswa yang masih perduli kepada pendidikan terutama pendidikan keislaman.
“Kami sangat-sangat bersyukur,” adalah kata yang terdengar dari jarak tiga meter saat keduanya berjabat tangan serah terima.

Tidak hanya itu, seraya ia berjalan ucapan syukur juga diucapkan oleh dirinya dengan suara serak sebab pengaruh faktor umur yang tidak lagi muda.
“Alhamdulillah,” ucap syukur yang ia ucapkan saat hendak meninggalkan tempat duduknya.

Menurut Hafidz, selaku ketua kelompok mengatakan tujuan kelompoknya menyerahkan Al-Quran dan Iqro kepada Mushola Al Amin atas dasar simpatik, melihat para santri yang memegang Al-Quran dan Iqro yang sudah lusuh, bahkan beberapa ada yang lembaranya robek ada pula yang hilang.
“Kita serahkan Al-Quran dan Iqro awalnya kami melihat Al-Quran sama iqronya itu udah lusuh, juga udah ada yang robek,” ungkapnya saat ditemui usai penyerahan.

Tidak banyak kata yang tersampaikan dalam penyerahan ini, ia bergegas berdiri dan membagikan satu persatu santri Al-Quran dan Iqro yang telah berada dipelukanya.

Semyum tampak menahan malu jelas terlihat diwajah Faiz salah satu santri yang sesekali tertunduk ketika beberapa mata mahasiswa memandanginya dengan Al-Quran baru sudah berada diatas meja lipat mengaji yang terbuat dari kayu didepanya.
“Senang bang” ucap Faiz saat ditanya bagaimana perasaanya ketika baru saja memegang Al-Quran baru.

Tidak lama usai penyerahan dan para santri sudah menerima Al-Quran dan Iqronya masing-masing, dengan sigap mereka mencari halaman dimana mereka mengaji dan sesekali melihat Al-Quran dan Iqronya yang lama, yang terlihat mereka sibuk memastikan halaman dimana mereka berhenti mengaji kemarin malam.

Harapan besar Hafidz terhadap para santri setelah menerima Al-Quran dan Iqro baru agar lebih tekun dan lebih semangat dalam mengaji dan menggali ilmu keislaman.
“Harapanya tentu apa yang kita serahkan bisa bermanfaat dan dapat memberikan hal yang positif, terutama dapat menjadikan semangat lebih bagi santri dalam mengaji”. Harap Hafidz.

Penulis : Aris Mustofa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here