Cerita Korban Pencurian Helm di IAIN

0
1085
Ilustrasi pencuri helm. (sumber: google.com)
Ilustrasi pencuri helm. (sumber: google.com)
Pencurian helm di kampus IAIN Pontianak kembali terulang. Kejadian ini kian menambah catatan buruk kampus Islam negeri pertama di Kalbar dalam hal keamanan. Tidak hanya itu aksi kriminalitas yang dilakukan di bulan puasa itu menandakan pelaku tidak mengenal arti berbuat kebaikan. Alih-alih menahan perbuatan buruk.

Aris Mustofa, IAIN Pontianak

wartaiainpontianak.com – Kamis, 23 Mei 2019, selepas salat magrib, Imam Maksum, mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam melapor ke Pos Satpam (satuan pengamanan). Dia mengaku telah kehilangan helm GM hitam di parkiran Masjid Syeikh Abdul Rani Mahmud Al-Yamani IAIN Pontianak.

Kejadian itu bergulir begitu cepat. Saat azan maghrib berkumandang, ia berbuka puasa di sekretariat UKM Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Warta IAIN Pontianak di Gedung Sport Center. Setelah iqamah ia bergegas menuju Masjid yang berjarak sekitar 200 meter dari sekretariat.

Imam membawa tas ransel, mengenakan helm dan pergi ke masjid. Setibanya di parkiran ia meletakkan helm persis terjuntai di kaca sepion. Karena takut ketinggalan rakaat ia mempercepat langkah untuk segera berwudhu.

“Saat itu ada beberapa orang jamaah yang juga berwudhu,” ujarnya. Tidak lebih dari 4 orang yang sedang berwudhu di tempat wudhu khusus laki-laki itu. Sementara jamaah shalat telah memasuki rakaat kedua.

***

Selepas salat maghrib, dia turun tangga masjid dan bergegas untuk pulang. Ia terkejut saat helm di atas motornya raib. “Saya sempat mencoba berfikir ulang, apakah saya membawa helm atau helm saya ditinggal di sekret tadi,” tuturnya menceritakan ulang kejadian.

Ia lalu menuju sekretariat untuk memastikan apakah helmnya benar-benar hilang. “Saya tidak menemukan helm di sekret dan ingatan saya yakin tadi menaruh helm di motor,” kata dia.

Tanpa berfikir panjang dia menuju pos satpam untuk melaporkan kejadian tersebut. Saat di pos satpam ada dua orang satpam yang masing-masing sedang berbuka puasa dan melaksanakan salat di pos. Pos itu berukuran sekitar 4x 3 meter.

“Ada apa?, tanya Satpam. Imam menceritakan bahwa helmnya baru saja hilang dicuri maling. Mendengar itu sang satpam hanya bisa menghela nafas. Tak banyak yang diutarakannya. “Saat itu pak Satpam sedang makan, seorang satpam lain sedang salat maghrib” tutur Imam menceritakan.

“Saya bilang ke satpam kejadiannya persis waktu saya sedang salat, ketika saya mengambil motor untuk pulang, saya lihat helm saya sudah tidak ada,” ujarnya. Kata Imam tidak banyak yang dapat dikatakan oleh Satpam.

Imam mengatakan tidak ada solusi yang disampaikan oleh satpam. “Memang berat untuk menemukan pelakunya dan meminta bagaimana agar helm saya bisa kembali, namun setidaknya inisiatif pihak kemanan merespon kejadian ini harus ada,” kata Imam. Menurut Imam satpam setidaknya merespon kejadian ini dengan melakukan pendataan atau mencatat di kertas sebagai kasus pencurian. “Barang kali bisa dijadikan evaluasi untuk peningkatan keamanan ke depan,” tutur Imam Maksum.

Imam bukanlah korban pertama pencurian helm. Sebelumnya, Farhan mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam angkatan 2016 mengaku pernah menjadi korban. Mahasiswa semester enam itu bahkan mencatat bahwa dirinya sudah tiga kali kecurian helm di Kampus IAIN Pontianak.

“Pertama di gedung Syaifuddin Zuhri, kedua di parkiran depan Rektorat, dan ketiga di perkiran Masjid IAIN Pontianak,” ungkap Farhan. Farhan mengaku kehilangan helm yang ketiga kalinya terjadi bulan April 2019 lalu.

Bahkan ia juga pernah kehilangan Handphone di Masjid. Tepatnya semester dua, 2016 silam. itu terjadi setelah salat asar. “Saya meletakkan HP di shaf kedua laki-laki, saya turun mengambil wudhu ke bawah, saat saya kembali HP saya sudah tidak ada,” tuturnya menceritakan pada Tim Warta, Kamis 23 Mei 2019.

Farhan mengaku dia tidak memungkiri bahwa itu akibat dari keteledorannya .Namun kata dia, kondisi Masjid ketika itu dalam keadaan sepi.

Selain Farhan, Tim Warta mewawancarai Rizal mahasiswa jurusan Akhwal Syakhsiyah angkatan 2018. Rizal menagatakan bahwa dia adalah salah satu korban kehilangan helm pada semester satu. Tepatnya tahun 2018.

Helm Rizal raib disikat maling waktu ia bermain futsal di Gedung Futsal Indoor IAIN Pontianak. “Waktu itu selepas isya di parkiran futsal, saya memarkirkan motor dan menaruh helm di atasnya,” kata Rizal menceritakan kepada Tim Warta, Kamis 23 Mei 2019.

Selepas bermain futsal Rizal berencana langsung pulang ke rumah. Namun ia terkejut saat mengetahui helmnya raib entah kemana. “Saya akhirnya pulang tanpa helm,” tuturnya.

Rizal mengakatakan saat itu kondisi kampus cenderung sepi. Hanya ada beberapa buruh bangunan yang tengah berisitirahat di depan mes tepat di samping gedung Futsal. “Waktu itu ramai buruh bangunan yang mungkin sedang berisitirahat di dekat situ,” tuturnya menceritakan ulang.

***

Sementara korban lain, Anisa Putri mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam angkatan 2016 pun turut membeberkan pengalamannya saat menjadi korban pencurian helm. Anisa Putri mengatakan helm miliknya itu raib di parkiran depan Radio Prokom gedung lab KPI. Hanya saja Anisa Putri merasa tidak kuasa untuk melaporkan kejadian tersebut. “Sering memang punya budak (mereka) hilang, hanye tak kuase (untuk melapor),” ujar Anisa Putri.

Anisa Putri menuturkan dari pengalaman tersebut mahasiswa harus memakai helm yang biasa-biasa. “Helm tadak lawar (tidak bagus). Agar tidak diambek,” tuturnya kepada Tim Warta saat dikonfirmasi melalui aplikasi pesan instan, Kamis 23 Mei 2019.

Anisa Putri menyebut bahwa teman-teman kelasnya rata-rata punya nasib yang sama. Pernah menjadi korban pencurian. “Ada empat orang teman kelas Ani, bahkan ade yang sampai dua kali,” tuturnya.

Di antara berbagai laporan temannya, Anisa menyebut ada yang pernah terciduk. “Pelakunya kemungkinan besar mahasiswa IAIN juga, karena kawan Ani bilang dia kayak pernah liat paras pelaku itu beraktivitas di kampus,” tuturnya.

Saat itu korban ingin melaporkan pelaku kepada Rektor, namun pelaku memohon-mohon permintaan maaf. “Pelaku langsung ngebailikin helmnya, karena takut dilapor ke Rektor,” ujarnya.

***

Sampai detik ini, tidak pernah terdengar tindak lanjut atas banyaknya laporan pencurian di lingkup IAIN Pontianak. Kasus-kasus semacam ini hanya berlalu seperti hembusan angin. Korban-korban sebagian melapor dan separuhnya memilih mendiamkan. Tidak ada data angka pasti berapa banyak kasus pencurian yang terjadi di IAIN Pontianak. Mulai dari pencurian sepatu, helm, perangkat elektronik hingga perampokan uang kas institusi yang pernah terjadi beberapa tahun lalu.

Reporter : Aris Mustofa

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here