Bukit Sampah, Salah Siapa?

0
1042
Kondisi tumpukan sampah di pembuangan akhir kampus IAIN Pontianak.
Kondisi tumpukan sampah di pembuangan akhir kampus IAIN Pontianak.

Polemik tumpukan sampah di Kampus IAIN Pontianak bukanlah cerita baru. Dari tahun ke tahun, khususnya mulai 2015 hingga sekarang, tempat pembuangan akhir sampah di kampus ini tidak berdampak efektif. Penampungan sampah yang tak layak sering kali justru membuat aroma tak sedap yang menusuk hidung. Dan kondisi saat ini di pembuangan akhir sampah kampus, sangat memprihatinkan. Keluh kesah mahasiswa adalah ungkapan kekecewaan yang bersembunyi dibalik ketidakpedulian birokrasi.

Indonesia sudah lama dibingungkan oleh masalah sampah yang kian hari kian menumpuk, mungkin sudah tidak terhitung berapa banyak jumlah gundukan sampah hingga menggunung, problem ini memang menjadi masalah terbesar bagi Indonesia.

Problem sampah bukan hanya dari bau, kotor ataupun menjijikan melainkan dampak terhadap lingkunganlah yang menjadi permasalahan terbesarnya. Banyak sekali dampak dari sampah, mulai dari pemicu penyakit bagi makhluk hidup dan juga pencemaran lingkungan.

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki jumlah penduduk mencapai 266,91 juta jiwa yang diproyeksikan pada tahun 2019. Bayangkan saja jika satu orang mengonsumsi satu buah permen maka tidak terbayang jumlah sampah permen yang dihasilkan bukan?

Kenapa harus sampah plastik yang menjadi pembahasan? Jelas saja sampah plastik memerlukan waktu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun atau mungkin ratusan tahun untuk bisa melebur. Jika setiap harinya penduduk Indonesia mengonsumsi bungkus permen plastik setiap harinya, terbayang sudah berapa dan seperti apa dampak yang akan terjadi.

Dikutip dari laman Kompas.com , Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, menjelaskan soal sampah plastik. Susi Pudjiastuti menyebutkan, Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia yang dibuang ke laut. “Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia, sampah plastik sangat berbahaya,” ujar Susi dalam sebuah keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Minggu (19/8/2018).

Ia mengatakan, melalui kegiatan bersih-bersih pesisir laut bertajuk “Menghadap ke Laut” yang digelar hari ini di 76 titik di Indonesia jumlah limbah plastik di Indonesia dapat ditekan. “Gerakan ini sebagai bagian dari komitmen kita mengurangi 70 persen sampah plastik di lautan pada 2025,” lanjut Susi.

Ia menambahkan, berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut . Menurut sumber yang sama, lanjut dia, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 milyar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

Itu tadi berbicara tentang keadaan luas permasalahan Indonesia, untuk mempersempit momok permasalahan akan teralihkan menuju ranah ruang lingkup pendidikan, Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak.

IAIN Pontianak adalah kampus Islam negeri terbesar di Kalimantan Barat (Kal-Bar) . Dari nama saja sudah patut terselip dalam pikiran kita akan basis perguruan tinggi Islam yang mana jelas di dalamnya mepelajari dan memegang teguh ajaran Islam bukan?

Kampus yang seharusnya mencerminkan kedamaian, ketenteraman, keromantisme para birokrasi dan masyarakat Mahasiswa yang meyakini hadist Anazofatul minal iman (Kebersihan adalah sebagian dari Iman) kini tidak sama sekali tercermin ketika melihat bukit sampah yang dominan adalah sampah plastik ada tepat di halaman kampus, tempat mahasiswa menuntut ilmu, tempat para kaum Intelektual berkumpul.

Sisi halaman antara gedung Ma’had dan gedung futsal kini menjadi tempat yang terbilang buruk bahkan menjijikan, kenapa? Ditempat itulah bukit sampah muncul, bukit sampah yang meresahkan mahasiswa, bukit sampah yang menjadi sumber bau tak sedap.

Permasalahan tidak bisa dibanting setir karena birokrasi kampus yang kurang memperhatikan, tetapi juga mahasiswa yang masih kurang akan kesadaran akan kebersihan lingkungan.

Tetapi siapa yang salah?

Jelas kembali lagi kepada birokrasi kampus yang belum bisa memberikan solusi akan bukit sampah ini, kemungkinan dibiarkan oleh birokrasi kampus juga berpotensi besar, kenapa bisa terjadi?

Satu hal yang dipertanyakan ketika itu semua sudah terjadi dan berefek berkelanjutan, yaitu kemana para aktivis mahasiswa? Kemana para mahasiswa yang berjiwa kritis? Kemana pejabat Dewan Eksekutiv Mahasiswa (Dema)? Apakah hanya sekedar perkumpulan bisa, yang belum berani menyuarakan keluhan mahasiswanya? Atau hanya menunggu akan kebijakan yang dilakuakan?

Seharusnya sebagai mahasiswa yang memiliki jiwa intelektual tinggi sudah seharusnya tidak membiarkan hal ini terjadi, atau haram hukumnya jika mahasiswa terlebih lagi DEMA bungkam akan hal ini. DEMA lah yang menjadi corong aspirasi mahasiswa yang bisa secara langsung menyuarakan keluh kesah masyarakat dan menciptakan kebersihan dilingkungan intelektual ini.

Jelas itu semua kesalahan yang fatal, tidak seharusnya mahasiswa membiarkan hal ini terjadi, juga pihak Kampus tidak bisa angkat tangan akan hal ini, masalah sampah kini menjadi permasalahan bersama bahkan mengancam reputasi citra kampus yang bisa jadi tercoreng.

Pihak kampus dan masyarakat kampus serta para aktivis mahasiswa perlu merenung sejenak dan turut prihatin akan hal yeng terjadi, bukit sampah menjadi PR besar dan menjadi masalah yang sangat fatal untuk IAIN Pontianak. Perlunya tindak tegas dari birokrasi kampus untuk menanggulangi masalah bukit sampah ini. Jangan sampai terus menerus membiarkan bukit sampah ini terus menumpuk dan menggunung.

Seharusnya pihak kampus memberikan solusi terbaiknya. Membuat penampungan sampah yang benar-benar bisa mengatasi bukit sampah ini. Serta pihak kampus bisa bekerja sama dengan pihak kebersihan Kota Pontianak agar masalah sampah ini teratasi. Minimal kampus rutin mendatangkan truk-truk pengangkut sampah untuk segera membuang ketempat pembuangan akhir, itu adalah solusi yang terbilang efektif menanggulangi masalah.

Pihak kampus juga perlu merancang sedemikian rupa bagaimana pengolahan sampah terutama sampah plastik yang mungkin bisa memanfaatkan teknologi agar bisa menjdaikan lingkungan IAIN Pontianak bebas dari sampah.

Penulis : Aris Mustofa

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here