Menanti Hidayah di Kampung Dua

0
525
Masjid Kampung 2 Jawai, Kabupaten Sambas
Masjid Kampung 2 Jawai

wartaiainpontianak.com – Penyebaran Islam di Indonesia menjurus ke seluruh pelosok negeri, hingga ke bumi khatulistiwa. Kabupaten Sambas dijuluki sebagai Serambi Mekahnya Kalimantan Barat oleh masyarakat sekitar. Dikarenakan kentalnya penerapan syariat dan budaya Islam di tanah Kerajaan Sambas sejak jaman penjajahan dulu.

Seharusnya, seiring berkembangnya zaman dan majunya teknologi, pengetahuan dan informasi beriringan dengan penyebaran Islam. Namun sebuah kisah yang miris terjadi di Kampung Dua, Desa Sarang Burung Danau, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat Indonesia.

Di Kampung yang dihuni sekitar 40 lebih kepala keluarga tersebut hanya memiliki sebuah masjid kecil yang digunakan oleh masyarakat untuk beribadah. Masjid At-Tohirin yang hanya memiliki luas bangunan sebesar rumah warga itu tak cukup untuk menampung warga kampung saat sholat jumat. Masjid tersebut dihimpit dengan rumah warga, hanya berjarak sekitar satu meter di sebelah kanan dan kiri masjid.

Mirisnya, masjid tersebut selalu sepi saat sholat lima waktu. Terkadang pula tak ada suara adzan berkumandang di waktu Subuh, Dzuhur dan Ashar. Tak ada yang bisa menjadi imam, di kampung tersebut hanya memiliki satu orang imam saja, Wajidi namanya. Lelaki berusia 60 tahun tersebut satu-satunya Tokoh Agama di Kampung Dua.

Wajidi bekerja sebagai nelayan tambak miliknya. Di usianya yang sudah terbilang senja, ia masih semangat menjadi imam dan melaksanakan sholat di masjid. Meskipun ketika merasa tidak enak badan, Wajidi tetap pergi ke masjid untuk menjadi imam. Bukannya memaksakan diri, namun bila ia tak pergi ke masjid, jamaah akan bubar dan tak jadi melaksanakan sholat di masjid karena tidak ada yg menjadi imam.

Minimnya pengetahuan agama di masyarakat Kampung Dua, memaksa Wajidi sebagai pemimpin segala hal yang berbau religius. Bukan hanya minim pengetahuan, melainkan juga minimnya minat warga untuk belajar ilmu agama. Tidak adanya keinginan untuk belajar dan bisa membaca Alquran.

Ketika melaksanakan sholat jumat, Wajidi dibantu oleh Harsy sebagai Muadzin, Arsi dan Suharni Khatib dan seorang lagi yang rajin mengurus dan menjaga kebersihan masjid. Namun keduanya memiliki kemampuan yang kurang cukup tentang ilmu agama maupun membaca Alquran, sehingga tidak bisa menjadi imam sholat.

Ada dua tokoh lain yang biasa jadi imam menggantikan Wajidi, Bulhani dan Yusuf. Namun pelafalan mereka banyak yang keliru, namun tidak terima dan merajuk ketika dibenarkan bacaannya. Tidak adanya pengganti dan generasi penerus yang menjadi pengganti Wajidi membuat dia tidak bisa jauh atau lama-lama meninggalkan kampung, misalnya ketika ada orang meninggal, Wajidlah yang memandikan, mengafani, menyolatkan, memasukkan ke liang lahat, hingga memimpin doa.

Ketika ada warga yang meninggal dan Wajidi tidak ada dirumah, Istrinya menyusul ke tambak dan memberitahukan padanya. Semisal jika ada warga yang meninggal lalu ia  tak datang, mungkin tak ada yang mengurusnya. Bukannya tak ada yang mau mengurus, tapi tak ada yang bisa mengurus jenazah selain dia.

Wajidi memiliki dua orang putra dan dua orang putri, namun anak pertama dan keduanya sudah menikah dan tidak tinggal di Kampung Dua. Anak Wajidi yang ketiga sekarang sedang kuliah di jenjang pendidikan Strata 1 di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) dan sudah semester enam, Dewi namanya. Ia juga lulusan pondok pesantren Al-Adaby Danau Sentarum Pontianak. Sialnya, anak Wajidi tersebut adalah seorang perempuan, Dewi namanya.

Anak bungsu Wajidi seorang laki-laki, namun baru kelas enam Sekolah Dasar, belum cukup umur untuk menggantikan ayahnya menjadi imam di kampungnya. Dewi ingin adik bungsunya itu menuntut ilmu di pesantren, agar kelak bisa menggantikan ayahnya. Namun ia bingung dan khawatir, untuk saat ini dan beberapa tahun mendatang tidak ada yang menggantikan ayahnya, mengingat usia ayahnya yang sudah tua.

Wajidi pernah mengajar ngaji di masjid tersebut, namun pesertanya banyak anak laki-laki dari kampung sebelah, dari Kampung Dua hanya yang perempuan saja yang ikut. Anak laki-laki sejak kecil sudah diajari mencari uang sendiri, bahkan banyak yang hanya sampai Sekolah Dasar  dan Sekolah Menengah Pertama saja. Anak-anak yang sudah bisa bekerja, pergi merantau ke Malaysia karena gajinya lebih besar daripada kerja di negaranya sendiri.

Ketika peringatan Isra’ Mi’raj dan Maulid Nabi besar Muhammad SAW., biasanya di kampung-kampung lain dirayakan dengan mengadakan kajian dan ceramah ustadz-ustadzah yang diundang oleh pihak kampung. Namun berbeda dengan Kampung Dua, di Kampung Dua tak pernah diadakan perayaan Hari Lahirnya Nabi Muhammad SAW., atau peringatan Isra’ Mi’raj. Hanya Idul Fitri, Idul Adha dan 1 Muharram saja yang dirayakan. Namun upacara adat “Buang-buang” rutin dan pasti dijalankan tiap tahunnya.

Masjid At-Tohirin diambil dari tokoh Ulama dan Hafiz Alquran Kampung Dua yakni Tohirin yang kebetulan adalah Paman Wajidi. Namun semenjak pamannya mengalami pikun, Wajidi lah yang menggantikan pamannya menjadi imam di masjid. Diusianya yang sudah renta, Tohirin masih kerap melaksanakan sholat di masjid, ditemani sebatang tongkat yang sebagai penopang tubuhnya yang sudah bungkuk.

Dewi berharap, agar Kementerian Agama memperhatikan keadaan kampungnya. Ia juga berharap besar kepada segenap tokoh Agama dan Kampus IAIN Pontianak yang merupakan Kampus Islam terbesar di Kalimantan Barat itu dapat memberikan kontribusi untuk menghadirkan Tokoh Agama dan tenaga pengajar  sehingga terciptanya motivasi dan minat warga kampung untuk belajar ilmu agama dan lahirnya generasi-generasi penerus yang religius di Kampung Dua, Desa Sarang Burung Danau, Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas.

Reporter : Ridwan Affandi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here