Nobar Mengupas Tuntas Film Indentity

0
413

wartaiainpontianak.com – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Psikologi Islam mengadakan nonton bersama (Nobar) dengan film bergenre thiller dan misteri yang berjudul Indentity di Gedung Teater Biro AUAK lantai 2, Rabu 13 Maret 2019.

Nobar menghadirkan narasumber yakni Viva Darma Putri, S. Psi., M. Psi, Psikolog. Viva mengatakan bahwa film ini sangat bagus karena bisa menjadi pembelajaran mahasiswa Psikologi Islam dan juga menambah ilmu Psikologinya.

Dengan nuansa batik bercorak, mahasiswa Psikologi Islam sangat antusias menonton film tersebut. Sampai tak terasa film pun telah di penghujung.

Film ini menceritakan ketika terdampar di sebuah motel terpencil di tengah amukan hujan badai. Sepuluh orang asing saling berkenalan satu sama lain. Perlahan mereka tersadar – mereka mulai terbunuh satu per satu.

Film ini merupakan film bertemakan tentang kepribadian ganda. Alurnya yang susah ditebak membuat banyak mahasiswa bertanya dan mengemukakan pendapatnya. Hal ini menunjukkan mahasiswa antusisas dalam acara tersebut.

Viva mengatakan seseorang yang mengidap Dissociative Identity Disorder (DID) atau biasa disebut dengan kepribadian ganda berbeda dengan perubahan mood. “Mereka tak sadar kalau dirinya memecahkan begitu banyak kepribadian. Dan yang menyadarinya adalah orang sekitar,” tutur Viva.

Seseorang yang mengidap DID lupa akan waktu dan ini terjadi ketika salah satu kepribadian mengendalikan tubuh. “Seseorang yang akan beralih kepribadian, akan merasakan migran yang sangat kuat. Setelah selesai, kepribadian yang lainnya pun muncul,” jelas Viva.

Pengidap DID kebanyakan disebabkan oleh traumatik ketika di masa kecil. Hal itu membuat ia mempertahankan dirinya dengan membuat kepribadian yang banyak. “Kepribadian yang lain terbentuk dari cerminan masa lalunya,” kata Viva.

Sudah sepatutnya kita peduli terhadap sesama, apabila seseorang mendapatkan masalah, sebagai insan manusia harus memberi simpati dan empati. Apabila ada suatu kejadian yang buruk, entah itu bullying, kekerasan, maupun pelecehan seksual, harap laporkan kepada pihak berwajib. “Bawa mereka ke psikiater apa bila jiwanya tergucang. Itu sudah menjadi salah satu kewajiban bagi kita sebagai manusia,” ujarnya.

Reporter : Yosi Yupita Sari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here