Aku, Kamu dan Sajadah Biru

0
665

Penulis : Syarifah Desi Safitri S

Beribadah merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan oleh umat muslim. Tidak hanya umat muslim namun semua agama mewajibkan untuk beribadah. Beribadah akan membuat seseorang semakin dekat dengan Yang Maha Kuasa. Umat islam beribadah 5 kali dalam sehari. Sungguh nikmat bukan ketika kita menyadari Allah ingin kita berolahraga 15 menit, bercerita bagaimana keseharian yang dilewai. Ketika beribadah kita akan merasa seorang hamba yang hina. Bagaimana tidak? Ketika berucap Allahu Akbar kita masih saya menyombongkan diri merasa paling hebat, sudah jelas-jelas kita tidak memiliki apa-apa.

Saya pernah mendengar, ketika Abu Bakar As Sidiq sholat dan berucap Allahu Akbar tubuhnya bergetar hebat. Sesudah sholat ada yang bertanya kepadanya “Kenapa ketika baru berucap Allahu Akbar tubuhmu bergetar?” Abu bakar menjawab: Aku merasa malu, merasa hebat dari orang lain padahal Allah Yang Maha Besar.

Nah, apa yang perlu disombongkan di dunia ini? Dunia hanyalah tempat berteduh, tempat penghilang rasa lelah. Apalagi ketika kau sudah kehilangan rasa peduli terhadap sesama. Namun tidak semua orang berperangai seperti itu. Semua manusia punya khilaf dan dosa yang acap kali dilakukannya, bukan berarti kita jadikan ajang untuk menjudge mereka.

Ada satu hal yang menggugah hati dan raga. Ketika saya memijakkan kaki memasuki shaf-shaf khusus wanita di Masjid IAIN Pontianak Syekh Abdul Rani. Ketika itu saya hendak sholat magrib, sebab mata kuliah yang saya geluti selesai agak sedikit terlambat. Barisan wanita-wanita menggunakan mukenah berjalan dengan anggunnya, memeluk Al Quran sembari mengucap dzikir dan tasbih ditangannya. Mereka tampak kompak, saya ikut memasuki barisan itu walaupun paling berbeda.

Membasahi anggota tubuh dengan wudhu, saya bergegas mencari mukenah yang ada. Namun ironis, saya tidak dapat ikut sholat berjamaah. Setelah semua wanita selesai dengan sholatnya, saya melaksanakan kewajiban saya. Kala itu suasana memang ramai, sehingga saya harus sholat tanpa alas apapun. Ketika saya sudah pada rakaat kedua, ada seorang gadis dengan tangan mungilnya membentangkan sajadahnya untuk saya kemudian dia melanjutkan sholatnya. Hati saya seperti tersiram air hujan yang dingin, ternyata di dunia ini masih ada orang yang perduli.

Saya tetap melanjutkan sholat begitupun dia, setelah menadahkan tangan bersama bait-bait doa saya menoleh gadis itu masih khusyu dengan sholat sunnahnya. Tak menunggu lama saya kembali membentangkan sajadah untuknya. Saya berikan senyum untuknya. Gadis yang membuat saya sadar jika semua perempuan memiliki ikatan saudara, walaupun hanya sebatas senyum yang mengukir sebagai awal perkenalan. Hari-hari esoknya saya berusaha menyadarkan orang lain, jika ingin peduli tak perlu langsung lompat ke hal yang spektakuler. Mulai lah dari hal-hal kecil, sedikit demi sedikit dengan apa yang kalian punya. Membuat orang lain bahagia juga tidak kalah mulia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here