Kisah Gagal Move On Kami Kelompok 3 Di PBM FTIK 2019

0
622
foto Feby Kartikasari

Wartaiainpontianak – Desa Retok Jalan Parit Salam merupakan salah satu lokasi kegiatan Pekan Bakti Mahasiswa (PBM) Faktultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan ( FTIK) tahun 2019. Kelompok 3 yang menempati lokasi  ini, tepatnya di rumah panitia yaitu Siti Sayamah. yang berdekatan dengan posko panitia. Letak strategis ini membuat kami merasa  bangga karena berada di lokasi yang nyaman. Namun sayangnya, kami bertempat di jalan yang sepi penduduk. Hanya ada 15 Kartu Keluarga yang berada lokasi ini. disinilah kami belajar untuk mengabdi dan bersosialisasi pada masyarakat Desa Retok Jalan Parit Salam.

Di PBM tidak hanya mengajar, Namun pada kegitan ini menekankan pada proses pendekatan dan pengabdian pada masyarakat. Pada program mengajar, kami harus berjalan kaki kurang lebih 1 Kilo Meter (KM) untuk menuju lokasi tepatnya di “Lembaga Pendidikan Hidayatul Ulum Al- Hasani”. Dalam program kerja pengabdian pada masyarakat, kami merenovasi surau dengan mengecat dan memberi nama surau bahkan melukis kaligrafi di surau tersebut . kami juga membuat plang nama jalan dan pangkalan. Bersahabat dengan masyarakat adalah tujuan dari kelompok kami, Jadi kami melakukan jogging di sekitaran desa dan kemudian mencari pakis sekalian bercengkrama dengan masyarakat sekitar, kemudian kami berkunjung ke rumah-rumah warga untuk bersosialisasi kepada masyarakat tentang kegiatan yang kami lakukan selama se Minggu ini. Tidak lupa pula untuk mengisi kekosongan sore hari, kami mengajar mengaji anak-anak sekitar dan bermain-main diteras surau sembari mengisi kerinduan peserta kelompok kami dengan daerah asal yaitu Pontianak. Di hari terakhir, kami mengadakan perlombaan untuk anak-anak dan ibu-ibu di daerah sekitar posko kami dan masrakat daerah Jalan Karanganyar. Perlombaan berlangsung dengan bahagia dan suka cita tampak dari reaksi warga. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat rindu dengan kunjungan orang-orang yang dapat mengisi waktu luang mereka.

Mayoritas penduduk di Desa Retok Jalan Parit Salam berprofesi penyadap atau menoreh getah pohon karet. Ketika mereka pulang menoreh, mereka langsung beristirahat.

Namun setelah kedatangan Mahasiswa IAIN dikegiatan PBM selama sepekan, masyarakat memiliki tambahan kegiatan. Yaitu bersosialisai dengan kelompok kami terkadang warga mecari buah,sayur dan menjelajah daerah desa Retok. Kami juga membantu pemuda yang ini melajutkan pendidikan di  kampus IAIN Pontianak dan masih banyak lagi kegiatan kami yang meninggalkan banyak kenangan.

Saat waktu perpulangan tiba, kelompok kami dan masyarakat bersukacita dan menitikan air mata, rasa sedih dan pilu mulai terasa saat kami akan berpisah. Begitulah pertemuan, Setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan inilah saatnya kami berpisah. Ketika saya bertanya pada teman-teman mengenai apasaja yang membuat kita semua gagal move on, maka begini tanggapan mereka

“Makan sama-samanya: ujar Ojik mahasiswa PGMI

“Atusias anak-anak disana, apresiasi orang disana, suasanya tu bikin gagal move on lah sampai-sampai gak bisa diungkapkan” ujar Alifia mahasiswi PAI

“Susah move on dengan kebersamaannya, pokoknya pengen PBM agik “ ujar Sri mahasiswi PGMI

”Karena saya banyak mendapatkan pengalaman yang tidak saya lupakan baik dari kampung, anak-anak disitu, warga dan masyarakat disitu sangat baik makanya betah tinggal disana meskipun mandi mengantri  makan sarden dan indomie, serta gak ada sinyal dan anak-anak disitu lagi butuh bantuan tangan kita untuk mengajar mereka” ujar Tasimiaty mahasiswi PIAUD

”hal yang buat gagal move on dari PBM ya kalo bagi Niken PBM itu suatu hal yang sangat menyenangkan karena disitu saya bisa kenal lebih banyak orang ape agek kayak pribadi Niken yang emang suke dengan hal dan orang baru. Di PBM ini memang susah untuk move on karena terasa sangat beda dalam hal kawan, mentor, penduduk setempat bahkan murid-murid disana rasenye tu ndak maok pisah karna disana kita disambut dengan hangat. Niken sempat nangis saat malam terakhir karna yang ade dalam fikiran saat itu ndak bakal ada lagi suasana kekeluargaan saat kita kembali ke kota semua pasti sibuk dengan urusan masing-masing.” Ujar Niken mahasiswi PGMI.

“Menurut saya yang gagal move on itu, setiap kegiatan selalu bersama teman-teman.” Ujar Maulana mahasiswa PAI.

“ Batang idong kalian “ Ujar Fikri Mahasiswa PAI.

“ Kumpul barengnya, susah senengnya, makan bareng seadanya dan ketemu kawan baru eh malah jadi sayang. “ Ujar Nirmala mahasiswi PGMI.

“Kebersamaan” Ujar Anisa mahasiswi PAI.

“ Yang membuat saya gagal move on dalam kegiatan PBM tahun ini adalah kekompakan dalam kelompok, yang membuat saya menganggap bahwa kelompok ini adalah keluarga saya sehingga rasa untuk melupakan antar saudara itu sangat sulit karena 1 minggu tidur dalam 1 atap, makan bersama dan bersenda gurau bersama itulah alasan mengapa saya tidak bisa move on dari kegiatan PBM tahun ini.” Ujar Fitri mahasiswi PGMI.

“ Ngerawat kamu beib “ ujar Rihana mahasiswi PIAUD.

“ Saya kangen dengan suasana masyarakat, dan kangen masa kebersamaan kelompok 3 mulai dari makan, ketawa dan lain-lain” Ujar Haikal mahasiswa PIAUD.

“ Jawabannye ialah begutu banyak pengalaman selama seminggu yang sulit untuk dilupakan , apalagi sama adek-adek PBM.” Ujar Idris salah satu mentor kelompok 3 jurusan PBA.

Begitulah kesan dari kelompok kami yang tidak semuanya mengungkapkan namun pada dasarnya, kelompok 3 benar-benar dibuat gagal Move On oleh masyarakat Desa Retok Jalan Parit Salam.

penulis: Feby Kartikasari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here