Cabut Remisi Pembunuh Jurnalis Demi Lindungi Kebebasan Pers

0
437
Foto Adhe Siti Fatimah

wartaiainpontianak- Kegiatan  diskusi terbuka  yang di selenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI ) Pontianak bersama Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) WARTA Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, bertempat di Gazebo IAIN berjalan lancar.

Diskusi ini mengusung tema  “Cabut Remisi Pembunuh Jurnalis “ yang di ikuti oleh anggota AJI, wartawan  Profesional, serta lembaga Pers Kampus. Pada diskusi ini  AJI  Menginisiasi bersama jurnalis se-Indonesia utk menolak remisi pembunuh Jurnalis Radar Bali AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, remisi tersebut di berikan dua Minggu sebelum hari pers Nasional tepatnya hari ini, Sabtu (9/2/2018).

Selain dihadiri oleh wartawan dan pers kampus diskusi ini juga turut mengundang Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, Kelembagaan, dan Kerjasama Fakultas Syariah IAIN Pontianak, Rasiam, SE.I., MA untuk memberikan sambutan.  beliau bercerita bahwa “Secara diam- diam saya merupakan pengagum jurnalistik, Kami mendukung kegiatan ini karena pemberian remisi ini mencoreng apalagi kasus pembunuhan. Serta Perguruan tinggi sangat penting untuk  bekerjasama dengan pers karena pengembangan sangat diperlukan dan memperjuangkan keadilan bersama pers, saya ucapkan Selamat berjuang, kita doakan perjuangan ini bisa direspon oleh pemerintah.” Ujarnya.

Lembaga Pers Mahasiswa juga diberikan ruang untuk memberikan sambutan dalam diskusi ini, yang di wakili oleh salahsatu tim LPM Warta, ” Jurnalis kampus saat ini masih agak takut menyuarakan hal hal seperti ini. Walaupun kami selalu di pantau oleh AJI namun kami belum di akui oleh Dewan Pers,  Kami selalu mengadakan diskusi diskusi  dengan para senior akan tetapi masih perlu banyak pancingan karena mahasiswa sekarang banyak yang pasif jadi perlu bimbingan agar lebih aktif. Ke depan kita bisa lakukan kerjasama lagi dan memperbanyak pelatihan untuk lebih mengkaji dunia pers, karena pengetahuan Persma saat ini masih sangat minim. Saya berharap kami bisa menyuarakan aspirasi baik di dalam kampus maupun luar.kampus”, tuturnya.

Puncak acara ini mendatangkan dua narasumber yaitu ketua AJI Pontianak Dian Lestari dan wartawan senior Andi Fahrizal yang akan memberikan pandangan dan penjelasan terkait kasus pembunuhan jurnalistik serta pencabutan remisi yang di sahkan oleh presiden,  Karena remisi yang diberi kepada pembunuhan jurnalis itu sama dengan mencederai demokrasi.

Dian Lestari selaku ketua AJI Pontianak  membuka kata dengan menjelaskan kronologi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh I Nyoman Susrama kepada Jurnalis Radar Bali AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. “Saya ingin menyambung kan informasi tersebut agar menjadi informasi yang utuh,  Di Surabaya ada jurnalis yang turun ke jalan untuk menyuarakan agar pemberian remisi kepada pembunuh prabangsa di hari pers Nasional ini dihilangkan. Banyak jurnalis yang harius bertaruh nyawa demi pemberitaan, ada wartawan Pontianak pada tahun 2007 dibunuh karena berita illegalloging” ungkapnya.

Dian melajutkan ceritanya, “Prabangsa dibunuh karena memberitakan adanya korupsi dan nepotisme dari adik bupati Bali, berjalan beberapa Minggu Prabangsa dikabarkan menghilang setelah pemberitaan itu, dan mayatnya ditemukan oleh nelayan di laut. Ada banyak tudingan meninggalnya Prabangsa, Polisi melakukan penyelidikan namun belum menemukan titik terang kasus ini. Ada beberapa dugaan yaitu, karena dia memiliki hubungan asmara tapi setelah diselidiki tidak terbukti. Kasus itu pun sempat  mengendap, tapi AJI Denpasar terus mendesak pihak kepolisian untuk melanjutkan penyidikan dan AJI membantu mengumpulkan kepingan informasi.”

“Prabangsa punya saudara tiri yang kerja di perusahaan air si pembunuh tapi adiknya mengundurkan diri karena tidak cocok dengan manajemen kantor.  Dan anehnya ketika pemakaman prabangsa, tidak ada satupun karyawan perusahaan itu yang datang, keanehan lain yaitu Susrama mempunyai  rumah kosong tiba-tiba ada ritual membuang sial di rumah tersebut, tentu hal ini menjadi pertanyaan besar. Setelah bukti bukti terkumpul dan susrama terbukti bersalah kemudian Jaksa menuntut Susrama vonis hukuman mati, namun dengan bebrapa pertimbangan maka akhirnya Susrama dijatuhi hukuman pidana seumur hidup. Hingga terdenagar desas desus akan ada remisi pembunuh jurnalis,  Jika kasus ini tidak di tanggapi maka ke depan akan banyak kasus kejahatan terhadap jurnalis,” tutup Dian.

Setelah pemaparan kronologi pembunuhan jurnalis tersebut Andi Fahrizal juga menceritakan tentang kerja wartawan, bahwa “Semua jurnalis itu sakit, indikator sakit tidak hanya fisik, jurnalis bekerja dengn penuh tekanan, dua jenis kekerasan fisik dan sikis. Awalnya Susrama di vonis hukuman pidana seumur hidup namun akan  di remisi menjadi 20 Tahun, Susrama sebagai pembunuh berhak mendapat keringanan, siapa yang berhak memberi remisi yaitu Presiden. Namun hak bisa di terapkan dan  juga  tidak, yang harus dilakukan itu adalah kewajiban.”

“Presiden mengeluarkan Kepres 29 Tahun 2018,  sejarah bangsa ini kita rebut dari militansi lentera sama seperti kita saat ini semoga upaya kita membuahkan hasil dan remisi dapat di cabut. Karena keleluasaan kejahatan terhadap pers maka akan  banyak kasus yang membahayakan wartawan. Akan sangat menyakitkan jika presiden mengesahkan remisi tersebut, hal tersebut akan membuka peluang kejahatan terhadap pers tidak hanya di Bali tapi seluruh Indonesia. Setiap pekerjaan pasti ada resikonya namun kita bisa membuat upaya agar potensi tekanan kekerasan tidak meluas,” ungkap  Andi Fahrizal.

Sebelum kegiatan diskusi di tutup Dian memberikan wajengan kepada para Pers kampus, Jika itu kebenaran maka suarakan dengan  menggunakan strategi yang baik.  Kebebasan pers di Indonesia akan mengalami pergolakan karena memperjuangkan  kebebasan pers tidak mudah,  penerapan pers kampus harus di lakukan serta lebih di galakan demi mengawal institusi. Kualitas berita harus ditinkatkan serta bisa mengkritisi, dan faham dengan apa yang terjadi di kampus.

Dipenghujung acara Aceng Mukharom salah satu wartawan senior juga memberikan masukan kepada pers kampus.  “Bicara pers baik kampus maupun  menstrim sebenarnya hampir sama. Namun kelemahan LPM  hanya  menjadi corong kampus tanpa bisa mengkritik, jadi jangan pernah takut jika benar dan perbaiki kualitas tulisan serta konten kalian. Tetap ramah dalam membuat produk, jika itu fakta maka suarakan, masih banyak bahan untuk diskusi, tujuan kegiatan ini untuk belajar bersama mengkaji kejadian yang ada. Sebagai pemantik dengan melihat banyak media seperti kampus di Yogjakarta, walaupun dana dari institute namun jangan menjadi corong kampus, carilah jangan hanya satu narasumber sebagai pembanding agar fakta dan produk jelas. Lakukan introspeksi diri, harus ada rencana tindak lanjut untuk kedepan,dan menyurakan apa yang ada di sekitar kita,” tutup Aceng.

 Hari ini tepat pada pukul 11.33 WIB kita menjadi salah satu saksi penggerak kebebasan pers dengan diskusi cabut remisi pembunuh jurnalis Prabangsa yang akan di cabut oleh presiden. Jurnalis harus tetap berdiri sebagai penegah dan tidak terlibat dalam politik praktis. Tidak menggadaikan simpati kepada pasangan calon tertentu, namun tetap menggunakan akal sehat independen dan netral.  pemerintah dan rezim akan teus berubah namun kebebasan pers harus tetap di perjuangkan, tidak selayaknya AJI berpihak kepada kelompok tertentu.

Reporter : Sulistio

Editor : Adhe SF

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here