Remaja Gaul Pandai Bertafakkur

0
594

Penulis : Abdul Hafidz ( Mahasiswa jurusan PAI semester 1 IAIN Pontianak)

 

Remaja dengan karakter yang dinamis, penuh vitalitas, bahkan bergejolak dan optmis belum tentu memiliki pengendalian emosi yang stabil. Sebab masa transisional psikologisnya juga menghadapi suatu masa sosial dan kultural yang terus berkembang.

Dalam situasi psikologis yang seperti ini tidak jarang di antara orang terjerumus dalam pola hidup yang justru merusak dirinya sendiri, seperti ketergantungan kepada barkoba yang kemudian mengakhiri hidupnya. Atau ada pula remaja yang telah mengukir prestasi justru kehilangan masa mudanya.

Tapi harus kita akui bahwa pemuda di negara kita ini kebanyakan yang menyandang gelar pelajar,akan tetapi malas dalam kegiatan belajar. Ironisnya banyak dari mereka yang menghabiskan masa remajanya dengan hal-hal cenderung negatif seperti pacaran, nongkor ala trend masa kini, ataupun hura-hura yang tidak jelas.

Ada juga pemuda yang kelihatnnya Islami, yang telah sudi menerima dan menjalankan beberapa aturan Islam, seperti berpakaian syar’i namun sungguh disayangkan tidak dibarengi dengan pengetahuan agama yang cukup. Alhasil mereka lebih memilih gaya berpakaian mengikuti trend anak gaul.

Pada dasarnya kitalah yang seharusnya menjadi tumpuan dan harapan agama, karena tidak diragukan lagi bahwa pemuda yang memiliki peran sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat yang kehilangan keaktifan masa mudanya disebut masyarakat yang mati. Untuk itu di sini sangat ditekankan peran pemuda, untuk kemajuan negeri.

Kalau kita membuka sejarah bagaimana para sahabat generasi pertama adalah mereka yang banyak berfikir (bertafakur). Sebab Rasulullah Saw bersabda bahwa “Bertafakur sejenak lebih baik dari ibadah enam puluh tahun”. Karena proses tafakur sangat bermanfaat untuk setiap insan. Dengan bertafakur kita mampu memahami makna kehidupan yang Di kehendaki. Karena dengan menjadi ahli fikir , Insyaallah kita mampu menjalani hidup dengan lebih baik.

Teramat pentingnya aktifitas berfikir, para sahabat mengkaitkan berfikir dengan keimanan seseorang, mereka berkata ” Cahaya dan sinar Iman adalah Berfikir”. Tapi tidak dapat dipungkiri, jika aktifitas berfikir sangat jarang dipraktekan di kalangan pemuda. Para remaja kadang tidak bisa mengoptimalkan peran otaknya untuk mengelolah ilmu dan keyakinan, padahal jika otak kita digunakan untuk itu, sama halnya dengan mengasah pedang agar kian tajam. Justru jika otak kita diibiarkan tidak bekerja atau berfikir, apalagi untuk berfikir yang berat-berat malah membuat otak kita akan tumpul.

Sungguh mengherankan jika masih banyak di antara kita yang masih enggan untuk menggunakan otak sebagai alat berfikir secara optimal. Kita seharusnya mencontoh Imam Syafi`I yang pada usia 7 hahun ia sudah Hafal Al-Quran. Sebanyak 30 Juz. Itu adalah contoh bagaimana membiasakan otak kita bekerja keras. Para sahabat Rasulallah, yang termasuk Khulafa Ar-Rosyidin, semuanya termasuk dalam Mujtahid Mutlaq. Artinya adalah orang-orang yang ahli fikir, alias mufakkir. "Sebaik-baiknya pemuda adalah yang bersikap seperti orang tua, bisa memejamkan matanya dari kejahatan, berat langkah kakinya menuju kebathilan, demi beribadah Khusyu dan bergadang semalaman, sungguh Allah melihat mereka pada malam hari ketika punggung-punggung mereka condong kepada Al-Quran.

“Setiap kali salah seorang dari mereka Membaca ayat tentang Syurga, mereka menangis karena rindu akan keindahannya, dan ketika membaca ayat tentang Neraka, mereka benar-benar histeris seakan- akan bencana Neraka Jahannam ada diantara telinga mereka.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here