Perempuan yang Ingin Jadi Pembunuh

0
577
Ilustrasi : google.com

Oleh : R. Husnu

Maryana namanya, wanita desa yang beberapa waktu lalu datang ke kompleks dan memohon-mohon minta diberi tempat tinggal, katanya ia tidak punya siapa-siapa di kota ini. Waktu itu raut melasnya mampu membuatku luluh dan berbaik hati memberinya tempat tinggal. Sepenuh hati ia mengucapkan terima kasih, ia juga bilang akan membalas semua kebaikanku kelak. Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Kuhibahkan sebuah rumah kosong, yang dahulu sempat aku sewakan pada beberapa gadis luar kota yang datang dengan mimpi-kurang lebih-sama dengan mimpi Maryana, mencari rupiah. Mereka kemudian memutuskan pindah karena alasan menemukan kontrakan baru yang menurut mereka lebih nyaman. Meski aku yakin, sebenarnya mereka pergi karena merasa tak kuat dengan harga sewa yang kuberikan. Terlalu mahal. Tapi untuk Maryana aku memberikannya setengah cuma-cuma.

Aku sempat berpikir bahwa Maryana akan sama seperti mereka, pergi setelah merasa menemukan tempat yang dirasanya lebih nyaman. Aku tidak terlalu yakin pada ucapan-ucapannya tempo hari, bahwa ia akan membalas kebaikanku kelak. Aku menganggap kata-katanya itu tak lebih dari sekedar hembusan angin lewat saja, menentramkan, setelah itu hilang. Lagipula aku tidak pernah berharap.

Aku hanya kasihan saja padanya, tidak bisa kubayangkan jika hal serupa terjadi pada diriku atau malah adik-adikku.

“Aku menyukai kompleks ini mas” itu katanya suatu hari, ketika kutanyakan apakah ia betah di sini.

Malam-malam, Maryana sering duduk sendiri di teras depan, memandangi bintang, dan berandai-andai, bahwa kelak ketika ia mati, Tuhan akan mengangkat rohnya terbang ke sana lalu menjadi salah satu bagian dari bintang-bintang yang ia tatap itu. Dan ia berharap nanti bakal ada seseorang yang selalu betah menatapnya.  Ah Maryana yang aneh.

Sempat saban malam, sepulang dari warung kopi, kutanyakan padanya, kenapa ia suka sekali duduk seorang diri di teras malam-malam? dan jawaban yang kuperoleh hanya sepotong senyum! Entah kesimpulan apa yang bisa kupahami dari sepotong senyum? Kuputuskan saja untuk beranjak dari dekatnya. Membiarkan ia kembali khusyuk menatap gemintang sembari bersenandung.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia datang kerumahku menggedor-gedor pintu, katanya ia membawa kabar gembira, ia diterima kerja di salah satu restoran. “Gajinya cukup menjanjikan mas” berbinar-binar bola matanya ketika mengatakan itu, ia seperti baru saja melihat masa depan cerah yang menanti ia dan kehidupannya di depan sana.

“Saya akan bayar setiap bulan mas” ia tersenyum. Datar saja kutanggapi kata-katanya itu. aku tidak meminta ia membayar sewa namun juga tidak akan menolak jika ia mau membayarnya..

“Kau kerja malam?” aku iseng bertanya

“Iya mas” lagi-lagi ia tersenyum memamerkan deretan gigi-giginya yang rapih.

***

Sejak peristiwa kabar gembira itu, aku jadi jarang melihat Maryana, ia jadi jarang duduk di teras malam-malam, Maryana telah menemui rutinitas barunya, menjadi pelayan restoran. Ia sering pulang pagi, bahkan siang.

Tak bisa kubayangkan berapa pengunjung restoran yang akan terpesona melihat kecantikan Maryana. Ya, tubuhnya yang tinggi langsing, wajahnya putih bersih, bibirnya manis, bola mata jernih serta hidung mancung, ah wanita desa itu memang mendekati kodrat manusia dengan anugrah fisik yang sempurna. Pantas saja si bos restoran menerimanya bekerja di sana.

Maryana adalah gadis yang berpegang teguh pada janji, buktinya setelah beberapa bulan ia bekerja, sekonyong-konyong saban hari ia datang menemuiku pagi-pagi sekali, “Mas ini janji saya” ia menyodorkan selembar amplop berisi uang, katanya itu adalah pembayaran awal yang bisa ia bayar untuk bulan itu, “Cuma segini adanya mas” malu-malu ia mengucapkan itu. Aku tak langsung meraihnya tapi juga tak berniat menolaknya, ku biarkan saja Maryana meletakkan amplop itu di atas meja. Sejujurnya saat itu aku rela jika ia mengambil kembali amplop itu, namun juga tak keberatan jika ia menyuruhku mengambilnya.

Bagaimanapun aku tak mau bermunafik-ria, maksudku sesungguhnya aku juga butuh uang,  gajiku sebagai sopir truk tak cukup besar untuk sekedar biaya menikah lagi. Bukan poligami, istriku meninggal setahun lalu.

Ambil Mas, itu separuh dari gajiku bulan ini, separuhnya lagi aku pakai untuk beli bedak sama gincu”

Lugu, baik, jujur. Sifat-sifat itu seperti tertanam kuat dalam diri Maryana. Hampir tak pernah seumur hidup aku temui gadis serupa dia. Bahkan mungkin memang hanya dia satu-satunya di dunia ini.

Tapi sialnya, orang jujur yang terlalu lugu seperti Maryana selalu menarik bagi para penjahat tak beradat, dia  jadi incaran lelaki hidung belang tak berperikemanusiaan, diam-diam lelaki itu sering datang ke tempat ia bekerja, berbaur dengan para pelanggan lain, memperhatikannya.  Konon setengah mati lelaki itu mengangumi kecantikan Maryana. Diam-diam lelaki itu mendekatinya. serupa malaikat penjaga pintu surga, ia bertingkah baik setiap kali menghadap Maryana.

Dan benar saja, Maryana tetaplah Maryana, gadis desa yang lugu dan tak cuckup licik untuk sekedar menebak manusia mana yang baik dan manusia mana yang jahat. Pikirannya sudah kadung menganggap semua manusia adalah baik. Ia belum bisa mengenal rupa hitam pada langit yang biru, ia belum terlatih menebak badai mengerikan pada laut yang beriak tenang. Ia belum tahu sisi mencekam di balik gemerlap sebuah kota. Ia belum tahu bahwa ada banyak srigala yang piawai menyamar menjadi domba.

Aku pernah mengingatkannya, namun ia hanya menjawab “Gak boleh suudhzon..mas” jawaban pendek yang mampu membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi. Maka akupun beranjak dan membiarkan Maryana menentukan sendiri apa yang hendak ia lakukan. Lagipula ia bukan siapa- siapaku.

Dengan senang hati ia masuk kedalam perangkap lelaki bejat itu, hampir setiap malam sepulang kerja aku melihat lelaki itu mengantarnya dengan sedan mewah. Maryana tidak sadar, bahwa di balik rupa menyanangkan lelaki itu bersembunyi seekor srigala menakutkan yang siap mencabik-cabik ia dan mimpi-mimpinya. Ia terlalu asyik dengan tipu daya lelaki itu.

Hingga akhirnya ia tiba pada satu titik yang membuatnya mau tidak mau harus membuka mata, dan menyadari bahwa sikap terlalu lugu tidak hanya sekedar membuat dia kehilangan separuh dari malam-malamnya, tapi ia juga telah kehilangan kehormatannya.

“Mas aku malu..” dengan bola mata berair ia mehampiriku, wajah bercahaya itu mendadak seperti kehilangan hampir seluruh dari sinarnya. Aku hanya diam tak berkata apapun.

“Aku ingin membunuh janin ini, Mas”  tak kusangka wanita serupa Maryana bisa mengucapkan kata-kata sekeji itu, aku terbelalak dibuatnya, terkejut sentengah mati. Ia ingin jadi pembunuh? Bah!

“Mar..apakah kau gila?” aku menyergah ucapanya

“Justru aku akan gila jika janin ini tetap berada di perutku mas”

“Nyebut Mar nyebut, janin itu berhak lahir kedunia, ia juga berhak memanggilmu Mama, ia tidak tahu apa-apa, dan kau tidak berhak melampiaskan kemarahanmu padanya, kau tidak ingin ada yang memanggilmu Mama?” aku mencoba meluruskan cara pikirannya. Maryana lalu diam tergugu, ia masih menangis sesenggukan sembari mengelus-elus perutnya.

Aku mengira sejak kejadian itu semua akan baik-baik saja, Maryana akan kembali seperti biasa, bekerja seperti biasa, duduk diteras menatap bintang, tapi ternyata perkiraanku meleset. Keesokan harinya maryana hilang tidak tahu kemana, ia pergi diam-diam dan hanya meninggalkan selembar amplop berisi uang di kamarnya. Biaya kontrakan bulan ini. Duh gadis malang itu. Kemana dia? Apakabar janin dalam perutnya?

Sudah coba kucari tahu ke tetangga, pak RW, bahkan ke bos restoran tempatnya bekerja, namun tidak satupun dari mereka yang tahu  Maryana pergi kemana. Ia seperti raib ditelan bumi. Tidak ada satupun yang melihat jejak kakinya.

***

Satu dua tiga minggu berikutnya tak kujumpai  maryana pulang.  Akupun memutuskan untuk lupa, tidak lagi mengungkit-ungkit apalagi mencarinya. Kujalani hari sebagaimana mestinya, bekerja rutin, berangkat pagi dan baru akan pulang setelah malam menjelang.

Dan pada suatu malam sepulang kerja, aku melintas di depan rumah kosong yang telah beberapa minggu lalu ditinggalkan Maryana, kudapati seorang gadis 20 tahunan duduk di terasnya.

“Mas, mas yang punya kontrakan ini kan?” Gadis itu memanggilku, Aku melihat kearahnya lalu berkata iya

“Mas, saya mau tinggal di kontrakan ini” lanjutnya. Tanpa pikir panjang akupun mengiyakan dan bergegas mengambil kuncinya.

“Ah iya, nama saya Arini, Mas” kali ini ia menjulurkan tangan dan aku menjabatnya.

“Saya Bahrudin” ucapku.

“Mas punya istri?” Ia tertawa menggodaku.

Aku menggeleng, mengalihkan pandangan ke langit, menatap bintang. Ah aku melihat Maryana di sana.  Entahlah apakah ia sudah memenuhi keinginannya untuk membunuh atau tidak?

 

*Cerpen ini awalnya berjudul Maryana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here