Menyulut Lagum MURI pun Pecah

0
596
Foto : Hariyadi

SAMBAS, wartaiainpontianak.com – Sebanyak 2018 buah meriam bambu tersusun di tengah  lapangan bola Desa Sijang Parit, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Masing-masing memiliki panjang sekira satu meter. Meriam-meriam itu berdiameter seukuran mangkok. Meriam bambu atau yang akrab disebut lagum oleh masyarakat Sambas inilah yang kelak memecah rekor MURI.

Pagi itu, Minggu 28 Oktober 2018 matahari menilik dari balik pepohonan.  Air embun membasahi ribuan lagum (meriam bambu) yang telah tersusun sejak tadi pagi. “Kami menyiapkan lagum mulai dua hari lalu, pemuda-pemuda Sambas yang bekerja keras,” tutur Yuspiandi, Korlap Daerah Festival Kirab Pemuda Sambas 2018.

Sebelum dilaksanakannya Kirab Pemuda di Desa Sijang, lembaga pencatat rekor, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menawarkan kepada  masyarakat Sambas untuk mebuat rekor baru. Adalah rekor meriam bambu terbanyak se-Indonesia bahkan dunia.

“Kemudian kami ditawarkan oleh MURI apakah pemuda di Desa Sijang , khususnya daerah perbatasan ini, mampu memecahkan rekor MURI,” ucap Yuspiandi menirukan informasi yang disampaikan oleh MURI. Sebelumnya, kata laki-laki berkulit sawo matang itu bahwa mereka sukses melaksanakan kegiatan bakti sosial beberapa minggu lalu.

Mendengar kabar itu Yuspiandi berkoordinasi dengan aparatur pemerintahan dan seluruh pemuda di Kabupaten Sambas. “Akhirnya kami sepakat untuk menampilkan meriam bambu (lagum). Awalnya kami ditawari sebanyak 2 ribu meriam bambu. Namun inisiatif dari kami untuk menambah menjadi 2 ribu delapan belas ruas meriam bambu,” ucap Yuspiandi.

https://wartaiainpontianak.com/2018/10/21/pjtd-lpm-warta-wartawan-senior-beri-materi-jurnalistik/

Yuspiandi mengatakan lagum dipilih sebagai instrumen dalam Kirab Pemuda bukan tanpa alasan. Kata Yus, panggilan akrabnya , lagum memiliki nilai historis. “Nenek moyang kami dulu menggunakan lagum ini untuk mengusir binatang buas. Binatang yang sering masuk ke pemukiman warga dan menggangu perkebunan warga,” tutur Yuspiandi bercerita. Mata pria itu sesekali mencoba mengingat-ingat kenangan di kepalanya.

Alasan lain yang diungkapkan Yuspiandi bahwa lagum juga identik dengan bulan Ramadan. “Permainan tradisional inilah alat untuk saling mengingatkan waktu sahur pada bulan puasa,” kata Yuspiandi menambahkan.

Sementara matahari kian meninggi, cuaca cerah berawan. Terik matahari sangat terasa pagi itu di lapangan bola Desa Sijang Parit. Para peserta berdatangan, mulai dari pelajar SD, SMP, dan SMA. Mereka rata-rata mengenakan baju pramuka. Sebagian menggunakan batik. Separuhnya dengan kostum olahraga. Beberapa rombongan di antara mereka menggunakan atribut drumband. Lengkap dengan alatnya.

Ada juga pemuda yang menggunakan kostum ala komunitas dan peguyuban. Seperti perkumpulan silat dan lain sebagainya. Jumlah mereka puluhan. Laki-laki dan wanita semuanya menyemut di tengah lapangan.

https://wartaiainpontianak.com/2018/10/23/dema-ftik-ajak-mahasiswa-ngobrol-pintar/

Upacara Sumpah Pemuda dan Ribuan Meriam Bambu

Upacara peringatan hari Sumpah Pemuda dimulai. Ketika itu, Asisten Deputi Bidang Kepemudaan Kemenpora, Junaidi, telah berada di steect tamu. Dia didampingi oleh Senior Manager  MURI dan Aparatur Desa Sijang serta beberapa tamu lainnya.

Upacara berlangsung khidmat hingga selesai. Junaidi selaku pembina upacara Peringatan 90 Tahun Sumpah Pemuda mengapresiasi atas terselenggaranya acara yang bersamaan dengan Kirab Pemuda 2018.

“Pemuda maju, olahraga jaya, siapa kita? Indonesia, NKRI harga mati,” begitulah slogan yang diucapkan Junaidi ketika membuka amanat upacara. Dia mengajak kepada seluruh peserta upacara untuk menggaungkan narasi tersebut sebagai bentuk nasionalisme kepada Indonesia.

Selesai upacara Junaidi yang mengenakan kemeja putih bertuliskan Kemenpora itu penasaran untuk turut menyalakan meriam bambu. Dia didampingi Staf Ahli Bupati Sambas, I Ketut Sukarja dan bebera panitia untuk menyalakan meriam dari bambu itu.

https://wartaiainpontianak.com/2018/09/28/lukisan-pengharapan-dan-doa-gambarkan-bencana/

Ranting kayu dengan api diujung sudah dinyalakan. Junaidi bersiap-siap mengarahkan api ke lubang yang berisi bensin pada meriam bambu. Seketika bunyi ledakan meletup.Wajah senang bercampur lega tidak dapat ia sembunyikan. Ia merasakan sensasi bermain legum di daerah yang khas dengan suku melayu tersebut.

“Saya kira pemuda dan seluruh masyarakat Desa Sijang ini antusias dengan kegian Kirab Pemuda ini. Pada waktu yang sama kita juga melaksanakan upacara peringan hari sumpah pemuda,” tutur Junaidi yang dikerumuni awak media di tengah lapangan.

Dia mengapresiasi para pemuda yang telah mempersiapkan kegiatan dan berani menampilkan ribuan lagum serta kesenian lain. “Pemuda sebagai kader bangsa harus mempunyai takad untuk maju, dan saya mengapresiasi pemuda Kecamatan Galing ini,” kata Junaidi kepada rekan-rekan media. Sementara sinar surya kian terik.

Rekor MURI yang dikaitkan dengan Kirab Pemuda merupakan kali kedua. Kabupaten Sambas salah satu mencatat kesempatan itu. “Saya kira memecah rekor MURI memainkan lagum terbanyak ini merupakan hal yang sangat luar biasa. Karena saya yakin untuk mempersiapkan kegiatan ini tak semudah membalikkan telapak tangan,” tutur Junaidi.

Para siswa antusias dengan lagum

Sembari menunggu keputusan sidang rekor MURI, para peserta masih asyik memainkan lagum siang itu. Meskipun cuaca semakin menyengat, hal tersebut tidak menyurutkan semangat peserta. Mereka yang didominasi kalangan pelajar antusias. Tak kenal peluh.

Salah satu peserta itu bernama Nurhaliza. Siswi kelas 10 IPS SMAN 1 Galing. Dia mengaku senang dengan kegiatan Kirab Pemuda yang terselenggara di Desanya. “Bisa menambah wawasan, menambah teman dan banyak kenalan, intinye suke lah,” ucap siswi berkerudung itu.

Senada dengan yang dikatakan Nurhaliza, siswi lain yaitu Sapadiah pun mengaku senang. Kegiatan Kirab Pemuda membuatnya mengenal kembali kebudayaan lokal. “Senang, bise balajar lagi tentang kesenian maupun permainan tradisional,” tutur murid yang tengah duduk di bangku kelas 9 SMP tersebut.

Lagum Sambas resmi ledakkan rekor

Matahari hampir tepat di atas kepala, sidang keputusan rekor MURI berlangsung. Di atas panggung berukuran sekira 6 x 6 meter itu telah berdiri beberapa pejabat dan tamu penting. Di antaranya, Awan Raharjo, Senior Manager MURI . Dialah yang akan membacakan keputusan pemecahan rekor MURI meriam bambu terbanyak se-Dunia.

Awan Raharjo membaca sidang keputusan. Pengesahan dengan pemberian sertifikat rekor MURI diiringi suara tepuk tangan menyambut torehan yang membanggakan Desa Sijang. Banyak peserta yang menyaksikan sidang keputusan. Mereka yang masih tetap berdiri di bawah terik matahari siang itu.

Awan Raharjo mengatakan MURI adalah lembaga pencatat rekor yang mengapresiasi peristiwa-peristiwa superlatif yang dibuat oleh putra-putri kebanggaan Indonesia. Dia mengaku bahwa hari itu menjadi momentum yang sangat spesial bagi MURI. “Karena rekor ini sekaligus memecahkan rekor sebelumnya di tahun 2017 . Yaitu di Kabupaten Pasaman Sumatera Barat dengan menampikan sebanyak 1821 meriam bambu,” kata Awan Raharjo sembari melihat kertas berisi catatan ditangannya.

Menurut penuturan Awan Raharjo, pihaknya telah memverifikasi rekor ini dengan memperhatikan kriteria. “Ini masuk ke kreteria superlatif, yaitu bentuk kegiatan terbanyak, terbesar ataupun durasi waktu yang tercepat,” kata Awan Raharjo.

Pemuda ujung tombak kemajuan

Sementara, Staf Ahli Bupati Sambas, I Ketut Sukarja mengatakan pemerintah Kabupaten Sambas terus berupaya mendorong kemajuan pemuda perbatasan yang ada di Sambas. “Bagaimana pun pemuda adalah ujung tombak negara menjadi regenerasi yang akan memimpin bangsa,” tutur I Ketut Sukarja.

I Ketut Sukarja berharap dengan melihat antusias dan semangat masyarakat, pemuda dapat menjadi modal untuk membangun kabupaten Sambas khususnya di Kecamatan Galing. “Kita yakin masyarakat mempunyai kesan yang kuat untuk membangun dan memaknai kemerdekaan Indonesia,” tambah pria berperawakan tinggi itu.

Sudah banyak prestasi yang ditorehkan oleh pemerintah Kabupaten Sambas. Contohnya pertengahan Agustus lalu, rekor MURI pengibaran bendera terbanyak di daerah perbatasan berhasil diraih. Tepatnya pada momen peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73.

Pekerjaan rumah pemerintah Kabupaten Sambas adalah menjaga nama baik prestasi yang telah terukir. Jangan sampai prestasi tersebut tercoreng hanya karena kelakuan oknum masyarakat secara umum, aparatur maupun pemudanya.

Sejalan dengan itu I Ketut Sukarja menyampaikan harapan besar. Menghadapi kemajuan teknologi yang kian tak terbendung ini dia berharap pemuda dapat bersikap selektif menyaring informasi. “Hal yang dapat merusak dan menghancurkan negara di era sekarang ini salah satunya hoaks. Pemuda khususnya dituntut untuk lebih teliti, dan mampu memilah berita yang tersebar,” harapnya.

Belum lagi, momentum pemilihan presiden yang tersisa beberapa bulan lagi. I Ketut Sukarja menghimbau kepada seluruh pemuda Samabas untuk tidak mudah terprovokasi oleh ujaran kebencian (hatespeach) yang sering ditemui di media sosial.

Tidak henti-hentinya, Festival Kirab Pemuda hari itu menggaungkan narasi pemuda maju, pemuda bersatu. Karena bagaimana pun kita sepakat bahwa pemuda adalah ujung tombak perubahan.

Reporter : Imam Maksum

Editor : Redaktur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here