Masih Sering Jadi Korban Hoaks

0
648
WARTA/IMAM MAKSUM
wartaiainpontianak.com – Kegiatan Temu Pemuda Lintas Iman (Tepelima) Kalbar dilaksanakan di Canopy Center Jl. Purnama, Pontianak Kalimantan Barat, Sabtu 17 November 2018. Sebanyak 25 pemuda dari berbagai macam latar belakang suku dan agama membaur dalam satu forum hingga empat hari ke depan.

 

PONTIANAK, Imam Maksum

Fenomena hoaks menjadi topik utama yang dibahas pada sesi kedua, Sabtu 14 November 2018, siang itu di cafe Canopy Center. Adalah Riski Prabowo, Jurnalis Tribun Pontianak menjadi pemateri.

“Hoaks itu informasi yang menyesatkan, dan dilakukan dengan unsur kesengajaan,” kata Bowo panggilan akrab pria yang juga bergabung di Hoaks Crisis Center (HCC) Kalbar tersebut.

Fenomena hoaks memang menjadi ancaman kesatuan republik tercinta ini. Setelah mencuat isunya pada tahun 2014 lalu, ketika momentum pilpres, hoaks kini menjadi momok yang sangat mengerikan. Tak jarang perpecahan terjadi di lingkungan masyarakat hanya karena kabar kibul yang menyesatkan.

“Hoaks itu terkadang memuat unsur provokatif, sehingga penerimanya cenderung terbakar amarahnya ketika mendapat kabar palsu,” kata Bowo dalam sesi itu.

Bowo mengatakan hoaks juga dapat berupa kabar yang tidak benar tapi ditampilkan seolah-olah benar. “Hal ini yang juga sering muncul dan kadang kita pun menjadi korban hoaks, dan membagikannya ke kontak chat kita,” ucap Bowo.

Ada tujuh jenis hoaks yang perlu diketahui, kata Bowo, seperti yang ia tampilkan dalam slide di hadapan peserta. Hoaks narative, misleading caption, gambar hoaks, fake WhatsApp converstion, audio, dan video.

Lanjut, Bowo, jurnalis yang juga bergabung dengan turnbackhoaxs itu menyebut ada dua kategori kabar kibul. Mis-informasi yaitu kabar yang salah tapi penyebar percaya bahwa berita itu benar. Kedua, dis-informasi, kabar salah dan tahu bahwa itu tidak benar tapi sengaja disebar.

Matius Andi, mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Tanjungpura, salah satu peserta mengatakan pengalamannya ketika mendapati hoaks. Menurut Andi jika bertemu hoaks tidak usah ditanggapi. ” Kalau memang sedikit agak bisa dipercaya, kita harus melakukan pengujian apakah informasi itu sudah terkonfirmasi atau belum,” Matius Andi menuturkan.

Pemuda kelahiran Sekadau itu menuturkan bahwa sikap yang ia ambil ketika bertemu informasi yang provokatif atau aneh adalah menahan diri. “Intinya jangan dishare ulang dulu,” kata Matius Andi.

Ditemui terpisah, Ahad 18 November 2018, Andi sapaan akrabnya menceritakan pengalamannya bertemu hoaks di media sosial. ” Paling banyak saya temui di medsos kayak Facebook dan Instagram,” ucap Matius Andi.

Sebelum mengikuti Tepelima Kalbar yang akan berlangsung hingga 20 November 2018, Andi mengatakan paham secara singkat apa itu berita hoaks. “Sudah sering kita dengar istilah hoaks, informasi palsu yang lumayan kerap masuk di wa, dan FB,” kata Matius Andi.

Editor : Imam Maksum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here