PJTD LPM Warta, Wartawan Senior Beri Materi Jurnalistik

0
462
Foto : warta / Imam Maksum

Puluhan orang duduk di atas kursi saling berhadapan melingkar. Membentuk lingkaran hurup U. Ada wanita dan pria. Jumlahnya ada 30. Inilah proses belajar bersama menyoal teknik penulisan berita.

Kegiatan pelatihan jurnalistik tingkat dasar (PJTD) minggu kedua dilaksanakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) WARTA Institut Agama Islam Negeri Pontianak, Kalimantan Barat. Diskusi ini dilaksanakan di Gedung Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (FUAD) ruang kelas perkulihan J 201. Kegiatan ini juga guna melatih calon wartawan (Cawan) untuk mendalami tentang kepenulisan. Pelatihan ini diikuti oleh 30 Cawan, Sabtu 20 Oktober 2018.

Pimimpin Redaksi Suara Pemred, Muhlis Suhaeri, sebagai pemateri pelatihan. Jurnalis senior itu mengajukan pertanyaan kepada peserta soal motivasi terjun ke dalam dunia pers.

Pria kelahiran Jepara itu menjelaskan pemahaman bagaimana memahami bahasa, teknik menulis yang baik, dan bagaimna melakukan riset yang baik, dalam menulis hal pertama yang harus dilakukan yaitu mendengar dari orang sekitar apa yang sedang terjadi.

“Pentingnya menulis untuk mengabadikan sebuah pristiwa, yang akan dipelajari oleh genarasi yang akan datang. Belajarlah menulis apa yang terjadi di sekitar kita,” tutur lelaki penulis buku Di Balik Novel Tanpa Huruf R.

Ia menjelaskan awal pertama belajar menulis adalah menulis buku harian, menulis sama dengan memberikan informasi supaya orang mengetahuinya suatu kejadian yang dialami.

“Prinsip dasar kebebasan pers, yaitu pers yang idependen, cerdas dan mencerdaskan lingkungan yang berkait tentang pendidikan. Pers hadir dari mahasiswa untuk mahasiswa, dan menulis permasalahan dari mahasiswa, ataupun mengenai isu-isu kampus,” ucapnya.

Kegiatan organisasi dapat membuka wawasan dalam menagani kegiatan-kegiatan yang terjadi. Ilmu dasar didapatkan oleh rapat redaksi, topik apa yang harus di lakukan. Penugasan tema apa yang diliput, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara sesuai dengan topik yang akan dibuat, data yang ada di evaluasi, lalu penulisan, dan terakhir melakukan oleh editor.

“Menulis bukan sekadar mengetik, ada tahapannya, dan menulis harus mengeluarkan pikiran yang jernih, dengan mengguankan panca indra, jika tidak diterapkan maka tidak akan mendapatkan tulisan yang baik”, ujarnya.

Fokus, dalam sebuah tulisan, fokus dalam adegan-adegan, sudut pandang yang akan menjadi apa yang harus kita tulis, etika kita menulis harus membuat pembaca merasakan apa yang kita tulis, dan maksud dari tulisan bisa di ketahui pembaca.

Diakhir pemnyampaian materi dilakukan diskusi bersama perserta mengenai pembuatan berita. “Dengan adanya penerbitan idependen, maka orang memenuhi kebutuhan hidupnya melalui pekerjaan menulis,” tuturnya.

Herman Pelani Sandu panitia kegiatan belajar berharap, apa yang disampaikan oleh pemateri dapat dipraktikan dan bukan sekadar mengikuti kegiatan saja.

“Ini menjadi tolak ukur kita. Bahwa kita di LPM proses belajar bersama itu penting. Ingat, mahasiswa adalah agen perubahan,” kata Herman Pelani Sandu.

Reporter : Napipah Badriyah

Editor : Imam Maksum

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here